Uji Coba Posting Blog Pakai OneNote®

 

Dulu sih udah pernah nyoba… di awal-awal kemunculan OneNote® tapi hasilnya masih kasar… Mudah-mudahan kali ini banyak improvementnya, terutama dalam hal insert gambar. Soalnya saya merasa kurang lengkap sebuah tulisan kalo ngga ada gambar ilustrasinya… yaaa walaupun gambarnya ngga nyambung dengan isi tulisannya.

😀

Kalau ini sukses, akan saya pakai di DuniaTeknikSipil©

Weits… udah pake logo copyright..

Advertisements

Hidup Tak Seindah Drama Korea

Memangnya drama Korea seindah apa? Open-mouthed smile Saya belum pernah bisa paham keindahan drama Korea… yaa karena memang ngga doyan nonton drama Korea. Namanya juga drama… sandiwara… semuanya palsu bukan? Cuma akting. Jadi.. hidup tidak seindah kepalsuan yang ada di Korea.. (?!?)

Coba deh… kasih satu contoh manusia yang hidupnya paling indah. Smile Ngga ada! Yakin lah. Manusia pertama saja, Nabi Adam a.s. harus mengalami episode terusir dari kenikmatan syurga setelah tergoda bisikan iblis laknatullah. Trus siapa lagi.. Rasulullah SAW? Teladan umat manusia akhir jaman…. dari kacamata manusia, kurang “menderita” apa coba pengalaman hidup beliau semasa awal-awal dakwah? Dihina, diejek, dicerca sana sini, bahkan terancam dibunuh. Itukah hidup “indah”? Siapa yang mau menjalani kehidupan seperti itu?

Oke.. kita cari contoh kekinian… Siapa? Manusia paling kaya? Paling terkenal? Hmm.. siapa ya? Bill Gates misalnya. Hidupnya juga ngga indah-indah amat. Susah lho jadi orang kayak Bill Gates. Seandainya jadi Bill Gates itu gampang, udah jutaan orang yang kayak Bill Gates. Dia tentu juga pernah mengalami episode tercekam di dalam hidupnya. Stress.. pusing.. galau..sedih. Itu yang dialami semua manusia. Belum jadi manusia kalau belum pernah merasakan galau. Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Jadi… hidup indah 100% itu mustahil.

Ngomong-ngomong… bu indah… invoice saya kapan cair ya bu?

 

#galau

Masjid & Makanan Halal di Hong Kong

Kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Indonesia?”, jawabannya susah, dan ngga bisa tepat jawabannya. Tapi kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Hong Kong sekarang?”… gampang…. jawabnya… enam!!.. Dan yang ketujuh masih dalam tahap konstruksi.

Waktu safar pekan lalu, ahamdulillah kami hanya sempat mengunjungi 4 di antara 6 masjid tersebut.

Masjid Kowloon & Islamic Centre.

Ini merupakan masjid terbesar di Hong Kong (untuk saat ini). Kalo ngga salah terdiri dari 3 atau 4 lantai. Dan jika semua lantai dibuka untuk kegiatan sholat, bisa menampung hingga 5000an jamaah. Lokasinya sangat strategis karena berada di tengah kawasan wisata dan salah satu titik pusat perbelanjaan Tim Sha Tsui, wilayah Kowloon. Sebagai informasi, wilayah Kowloon adalah salah satu tujuan wisata di Hong Kong. Mirip-mirip Orchard-nya Singapura lah.

masjid kowloon
Posisi masjid di Nathan Road, tengah-tengah pusat niaga dan belanja
DSC_2589
Salah satu sudut pusat perbelanjaan di Nathan Road, Kowloon

Alhamdulillah, Jumat lalu, kami dikasih kesempatan untuk melakukan sholat Jumat di sana. Ada sedikit pengalaman menarik di sana. Waktu kami menyetel lokasi di gadget kami untuk wilayah Hong Kong, penunjuk waktu sholat ngasih tau kalo waktu Zhuhur adalah sekitar pukul 12.40an. Bergegaslah kami sekitar jam 11 merapat ke masjid, biar masih bisa dapat tempat duduk yang nyaman. Ternyata masih sepi.

Waktu itu saya lihat papan informasi di bagian lobi, katanya Khutbah Jumat dimulai pk 13.10. Wah… masih lama dong.. 2jam lagi. Trus, dari tangga dekat lobi, turunlah seorang jamaah perawakan timur tengah yang ngasih info kalo area yang kami masuki adalah untuk laki-laki, dan area tangga yang satunya (sebelah selatan) untuk wanita, soalnya dia ngelihat istri saya juga ikut masuk ke area laki-laki. 😀

Habis itu, tanpa ditanya, dia langsung ngasih tau kalo di sepanjang jalan di depan masjid (Nathan Road) ke arah selatan, sebelah kiri, bisa banyak ditemui makanan halal. Kebetulan nih.. sambil nunggu waktu Jumat, kami ngisi perut dulu.

Sekitar pk 12.40 kami balik ke masjid…. ternyata sudah mulai rame! Dan sudah terdengar ada yang ceramah. “Khutbahnya udah mulai… yah ketinggalan deh” Abis wudhu, langsung naik ke lantai 3 (lantai utama), cari shaf sebisa mungkin di depan, tapi hanya bisa dapat shaf 6 atau 7. Hampir seluruh jamaah didominasi oleh perawakan India, Pakistan, atau Bangladesh. Tapi… dari “khutbah” yang saya dengar bukan dalam bahasa Urdu, tapi bahasa India dan bahasa Inggris, kesimpulan saya jamaahnya kebanyakan dari India.

Dalam hati saya membatin, “katanya khutbah mulai jam 13.10… kok ini udah mulai.. gimana sih?”

Tiba-tiba begitu jam 13.10, “khutbah” selesai, dan muadzin maju. Tapi bukan iqomah… malah adzan!  Lho…. kok khutbah dulu baru adzan??

Setelah adzan, saya tambah bingung lagi, karena orang-orang pada berdiri… shalat sunnah… 4 rakaat.

Setelah jamaah mulai “reda”, ada orang lain lagi naik ke mimbar, baca ceramah lagi…. Oalaaa… ini khutbah Jumat benerannya. Full bahasa Arab. Singkat, hanya 4-5 menit, pake jeda antara khutbah pertama dan kedua, dan diakhiri dengan doa. Jadi.. yang pertama tadi itu bukan khutbah Jumat, tapi ceramah biasa. Setelah khutbah Jumat yang asli ini selesai, barulah dimulai shalat Jumatnya. 😀

Setelah shalat Jumat, ada kejadian menarik lagi. Habis dzikir dan berdoa, orang-orang ngga bergegas pergi, tapi hampir semua jamaah melakukan shalat sunnat 2 rakaat. Setelah selesai 2 rakaat, mereka berdiri lagi shalat sunnat 2 rakaat. Abis itu… sholat lagi 2 rakaat. Saya kan heran ya? Trus saya nengok ke belakang… satu per satu shaf belakang mulai bubar, tapi shaf di depannya masih shalat sunnat 2 rakaat.

Ternyata, orang-orang di shaf terdepan ngga mau keluar lebih dulu sambil melewati shaf-shaf di belakangnya. Mereka menunggu shaf di belakang bubar duluan. Satu per satu shaf membubarkan diri dimulai dari shaf belakang, sementara shaf-shaf di depannya menunggu sambil mengerjakan shalat sunnat 2 rakaat!! Masya Allah! Mereka ngga mau melangkahi saudara-saudaranya yang sedang duduk maupun yang lagi shalat. Kalo di Indonesia kan, ada celah dikit… kabuurr. 🙂

DSC_2384
Setelah Jumatan, halaman masjid menjadi sangat ramai… Cuman waktu itu saya ngga sempat foto-foto karena si kecil Baihaqi sedang rewel tingkat tinggi, ngantuk.

Hari berikutnya, saya kembali ke masjid ini untuk sholat Maghrib, dilajutkan dengan menonton Symphony of Light (laser show) di semenanjung Kowloon, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari masjid 🙂

DSC_2607
Suasana ba’da Magrib di masjid Kowloon

Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre

Biasa disebut masjid Wan Chai, soalnya lokasinya berada di tengah-tengah kawasan Wan Chai. Kalau Kowloon adalah pusat wisata belanja, Wan Chai ngga jauh beda, tapi di Wan Chai juga banyak pusat-pusat niaga, perkantoran, pemerintahan, sekolah, dll, termasuk stadion olahraga.

DSC_2540

Di Masjid Kownloon, kalau kita mau makan kita harus nyari di sekitar masjid, tapi di Masjid Wan Chai, ada kantin khusus makanan halal di lantai 5. Menunya Chinese Food, dan yang menjadi favorit adalah Dim Sum dan aneka gorengannya.

DSC_2542
Abaikan Bon Cabenya… itu bekal khusus, dibawa langsung dari tanah air 😀

Selama di Hong Kong, kami sampai 3 kali bersantap di sini… soalnya dekat hotel sih… hanya 5 menit jalan kaki.

Kapasitas masjid ini ngga sebesar masjid Kowloon. Mungkin hanya sekitar 1000an jamaah maksimal, kalau semua lantai dimanfaatkan. Lantai 1 adalah lobi, lantai 2 tempat wudhu pria, area bermain anak, sama ruang sekolah atau semacam TPA buat anak-anak. Lantai 3 area masjid buat pria, lantai 4 area masjid wanita, lantai 5 kantin. Setelah itu saya ngga tau lagi 🙂

DSC_2517
Penampakan di dalam Masjid Ammar di Wan Chai

Kalau di masjid Kowloon banyak ras Asia Selatannya, di sini berimbang antara Asia Selatan, Timur Tengah, termasuk Turki. Ras Tiongkok dan Melayu bisa dihitung jari. Itu menurut pengamatan saya selama saya ikut shalat di sana.

+++

Masjid Ibrahim

Ini masjid ketiga yang kami kunjungi. Setelah setengah hari menghabiskan waktu di Museum Science & Art Hong Kong, kami sedikit berkelana untuk mencapai masjid ini. Sebenarnya Masjid Kowloon lebih dekat posisinya dari museum, tapi saya penasaran dan pengen coba di masjid lain.

masjid ibrahim

Ternyata agak di luar dugaan. Saya ngga sempat foto, jadi hanya ngambil dari google. Masjid ini posisinya sedikit berada di “pinggiran” keramaian. Tapi dekat dengan area pemukiman, flat (apartemen). Dan sepertinya di pemukiman ini banyak dihuni oleh warga muslim dari Asia Selatan maupun Timur Tengah. Makanya mereka memanfaatkan sebuah lahan minimalis dengan bangunan seadanya untuk dijadikan tempat ibadah.

Bangunannya sendiri lebih mirip bangunan darurat atau sementara. Walaupun demikian, suasana di dalam sangat sejuk. Waktu kami mampir sholat, di sana sedang ada kegiatan ngaji untuk anak-anak, persis kayak di Indonesia, anak-anak pada berisik, sementara ustadznya sibuk mendengarkan salah satu setoran hapalan Al Qur’an salah satu anak. Surah yang dibacakan bukan dari juz ‘Amma, sepertinya dari salah satu surah di juz 28 atau 29. Saya juga ngga hapal… 😀

2017-04-21_232410
Kawasan hunian di sekitar Masjid Ibrahim

+++

Masjid Jamia (Jamia Mosque)

Masjid ini sedikit unik. Masjid Jamia adalah masjid tertua di Hong Kong. Bangunannya memang sudah monumental, dan selain dipakai beribadah, juga menjadi tujuan wisata serta dimanfaatkan untuk dakwah oleh para imam dan pengurus di sana.

DSC_2726
Masjid Jamia, Hong Kong
DSC_2714
Prasasti pendirian masjid
DSC_2728
Lokasi masjid dikelilingi gedung-gedung tinggi

Sekedar informasi, sebaran penganut keyakinan dan agama di Hong Kong cukup bervariasi. 3 teratas diduduki oleh Buddhisme (kadang dicampur Taoisme dan Konfusianisme), kemudian Kristen (Katolik Roma & Protestan), dan non-agama, baik itu atheisme maupun agnostik. Muslim termasuk minoritas, bareng sama Hindu, Yahudi, Sikh, dll. Salah satu dakwah yang mereka gencarkan di sana adalah dakwah tauhid dan mengenalkan sosok Rasulullah Muhammad s.a.w.

DSC_2724
Salah satu buku yang diterbitkan oleh lembaga dakwah di Hong Kong. Buku ini ditulis dalam berbagai bahasa, dan dibagikan secara gratis. Buku-buku mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Al Ahad) juga banyak.

Sewaktu kami tiba di sana, salah satu imam sedang melayani turis dan memberi penjelasan kepada mereka. Turisnya sepertinya dari wilayah Hong Kong juga, atau daratan Tiongkok dan sekitarnya, soalnya mereka berdisuksi seru pakai bahasa Mandarin (atau bahasa Kanton??) wallahu a’lam.

DSC_2721
Pak Imam (peci putih) sedang memberi penjelasan kepada pengunjung

Setelah shalat, saya jalan-jalan di sekitar masjid. Tempatnya nyaman, teduh, di tengah-tengah kerumunan gedung pencakar langit. Ada beberapa rumah sederhana di sekitar masjid, yang dihuni oleh penjaga dan imam. 2 anak berparas Timur Tengah terlihat bolak-balik dari salah satu rumah menuju ke masjid. Di masjid juga ada air minum gratis. Saya sempatkan mengisi botol kosong di situ. Oiya.. air minum di Hong Kong cukup mahal sodara-sodara. Kalo dirupiahkan, sebotol air minum kemasan 500mL harganya bisa 35-40ribuan. Sakit hati ngga?.. 😀 😀

Alhamdulillah semua masjid di sana menyediakan air minum gratis buat para jamaah dan pengunjungnya, termasuk masjid Kowloon, masjid Wan Chai, dan masjid Ibrahim.

DSC_2740
Pak Imam yang tidak bisa saya sebutkan namanya… karena ngga nanya 😀 Dia buru-buru mau jawab panggilan telpon.
DSC_2745
Di dekat gerbang masjid ada banner pesan tauhid ini. Allahu Akbar

+++

Masjid Yang Lain

Ada 2 masjid lagi yang ngga sempat kami kunjungi. Yang satu Masjid Stanley, di area penjara di bagian selatan. Cukup jauh jaraknya. Satu lagi masjid Cape Collision. Saya sebenarnya penasaran dengan masjid Cape Collision ini karena posisinya berada di atas bukit, terpencil dan dikelilingi pemakaman muslim. Di area situ juga ada pemakaman pahlawan (kayak taman makam pahlawan), rumah kremasi, dan pemakaman Hindu kalo ngga salah. Cuma waktu itu ngga keburu waktunya karena ngejar jadwal shuttle bus ke bandara.

+++

Musholla

Yang namanya Musholla, kalo dalam pengertian kita (orang Indonesia) adalah tempat sholat yang relatif kecil dan merupakan bagian khusus dari sebuah gedung atau bangunan. Padahal secara bahasa musholla itu ya masjid juga… tempat untuk sholat. 😀

Musholla memang susah ditemui di Hong Kong, kecuali di tempat umum yang sangat besar atau tersohor.

Yang pertama, di bandara Internasional Hong Kong. Bandara segede itu, hanya punya 1 ruang musholla kecil, kapasitas kira-kira bisa jamaah sekitar 20an orang lah. Lokasinya ada di Gate 42. Jumlah gate di bandara Hong Kong lebih dari 100 gate, hampir 200. Dan untuk mencapai musholla itu, saya harus naik kereta khusus. Bisa sih jalan, tapi bisa 10 menit jalannya.

DSC_2970
Gede banget ini bandara….. 😦 😦

Yang kedua, di Disneyland Park. Lokasinya ada di belakang restoran halal Explorer Club, tepatnya di Guest Service – Mystic Point Area.. di situ ada Smoking Area, Toilet, ATM, Drinking Fountain, Public Phone, sama yaaa musholla itu… Cuma yang musholla ngga ada papan namanya. 😀 😀

This slideshow requires JavaScript.

+++

Intinya selama berada di Hong Kong beberapa hari kemarin, kami ngga ada masalah dengan menemukan tempat shalat di luar hotel. Memang sudah terencana, dengan batuan internet, google map, dan beberapa aplikasi pembantu seperti rute transportasi di sana.

 

Makanan Halal

Masalah makanan halal juga sedikit bikin “capek” karena relatif agak susah… hanya bisa diperoleh di daerah-daerah tertentu. Fast food ternama memang ada seperti ayam krispi yang terkenal itu (M*D, K*C).. trus ada juga Burger K*ng, Pizza Ex*ress, dll… tapi ngga ada jaminan dan sertifikasi halalnya.

Bahkan kami sempat lewati salah satu “warung” yang pake papan nama tulisan arab. Tadinya mau mampir di sana, ternyata setelah di cek, itu adalah bar ala Lebanon. Tentu saja banyak alkohol bertebaran di dalamnya 😀

Oiya… makanan di Hong Kong harganya mahal-mahal. Ini adalah beberapa tempat makan halal yang sempat kami cicipi. :

  1. Masjid Ammar lantai 5. Harga standar.. ngga mahal kalo ukuran Hong Kong (tapi untuk Indonesia relatif lebih mahal). Banyak pilihan makanan. Dim sum-nya sangat direkomendasikan. Untuk anak-anak, es Milo adalah minuman favorit.
  2. Hung Chinese Restaurant – Halal Food. Lokasinya ada di lantai dasar gedung Chungking Mansions, sekitar 150m dari masjid Kowloon. Enak-enak makanannya… terutama bihun sapi lada hitamnya. Slurp.
  3. Istanbul Kebab, Turkish Diner. Ini yang paling top… pelayanannya keren. Mas-masnya ramaah banget. Makanannya enak. Harga worthed laah.
    Kami juga ngga sengaja ketemu tempat makan ini. Tadinya mau cari Resto Al Maidah di salah satu gedung pertokoan di dekat masjid Kowloon. Eh.. tiba-tiba nyasar ke resto Turki ini. Yaa udahlah.. sama-sama halal. 😀

    DSC_2582
    Waktu mas-masnya bilang “this is the kecap”, saya bingung… kenapa pizza pake kecap?? Ternyata kecap = saos tomat. 😀
  4. Warung Chandra. Iya… namanya Warung Chandra, posisi di samping gedung kantor Konsulat Jenderal Indonesia. Di sekitar situ juga ada Bank Mandiri dan BNI (siapa tau mau tarik tunai). Ada juga resto Indo yang lain, tapi kami ngga sempat ke sana. Di Warung Chandar ini ngga cuma makanan ala Indonesia, tapi snack dan minuman-minuman Indonesia juga dijual di sini… mulai dari susu Ultra, Kratingdaeng, Larutan Penyegar, sampai Kiranti. 😀 😀

    DSC_2769
    Rak jajanan dan minuman di Warung Chandra
  5. Di Disneyland Park ada 2 tempat makanan halal: Explorer’s Club sama Tahitian Resto, tapi waktu kami ke sana Tahitian Resto lagi tutup. Menu di Explorer’s Club ada menu Indonesia, India, sama Chinese Food kalo ga salah.
  6. Popeye’s Fried Chicken di Bandara Internasional Hong Kong. Satu-satunya tempat makan halal di bandara. Lokasinya di food court, ngga jauh dari M*Don*lds.
  7. Makanan paling murah adalah nasi bungkus yang dijual sama seorang wanita Indonesia di “emperan” masjid Kowloon. Menunya macam-macam… ayam balado, nasi uduk, ayam penyet, dll. Di trotoar depan masjid Kowloon juga ada laki-laki yang suka nawarin kebab.

Kapan-kapan lah kalo ada waktu, saya nulis lebih lengkap tentang pengalaman berburu makanan halal di Hong Kong yang lebih lengkap lagi.

Fiuh….

Semoga terhibur 😀

-mohon maaf kalo ada typo-

Al Khuwarizmi, kok bisa jadi Algoritma?

Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al Khuwarizmi (770-840) menulis kitab Al Jabar Wal Muqolabah (Ringkasan Perhitungan Aljabar & Perbandingan), salah satu masterpiece di sejarah Matematika, dasar ilmu Science & Engineering.

Karyanya menyebar ke dunia barat, Eropa. Masyarakat barat, agak kesulitan menyebutkan nama Al Khuwarizmi, sehingga di beberapa paparan lisan seringkali namanya terdengar sebagai “Algorism”. Ini istilah baru. Sebelumnya, mereka sudah punya istilah lain , Arithmetic (dari kata arithmos, yang berarti bilangan). Arithmatic, kalau diucapkan, bunyinya adalah “Arismetik”. Nah, gara-gara itu, ketika mereka mendengar kata “Algorism” mereka menuliskannya dengan “Algorithm”. Akhiran -ithm dibaca -ism.

Istilah Algorithm inilah yang populer mendunia sampai sekarang dan disadur ke berbagai bahasa lain, misalnya Algoritma pada Bahasa Indonesia.

Istilah Aljabar pun berasal dari kitab tersebut. Al Khawarizmi mendapat julukan Bapak Aljabar, karena dia yang pertama mengajarkan konsep aljabar secara mendasar. Penemuan angka 0 (nol) sangat berperan di sini. Penemu konsep aljabar sebenarnya sudah lama ada. Diphantus dari Yunani waktu memperkenalkan Aritmetika (bilangan) sekitar abad pertama atau kedua, dia sekaligus menyelesaikan beberapa permasalahan aljabar (waktu itu belum ada istilah aljabar). Tapi sejak diperkenalkan kembali oleh Al Khuwarizmi, para matematikawan seperti mendapat pencerahan yang banyak sekali, dan sejak itu ilmu Aljabar berkembang sangat pesat.

Banyak Kitab Al Khuwarizmi yang lain yang disadur dan diterjemahkan oleh beberapa matematikawan Eropa. Dan salah satu versi termasyhur dari terjemahan tersebut ditulis oleh matematikawan Italia bernama Gerard Cremona.

Anak-anak teknik sipil sebagian besar sudah familiar dengan istilah “Metode Cremona” 🙂 Itu adalah salah satu metode penyelesaian analisis struktur rangka dengan menggunakan grafis (geometri). Metode lama, tapi masih tokcer di jaman sekarang. Saya sendiri ngga dapat metode itu di bangku kuliah karena sudah dianggap old-school, tapi di era “computerized-graphics” sekarang rupanya metode itu kembali diangkat. 🙂

Oiya… paragraf terakhir di atas ngga ada hubungannya dengan Al Khawarizmi. Karena Gerard Cremona sebenarnya bukan penemu Metode Cremona. Metode itu ditemukan oleh “Cremona” yang lain. Hehehe… maap yak.

#gagalfokus

Masjid Diary – File 006: Terusik Di Saat Maghrib

Seperti biasa, jamaah perintis Maghrib ini hanya terdiri dari 2 shaf kurang, dan biasanya pada akhir salam jumlahnya bertambah menjadi sekitar 4 shaf lebih. Artinya, yang masbuk memang hampir selalu lebih banyak.

Kali ini saya ikut sebagai “perintis” tapi sengaja mengambil shaf kedua, karena sedang bawa anak kecil. Nah, kejadiannya bermula ketika ada seorang makmum yang mengambil posisi di sebelah kiri saya. Penampilannya lumayan menarik perhatian.

Dia memakai celana panjang training. Walaupun warnanya hitam (gelap) tapi saya masih bisa mendeteksi bahwa bahannya seperti semacam parasut tebal, ditambah dan motif garis memanjang ke bawah di sebelah kiri dan kanannya, ngga ragu lagi, itu celana training olahraga.

Saya menarik pandangan sedikit ke atas… kaos ketat polos berwarna gelap juga. Dan secara sekilas memang hampir menyerupai penampilan seorang Personal Trainer (PT),atau mungkin Trainee?? 😀 Wallahu a’lam. Kalau saja postur tubuhnya ideal, mungkin hipotesis saya 99% akan berkata kalau dia memang seorang olahragawan.

Pikiran itu buyar ketika takbiratul ihram terlantun dengan mantap melalui pengeras suara. Sebuah aba-aba yang tegas yang menandakan bahwa jamaah tidak boleh lagi melakukan aktivitas lahir dan batin selain shalat.

Gerakan demi gerakan berlalu. Lagi-lagi otak saya bekerja menginterpretasi pandangan yang tertangkap oleh sudut sempit mata saya. Gerakan shalat si olahragawan tadi agak sedikit menyita perhatian. Saya berusaha ngga berpikir macam-macam, tapi ketika melihat sesuatu yang beda dari yang “biasanya” dilakukan oleh orang lain, tentu muncul hasrat yang sangat kuat untuk menganalisa. Kenapa gerakannya seperti itu? Kok aneh? Dan berbagai pemikiran lainnya.

Saya ngga bicara tentang gerakan-gerakan khusus yang biasanya dilakukan oleh aliran tertentu. Saya bicara tentang gerakan-gerakan yang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sepertinya belum pernah belajar tentang gerakan shalat, misalnya anak kecil. Ya. Hanya anak kecil yang sering saya lihat melakukan gerakan seperti itu.

Dan, apakah bisa ditebak apa yang dilakukan oleh orang itu setelah selesai salam? Ya. Langsung pergi.

Nah… dalam kondisi seperti ini, batin saya berontak… kadang mau mengomentari, kadang berusaha menahan. “Don’t judge!! Don’t judge!!” itu aja terus yang berusaha saya bisikkan.

Akhirnya akal sehat lah pemenangnya.
“Mungkin orang itu memang baru belajar shalat. Belum ada yang bimbing. Kamu yang sudah belajar sejak kecil, baca buku sana buku sini, belajar langsung dari orang tua, guru, ustadz, dll, ngga pantas lah berpikiran seperti itu. Apalagi dia sudah bisa melangkah ke masjid. Itu susah lho. Kamu aja masih bolong-bolong ke masjidnya.”

Saya pun teringat hadits Rasulullah SAW tentang orang yang terbata-bata membaca (tilawah) AlQur’an, akan memperolah dua pahala. Mungkin sama dengan orang ini, terlihat masih “terbata-bata” melakukan shalat, tapi sesungguhnya dia mendapat pahala yang lebih besar karena usahanya.

Semoga kita selalu terhindar dan berusaha menghindari prasangka-prasangka buruk, walaupun itu terucap di dalam hati.

Berusahalah mengurangi satu aja prasangka buruk hari ini.
#DontJudge
#SpreadSalaam

Malas Baca Jangan Dipelihara

Malas baca, tapi teriak paling lantang, komentar paling heboh. Sesuai kata pepatah “Tong Kosong Nyaring Bunyinya, Kalo Dipukul”

Misalnya:

Ada sebuah pengumuman, apa pun itu, misalnya promo jualan, lowongan kerja, event, dll… yang dipublikasikan di media sosial. Namanya media sosial yaaa bebas dikomentari sama publik dong. Dan kalo kita perhatikan komentarnya, yakin deh… hampir sebagian besar isinya orang-orang yang punya penyakit “Malas Baca”.

“Yang coklat harganya berapa, gan?” Padahal udah jelas di situ.

“Di mana acaranya?”, padahal udah ditulis pake huruf tebal dan kapital semua.

“Lowongan buat saya ada ngga, min?”… meneketehe!! Open-mouthed smile Open-mouthed smile

… sering banget kan, nemu komentar seperti itu?

Atau, tarulah misalnya ada info kurang lengkap, trus ditanya oleh seseorang, trus dijawab sama admin. Trus tiba-tiba ada yang nanya lagi pertanyaan yang sama!

Karpet dah!