Admin WA Yang Kejam

Saya termasuk orang yang paling ngga suka baca spam, scam, hoax, dan sodara-sodaranya yang lain. Saya membuat grup WA Dunia Teknik Sipil (sudah sampai 3 kloter… karena penuh melulu) yang isinya media pembelajaran dan berbagi antara pelaku-pelaku di bidang Teknik Sipil.

Anggota grupnya sangat bervariasi, dari segi usia (mulai dari anak SMU sampai pensiunan), berbagai macam suku bangsa dan agama juga ada di sana. Makanya aturan grup saya bikin sangat ketat biar tujuan grup tercapai. Salah satu aturan yang saya terapkan adalah tidak boleh OOT (Out Of Topic), dengan dan kondisi tertentu.

Jangankan spam atau hoax… OOT aja dilarang 😀 Walaupun itu berita shahih dan 100% bukan Hoax… selama obrolannya di luar jalur, mohon maaf… konsekuensinya keras… langsung di-remove tanpa pemberitahuan.

Awalnya memang terlihat galak bin kejam… tapi alhamdulillah, banyak yang mengapresiasi. Dan lama kelamaan mereka secara “sukarela” menjadi “aparat” yang selalu melapor kalau ada pelanggaran.

“Min,… kick min!!”, begitu kata mereka begitu ada yang melanggar. Dan tanpa ba-bi-bu langsung saya eksekusi. 😀 Memang ngga ada tempat bagi mereka yang berbuat pelanggaran. Kenapa saya terapkan seperti ini? Karena kalau satu berbuat, yang lain pasti ikut. 😀 Dan biar diskusi bisa fokus juga. Ternyata grup juga ngga menjadi sepi, karena setiap ada yang ditendang, selalu aja ada member baru yang masuk.

Suatu saat, ada anggota yang baru masuk… karena belum tau peraturan, dia langsung main share berita ngga penting. Saya waktu itu belum lihat, tapi anggota yang lain sudah teriak-teriak buat eksekusi. Begitu saya mau hajar, si pelaku langsung minta maaf dan ngaku kalo dia anak baru. Dimaafkan 🙂

Ada juga anggota grup yang masuk ke dua grup.. padahal aturannya mereka hanya boleh pilih salah satu biar kasih ruang buat yang lain yang di luar sana biar bisa bergabung. Anggota yang ketahuan jadi agen ganda seperti ini langsung saya remove di salah satu grup.

Karena kebiasaan itulah, saya suka gatal kalo dimasukkan ke grup-grup lain yang ngga dimoderasi dengan baik. Mau keluar juga ngga enak karena menghormati yang ngundang ke sana. Akhirnya yaaa rajin-rajin Clean Chat-lah.

Ada juga kasus begini… ada satu komunitas… misalnya Grup Penggemar Kucing. Karena anggotanya terlalu banyak dan admin kadang mau mendiskusikan hal yang spesifik buat beberapa anggota, akhirnya dibuatlah sub-grup baru… Grup Penggemar Kucing – Jakarta, yang anggotanya adalah bagian dari Grup Penggemar Kucing tadi. Trus.. dibuat lagi grup khusus lain.. Grup Penggemar Kucing BetinaGrup Penggemar Kucing Sakit, dll… yang semua anggotanya merupakan bagian dari grup utama di atas yaitu Grup Penggemar Kucing.

Maksudnya bagus, tapi masalah muncul waktu ada seseorang atau admin yang membagikan sebuah informasi ke SEMUA grup tersebut. Dan… ada orang yang kebetulan (tanpa diminta) menjadi anggota di semua Grup dan Sub-Grup tersebut. Akhirnya begitu informasi tersebut masuk, muncullah secara berurutan semua Grup tersebut di urutan atas timeline WA. 😀 😀

Tiap orang mungkin beda-beda… tapi kalau saya pribadi 😦 kenapa harus di-post ke semua Grup?? Kenapa ngga di Grup utamanya saja? 😦

Advertisements

Trip To Japan 2018 #1 – Membuat Visa

Tahun 2018 dibuka dengan liburan ke Jepang. Ketika anak-anak sekolah sudah mulai masuk, kami baru mau liburan. Perjalanan ke Jepang kali ini ngga seperti perjalanan sebelumnya, karena kami harus mengurus visa terlebih dahulu. Seperti biasa, untuk masalah tiket dan akomodasi sepenuhnya diurus oleh si Umi… saya hanya bantu mengecek lokasi hotelnya, apakah cukup strategis dari sisi transportasi dll. Sementara urusan Visa sepenuhnya saya yang urus.

Dengan bekal informasi dari internet, kami mempersiapkan berkas pengajuan visa pada waktu yang dibilang cukup mepet, dan penuh risiko. Hanya selang beberapa hari sebelum keberangkatan. Artinya, jika permohonan Visa kami ditolak, bisa nangis darah.

Oleh karena itu, waktu mempersiapkan berkas, saya benar-benar cari informasi sedalam-dalamnya, khususnya buat kebutuhan kami.. liburan keluarga.

Referensi utama saya ada di link ini:

http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_7.html

Di situ infonya sudah lengkap mengenai dokumen. Tapi tetap aja butuh penjelasan lebih rinci, akhirnya saya pakai blog ini sebagai referensi tambahan :

http://frenkeyblog.com/cara-syarat-dan-pengalaman-mengurus-visa-jepang/

Walaupun sudah ada perubahan karena info di blog itu ditulis pada tahun 2015, tapi paling ngga penjelasan mengenai dokumen-dokumennya sudah sangat jelas. Yang ngga update hanya proses penyerahan berkasnya.

Nah… dari info yang kami punya, semua berkas bisa diserahkan melalui 2 jalur:

  • Jalur resmi langsung ke Pusat Aplikasi Visa Jepang
  • Lewat agen travel resmi, salah satunya HIS Travel

Kebetuan di dekat wilayah kami (BSD Serpong) ada agen HIS Travel, jadi rencana awalnya kami mau memasukkan berkas Visa lewat sana, tapi ternyata oh ternyata… prosesnya bisa sampai 10 hari kerja… dan itu sudah tidak sempat lagi.

Akhirnya mau ngga mau kami harus mengurus Visa lewat jalur resminya, VFS Global. Ternyata prosesnya ngga terlalu susah.. semua sudah jelas tercantum di websitenya:

http://www.vfsglobal.com/japan/indonesia/

Alhamdulillah, berkas Visa pun lolos sesuai jadwal yang ditentukan.

Saya ngga akan cerita detail, karena sudah banyak informasi di internet yang jauh lebih jelas. Saya hanya ingin kasih catatan-catatan kecil saja yang mungkin ngga akan kepikiran:

  1. Di Itinerary, yang paling penting adalah lokasi nginap/akomodasi, dan nomor teleponnya. Yang tidak mencantumkan nomor telepon, ngga diterima.
  2. Sewaktu mendaftar di website VFS Global, kita akan diberi jadwal hari dan jam berapa kita harus datang ke sana untuk menyerahkan dokumen. Biasanya range waktunya dikasih selang 15 menit. Misalnya, saya dapatnya hari Selasa jam 9.15 – 9.30. VFS hanya akan menerima kalau kita datang jam segitu… kalau kita datang terlalu cepat, tetap disuruh nunggu dulu di luar. Saya datang terlalu lebih dulu sekitar 2 menit, jadi ngga terlalu lama nunggu di luar. Setelah itu baru boleh masuk, ambil nomor antrian di dalam.
  3. Masalah foto. Saya bikin foto pakai kamera smartphone dengan background karton manila warna putih yang ditempel ke tembok, dan ngga masalah… tetap di terima Kalaupun foto kita ditolak, di kantor VFS Global ada ruang khusus foto ulang, saya lupa bayar berapa. Tapi… artinya,… semua anggota harus ikut saat itu juga.
  4. Satu hal yang sempat saya lupa, bayarnya hanya bisa pakai cash, dan waktu itu saya lupa bawa uang tunai. Untungnya kita boleh keluar ke ATM (ngga jauh) dan masuk lagi ke dalam dan loket kita tetap kosong ngga dikasih ke orang lain.
  5. Berkas yang saya bawa ternyata berlebih (buat jaga-jaga)… jadi sampai di loket, si petugas agak kerepotan lagi memilah-milah dokumen mana yang ngga perlu dilampirkan. Misalnya, bukti booking hotel, kalau memang berangkat dan pulangnya selalu sama-sama, cukup 1 saja. Tapi tiket pesawat, masing-masing anggota harus lampirkan.
  6. Visa kami sebenarnya selesai H-1 dari yang dijadwalkan, berdasarkan notifikasi di email, tapi karena kami dapat emailnya sore hari, jadi kami baru bisa ngambil besoknya.

Ini contoh Itenerary kami… dan tentu saja… tidak dilaksanakan sepenuhnya 100%. Hanya formalitas aja.

Seperti apa perjalanan di sana?

(bersambung)

Gara-Gara Facebook Page, Jadi Pengurus Masjid Deh

Berawal dari keisengan membuat facebook page untuk salah satu masjid yang saya tempati buat shalat berjamaah. Bingung aja sih sebenarnya, kenapa kalau bulan Ramadhan, jamaah masjidnya lebih banyak daripada hari-hari biasa ya? 😀

Akhirnya, untuk “memanggil” mereka kembali, saya iseng membuat facebook page Masjid Raudhatul Jannah – tanpa seizin dan sepengetahuan pengurus tentunya. Soalnya saya juga ngga bisa bedain mana pengurus mana jamaah aktif. Hehehe..

Setelah itu, page tersebut saya iklankan di Facebook Ads dengan target warga sekitar masjid, hanya sekedar mengingatkan aja kalau mereka punya masjid di dekat rumah yang hanya mereka kunjungi di bulan Ramadhan. 😀

Hasilnya, lumayan banyak yang like pagenya, tapi jamaah ngga nambah secara signifikan. Yaaa.. memang bukan itu sih tujuan iklan saya. Itu cuma awalnya aja.

Dicatat Namanya

Kejadian berikutnya berhasil mencatat nama saya di dalam daftar “korban” yang mau dimasukkan ke grup WhatsApp Forum SIlaturahmi jamaah masjid. Waktu itu lagi ada Kajian Ba’da Subuh hari Sabtu atau AHad, saya lupa, lagi bahas tafsir Al-Qur’an oleh salah satu ustadz yang memang berilmu.. namanya ustadz KH. Arif Hidayat (saya lupa gelarnya :D). Di kajian itu, saya melontarkan pertanyaan, dan setelah bertanya, saya ditarik oleh salah satu pengurus masjid, nama saya ditanya, dan beliau meminta nomor handphone saya. Besoknya, saya sudah masuk ke dalam grup WhastApp… (!?!?)

Awalnya saya pikir grup itu adalah grup pengurus masjid… jadi saya agak-agak risih juga langsung bergabung dengan orang-orang yang hampir semua ngga saya kenali.

Sesekali saya post link facebook page ke grup itu, walaupun ngga ada respon 😀

Dihubungi Pihak Yang Berwenang

Suatu hari, saya dapat whatsapp dari seseorang yang mengaku pengurus masjid. Beliau mengkonfirmasi kalau facebook page masjid saya yang buat. Dan beliau minta dijadikan admin di facebook page tersebut. Alhamdulillah… ada yang bantuin. Memang sejak dibuat pertama kali, facebook page itu sangat tidak aktif. Setelah ada admin tambahan, beliau pun ikut bantu posting foto-foto dan video rekaman kegiatan masjid. Kebetulan beliau dari divisi Humas.

Ngga lama berselang sejak itu, suatu hari kebetulan berpapasan dengan salah satu pengurus masjid lagi yang lain – yang lebih tinggi posisinya, saya langsung disergap dan diberikan penawaran yang ngga bisa saya tolak, “Pak Iwal jadi pengurus masjid ya? Ikut bantu-bantu divisi Humas”, kata beliau. Dan sejak saat itu saya dimasukkan lagi ke grup khusus pengurus masjid.

Memaksimalkan Potensi

Ternyata setelah masuk lebih dalam lagi, saya baru bisa melihat kalau masjid ini punya potensi untuk bisa lebih baik dari yang ada pada saat itu. Salah satu misi yang saya bawa adalah memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi untuk membantu kegiatan DKM Masjid. Alhamdulillah, pengurus pun menyambut baik dan memberikan ruang dan kepercayaan penuh untuk hal itu. Akhirnya ada sesuatu yang real bisa saya lakukan di jalan Allah, lillahi ta’ala, demi syiar Islam, demi memakmurkan rumah Allah… dan semua berawal dari Facebook Page. Allahu Akbar!!![]

Mengejar Ketertinggalan

Demi masa… tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Yup… hamper sebagian besar manusia jaman now mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama. Ngga usah heran, ini manusiawi, dan memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT kalau waktu itu hanya akan berlalu sesaat saja.

2018 tahun… setelah masehi… udah lama juga ya? Sementara umur rata-rata manusia sekarang 60an.. 70an.. ada yang 80an tahun.. ngga sedikit juga yang kurang dari itu. Kalo kata Ernest Prakasa, usia 30an ini udah “Setengah Jalan” katanya… dan selama periode Setengah Jalan, apa saja yang sudah kita lewati? Hiks…

Tapi… ngga perlu khawatir… kutipan hadits baginda Rasulullah, SAW yang berikut ini sudah sangat sering kita dengar…

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya." (HR. Bukhari no 6607)"

 

Maka dari itu, apa yang perlu dirisaukan adalah, apa yang terhampar di depan (which is kita ngga tau seperti apa masa depan kita) 😀 Jadi, buat jaga-jaga aja – siapa tau sejengkal di depan ternyata sang ajal sudah menunggu, mari kita isi kekosongan yang ada dengan amal-amal baik.. kalo perlu amalan terbaik!

Catatan 2017

Walaupun demikian, saya pribadi ngga bisa lepas begitu saja dari masa yang baru saja berlalu, karena kita juga perlu muhasabah.. introspeksi.. apa yang masih perlu diperbaiki. Salah satu hal yang kayaknya kelihatan ngga penting yang mulai saya tinggalkan akhir-akhir ini adalah kegiatan menulis blog ini 😀 Cukup lama terbengkalai. Maka dari ini, saya berniat mau mengisi kembali halaman-halaman berikut dengan tulisan-tulisan yang bisa memotivasi diri saya sendiri.

Menulis memang bermanfaat bagi saya pribadi. Saya menulis untuk diri saya.

Lha.. kalo gitu kenapa harus di blog? Kenapa harus di publik, gan?

Hehehe… saya cuma coba mengamalkan ayat terakhir dari surah Adh-Dhuha…

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (ceritakan)”

 

#semogabermanfaat

Uji Coba Posting Blog Pakai OneNote®

 

Dulu sih udah pernah nyoba… di awal-awal kemunculan OneNote® tapi hasilnya masih kasar… Mudah-mudahan kali ini banyak improvementnya, terutama dalam hal insert gambar. Soalnya saya merasa kurang lengkap sebuah tulisan kalo ngga ada gambar ilustrasinya… yaaa walaupun gambarnya ngga nyambung dengan isi tulisannya.

😀

Kalau ini sukses, akan saya pakai di DuniaTeknikSipil©

Weits… udah pake logo copyright..

Hidup Tak Seindah Drama Korea

Memangnya drama Korea seindah apa? Open-mouthed smile Saya belum pernah bisa paham keindahan drama Korea… yaa karena memang ngga doyan nonton drama Korea. Namanya juga drama… sandiwara… semuanya palsu bukan? Cuma akting. Jadi.. hidup tidak seindah kepalsuan yang ada di Korea.. (?!?)

Coba deh… kasih satu contoh manusia yang hidupnya paling indah. Smile Ngga ada! Yakin lah. Manusia pertama saja, Nabi Adam a.s. harus mengalami episode terusir dari kenikmatan syurga setelah tergoda bisikan iblis laknatullah. Trus siapa lagi.. Rasulullah SAW? Teladan umat manusia akhir jaman…. dari kacamata manusia, kurang “menderita” apa coba pengalaman hidup beliau semasa awal-awal dakwah? Dihina, diejek, dicerca sana sini, bahkan terancam dibunuh. Itukah hidup “indah”? Siapa yang mau menjalani kehidupan seperti itu?

Oke.. kita cari contoh kekinian… Siapa? Manusia paling kaya? Paling terkenal? Hmm.. siapa ya? Bill Gates misalnya. Hidupnya juga ngga indah-indah amat. Susah lho jadi orang kayak Bill Gates. Seandainya jadi Bill Gates itu gampang, udah jutaan orang yang kayak Bill Gates. Dia tentu juga pernah mengalami episode tercekam di dalam hidupnya. Stress.. pusing.. galau..sedih. Itu yang dialami semua manusia. Belum jadi manusia kalau belum pernah merasakan galau. Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Jadi… hidup indah 100% itu mustahil.

Ngomong-ngomong… bu indah… invoice saya kapan cair ya bu?

 

#galau

Masjid & Makanan Halal di Hong Kong

Kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Indonesia?”, jawabannya susah, dan ngga bisa tepat jawabannya. Tapi kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Hong Kong sekarang?”… gampang…. jawabnya… enam!!.. Dan yang ketujuh masih dalam tahap konstruksi.

Waktu safar pekan lalu, ahamdulillah kami hanya sempat mengunjungi 4 di antara 6 masjid tersebut.

Masjid Kowloon & Islamic Centre.

Ini merupakan masjid terbesar di Hong Kong (untuk saat ini). Kalo ngga salah terdiri dari 3 atau 4 lantai. Dan jika semua lantai dibuka untuk kegiatan sholat, bisa menampung hingga 5000an jamaah. Lokasinya sangat strategis karena berada di tengah kawasan wisata dan salah satu titik pusat perbelanjaan Tim Sha Tsui, wilayah Kowloon. Sebagai informasi, wilayah Kowloon adalah salah satu tujuan wisata di Hong Kong. Mirip-mirip Orchard-nya Singapura lah.

masjid kowloon
Posisi masjid di Nathan Road, tengah-tengah pusat niaga dan belanja
DSC_2589
Salah satu sudut pusat perbelanjaan di Nathan Road, Kowloon

Alhamdulillah, Jumat lalu, kami dikasih kesempatan untuk melakukan sholat Jumat di sana. Ada sedikit pengalaman menarik di sana. Waktu kami menyetel lokasi di gadget kami untuk wilayah Hong Kong, penunjuk waktu sholat ngasih tau kalo waktu Zhuhur adalah sekitar pukul 12.40an. Bergegaslah kami sekitar jam 11 merapat ke masjid, biar masih bisa dapat tempat duduk yang nyaman. Ternyata masih sepi.

Waktu itu saya lihat papan informasi di bagian lobi, katanya Khutbah Jumat dimulai pk 13.10. Wah… masih lama dong.. 2jam lagi. Trus, dari tangga dekat lobi, turunlah seorang jamaah perawakan timur tengah yang ngasih info kalo area yang kami masuki adalah untuk laki-laki, dan area tangga yang satunya (sebelah selatan) untuk wanita, soalnya dia ngelihat istri saya juga ikut masuk ke area laki-laki. 😀

Habis itu, tanpa ditanya, dia langsung ngasih tau kalo di sepanjang jalan di depan masjid (Nathan Road) ke arah selatan, sebelah kiri, bisa banyak ditemui makanan halal. Kebetulan nih.. sambil nunggu waktu Jumat, kami ngisi perut dulu.

Sekitar pk 12.40 kami balik ke masjid…. ternyata sudah mulai rame! Dan sudah terdengar ada yang ceramah. “Khutbahnya udah mulai… yah ketinggalan deh” Abis wudhu, langsung naik ke lantai 3 (lantai utama), cari shaf sebisa mungkin di depan, tapi hanya bisa dapat shaf 6 atau 7. Hampir seluruh jamaah didominasi oleh perawakan India, Pakistan, atau Bangladesh. Tapi… dari “khutbah” yang saya dengar bukan dalam bahasa Urdu, tapi bahasa India dan bahasa Inggris, kesimpulan saya jamaahnya kebanyakan dari India.

Dalam hati saya membatin, “katanya khutbah mulai jam 13.10… kok ini udah mulai.. gimana sih?”

Tiba-tiba begitu jam 13.10, “khutbah” selesai, dan muadzin maju. Tapi bukan iqomah… malah adzan!  Lho…. kok khutbah dulu baru adzan??

Setelah adzan, saya tambah bingung lagi, karena orang-orang pada berdiri… shalat sunnah… 4 rakaat.

Setelah jamaah mulai “reda”, ada orang lain lagi naik ke mimbar, baca ceramah lagi…. Oalaaa… ini khutbah Jumat benerannya. Full bahasa Arab. Singkat, hanya 4-5 menit, pake jeda antara khutbah pertama dan kedua, dan diakhiri dengan doa. Jadi.. yang pertama tadi itu bukan khutbah Jumat, tapi ceramah biasa. Setelah khutbah Jumat yang asli ini selesai, barulah dimulai shalat Jumatnya. 😀

Setelah shalat Jumat, ada kejadian menarik lagi. Habis dzikir dan berdoa, orang-orang ngga bergegas pergi, tapi hampir semua jamaah melakukan shalat sunnat 2 rakaat. Setelah selesai 2 rakaat, mereka berdiri lagi shalat sunnat 2 rakaat. Abis itu… sholat lagi 2 rakaat. Saya kan heran ya? Trus saya nengok ke belakang… satu per satu shaf belakang mulai bubar, tapi shaf di depannya masih shalat sunnat 2 rakaat.

Ternyata, orang-orang di shaf terdepan ngga mau keluar lebih dulu sambil melewati shaf-shaf di belakangnya. Mereka menunggu shaf di belakang bubar duluan. Satu per satu shaf membubarkan diri dimulai dari shaf belakang, sementara shaf-shaf di depannya menunggu sambil mengerjakan shalat sunnat 2 rakaat!! Masya Allah! Mereka ngga mau melangkahi saudara-saudaranya yang sedang duduk maupun yang lagi shalat. Kalo di Indonesia kan, ada celah dikit… kabuurr. 🙂

DSC_2384
Setelah Jumatan, halaman masjid menjadi sangat ramai… Cuman waktu itu saya ngga sempat foto-foto karena si kecil Baihaqi sedang rewel tingkat tinggi, ngantuk.

Hari berikutnya, saya kembali ke masjid ini untuk sholat Maghrib, dilajutkan dengan menonton Symphony of Light (laser show) di semenanjung Kowloon, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari masjid 🙂

DSC_2607
Suasana ba’da Magrib di masjid Kowloon

Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre

Biasa disebut masjid Wan Chai, soalnya lokasinya berada di tengah-tengah kawasan Wan Chai. Kalau Kowloon adalah pusat wisata belanja, Wan Chai ngga jauh beda, tapi di Wan Chai juga banyak pusat-pusat niaga, perkantoran, pemerintahan, sekolah, dll, termasuk stadion olahraga.

DSC_2540

Di Masjid Kownloon, kalau kita mau makan kita harus nyari di sekitar masjid, tapi di Masjid Wan Chai, ada kantin khusus makanan halal di lantai 5. Menunya Chinese Food, dan yang menjadi favorit adalah Dim Sum dan aneka gorengannya.

DSC_2542
Abaikan Bon Cabenya… itu bekal khusus, dibawa langsung dari tanah air 😀

Selama di Hong Kong, kami sampai 3 kali bersantap di sini… soalnya dekat hotel sih… hanya 5 menit jalan kaki.

Kapasitas masjid ini ngga sebesar masjid Kowloon. Mungkin hanya sekitar 1000an jamaah maksimal, kalau semua lantai dimanfaatkan. Lantai 1 adalah lobi, lantai 2 tempat wudhu pria, area bermain anak, sama ruang sekolah atau semacam TPA buat anak-anak. Lantai 3 area masjid buat pria, lantai 4 area masjid wanita, lantai 5 kantin. Setelah itu saya ngga tau lagi 🙂

DSC_2517
Penampakan di dalam Masjid Ammar di Wan Chai

Kalau di masjid Kowloon banyak ras Asia Selatannya, di sini berimbang antara Asia Selatan, Timur Tengah, termasuk Turki. Ras Tiongkok dan Melayu bisa dihitung jari. Itu menurut pengamatan saya selama saya ikut shalat di sana.

+++

Masjid Ibrahim

Ini masjid ketiga yang kami kunjungi. Setelah setengah hari menghabiskan waktu di Museum Science & Art Hong Kong, kami sedikit berkelana untuk mencapai masjid ini. Sebenarnya Masjid Kowloon lebih dekat posisinya dari museum, tapi saya penasaran dan pengen coba di masjid lain.

masjid ibrahim

Ternyata agak di luar dugaan. Saya ngga sempat foto, jadi hanya ngambil dari google. Masjid ini posisinya sedikit berada di “pinggiran” keramaian. Tapi dekat dengan area pemukiman, flat (apartemen). Dan sepertinya di pemukiman ini banyak dihuni oleh warga muslim dari Asia Selatan maupun Timur Tengah. Makanya mereka memanfaatkan sebuah lahan minimalis dengan bangunan seadanya untuk dijadikan tempat ibadah.

Bangunannya sendiri lebih mirip bangunan darurat atau sementara. Walaupun demikian, suasana di dalam sangat sejuk. Waktu kami mampir sholat, di sana sedang ada kegiatan ngaji untuk anak-anak, persis kayak di Indonesia, anak-anak pada berisik, sementara ustadznya sibuk mendengarkan salah satu setoran hapalan Al Qur’an salah satu anak. Surah yang dibacakan bukan dari juz ‘Amma, sepertinya dari salah satu surah di juz 28 atau 29. Saya juga ngga hapal… 😀

2017-04-21_232410
Kawasan hunian di sekitar Masjid Ibrahim

+++

Masjid Jamia (Jamia Mosque)

Masjid ini sedikit unik. Masjid Jamia adalah masjid tertua di Hong Kong. Bangunannya memang sudah monumental, dan selain dipakai beribadah, juga menjadi tujuan wisata serta dimanfaatkan untuk dakwah oleh para imam dan pengurus di sana.

DSC_2726
Masjid Jamia, Hong Kong
DSC_2714
Prasasti pendirian masjid
DSC_2728
Lokasi masjid dikelilingi gedung-gedung tinggi

Sekedar informasi, sebaran penganut keyakinan dan agama di Hong Kong cukup bervariasi. 3 teratas diduduki oleh Buddhisme (kadang dicampur Taoisme dan Konfusianisme), kemudian Kristen (Katolik Roma & Protestan), dan non-agama, baik itu atheisme maupun agnostik. Muslim termasuk minoritas, bareng sama Hindu, Yahudi, Sikh, dll. Salah satu dakwah yang mereka gencarkan di sana adalah dakwah tauhid dan mengenalkan sosok Rasulullah Muhammad s.a.w.

DSC_2724
Salah satu buku yang diterbitkan oleh lembaga dakwah di Hong Kong. Buku ini ditulis dalam berbagai bahasa, dan dibagikan secara gratis. Buku-buku mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Al Ahad) juga banyak.

Sewaktu kami tiba di sana, salah satu imam sedang melayani turis dan memberi penjelasan kepada mereka. Turisnya sepertinya dari wilayah Hong Kong juga, atau daratan Tiongkok dan sekitarnya, soalnya mereka berdisuksi seru pakai bahasa Mandarin (atau bahasa Kanton??) wallahu a’lam.

DSC_2721
Pak Imam (peci putih) sedang memberi penjelasan kepada pengunjung

Setelah shalat, saya jalan-jalan di sekitar masjid. Tempatnya nyaman, teduh, di tengah-tengah kerumunan gedung pencakar langit. Ada beberapa rumah sederhana di sekitar masjid, yang dihuni oleh penjaga dan imam. 2 anak berparas Timur Tengah terlihat bolak-balik dari salah satu rumah menuju ke masjid. Di masjid juga ada air minum gratis. Saya sempatkan mengisi botol kosong di situ. Oiya.. air minum di Hong Kong cukup mahal sodara-sodara. Kalo dirupiahkan, sebotol air minum kemasan 500mL harganya bisa 35-40ribuan. Sakit hati ngga?.. 😀 😀

Alhamdulillah semua masjid di sana menyediakan air minum gratis buat para jamaah dan pengunjungnya, termasuk masjid Kowloon, masjid Wan Chai, dan masjid Ibrahim.

DSC_2740
Pak Imam yang tidak bisa saya sebutkan namanya… karena ngga nanya 😀 Dia buru-buru mau jawab panggilan telpon.
DSC_2745
Di dekat gerbang masjid ada banner pesan tauhid ini. Allahu Akbar

+++

Masjid Yang Lain

Ada 2 masjid lagi yang ngga sempat kami kunjungi. Yang satu Masjid Stanley, di area penjara di bagian selatan. Cukup jauh jaraknya. Satu lagi masjid Cape Collision. Saya sebenarnya penasaran dengan masjid Cape Collision ini karena posisinya berada di atas bukit, terpencil dan dikelilingi pemakaman muslim. Di area situ juga ada pemakaman pahlawan (kayak taman makam pahlawan), rumah kremasi, dan pemakaman Hindu kalo ngga salah. Cuma waktu itu ngga keburu waktunya karena ngejar jadwal shuttle bus ke bandara.

+++

Musholla

Yang namanya Musholla, kalo dalam pengertian kita (orang Indonesia) adalah tempat sholat yang relatif kecil dan merupakan bagian khusus dari sebuah gedung atau bangunan. Padahal secara bahasa musholla itu ya masjid juga… tempat untuk sholat. 😀

Musholla memang susah ditemui di Hong Kong, kecuali di tempat umum yang sangat besar atau tersohor.

Yang pertama, di bandara Internasional Hong Kong. Bandara segede itu, hanya punya 1 ruang musholla kecil, kapasitas kira-kira bisa jamaah sekitar 20an orang lah. Lokasinya ada di Gate 42. Jumlah gate di bandara Hong Kong lebih dari 100 gate, hampir 200. Dan untuk mencapai musholla itu, saya harus naik kereta khusus. Bisa sih jalan, tapi bisa 10 menit jalannya.

DSC_2970
Gede banget ini bandara….. 😦 😦

Yang kedua, di Disneyland Park. Lokasinya ada di belakang restoran halal Explorer Club, tepatnya di Guest Service – Mystic Point Area.. di situ ada Smoking Area, Toilet, ATM, Drinking Fountain, Public Phone, sama yaaa musholla itu… Cuma yang musholla ngga ada papan namanya. 😀 😀

This slideshow requires JavaScript.

+++

Intinya selama berada di Hong Kong beberapa hari kemarin, kami ngga ada masalah dengan menemukan tempat shalat di luar hotel. Memang sudah terencana, dengan batuan internet, google map, dan beberapa aplikasi pembantu seperti rute transportasi di sana.

 

Makanan Halal

Masalah makanan halal juga sedikit bikin “capek” karena relatif agak susah… hanya bisa diperoleh di daerah-daerah tertentu. Fast food ternama memang ada seperti ayam krispi yang terkenal itu (M*D, K*C).. trus ada juga Burger K*ng, Pizza Ex*ress, dll… tapi ngga ada jaminan dan sertifikasi halalnya.

Bahkan kami sempat lewati salah satu “warung” yang pake papan nama tulisan arab. Tadinya mau mampir di sana, ternyata setelah di cek, itu adalah bar ala Lebanon. Tentu saja banyak alkohol bertebaran di dalamnya 😀

Oiya… makanan di Hong Kong harganya mahal-mahal. Ini adalah beberapa tempat makan halal yang sempat kami cicipi. :

  1. Masjid Ammar lantai 5. Harga standar.. ngga mahal kalo ukuran Hong Kong (tapi untuk Indonesia relatif lebih mahal). Banyak pilihan makanan. Dim sum-nya sangat direkomendasikan. Untuk anak-anak, es Milo adalah minuman favorit.
  2. Hung Chinese Restaurant – Halal Food. Lokasinya ada di lantai dasar gedung Chungking Mansions, sekitar 150m dari masjid Kowloon. Enak-enak makanannya… terutama bihun sapi lada hitamnya. Slurp.
  3. Istanbul Kebab, Turkish Diner. Ini yang paling top… pelayanannya keren. Mas-masnya ramaah banget. Makanannya enak. Harga worthed laah.
    Kami juga ngga sengaja ketemu tempat makan ini. Tadinya mau cari Resto Al Maidah di salah satu gedung pertokoan di dekat masjid Kowloon. Eh.. tiba-tiba nyasar ke resto Turki ini. Yaa udahlah.. sama-sama halal. 😀

    DSC_2582
    Waktu mas-masnya bilang “this is the kecap”, saya bingung… kenapa pizza pake kecap?? Ternyata kecap = saos tomat. 😀
  4. Warung Chandra. Iya… namanya Warung Chandra, posisi di samping gedung kantor Konsulat Jenderal Indonesia. Di sekitar situ juga ada Bank Mandiri dan BNI (siapa tau mau tarik tunai). Ada juga resto Indo yang lain, tapi kami ngga sempat ke sana. Di Warung Chandar ini ngga cuma makanan ala Indonesia, tapi snack dan minuman-minuman Indonesia juga dijual di sini… mulai dari susu Ultra, Kratingdaeng, Larutan Penyegar, sampai Kiranti. 😀 😀

    DSC_2769
    Rak jajanan dan minuman di Warung Chandra
  5. Di Disneyland Park ada 2 tempat makanan halal: Explorer’s Club sama Tahitian Resto, tapi waktu kami ke sana Tahitian Resto lagi tutup. Menu di Explorer’s Club ada menu Indonesia, India, sama Chinese Food kalo ga salah.
  6. Popeye’s Fried Chicken di Bandara Internasional Hong Kong. Satu-satunya tempat makan halal di bandara. Lokasinya di food court, ngga jauh dari M*Don*lds.
  7. Makanan paling murah adalah nasi bungkus yang dijual sama seorang wanita Indonesia di “emperan” masjid Kowloon. Menunya macam-macam… ayam balado, nasi uduk, ayam penyet, dll. Di trotoar depan masjid Kowloon juga ada laki-laki yang suka nawarin kebab.

Kapan-kapan lah kalo ada waktu, saya nulis lebih lengkap tentang pengalaman berburu makanan halal di Hong Kong yang lebih lengkap lagi.

Fiuh….

Semoga terhibur 😀

-mohon maaf kalo ada typo-