Go Green? Less Paper? Serius?

Sudah banyak kantor, sekolah, lembaga pendidikan, dan sejenisnya yang telah menjalankan konsep Go Green, salah satunya dengan program “mengurangi penggunaan kertas” alias “less paper”.

Jujur saja, untuk perusahaan engineering, khususnya konstruksi, program less paper ini memang agak susah diterapkan. Mungkin bisa, tapi menunggu inovasi teknologi yang paling tepat. Orang konstruksi khususnya lapangan butuh sebuah media yang dapat menampilkan gambar dengan ukuran besar, fleksibel, ringan, tahan terhadap cuaca, dan dapat dibawa ke mana-mana, dan saat ini kertaslah satu-satunya media yang paling efektif. Pake tablet? Tablet ukuran 10” mana cukup? Nggak mungkin kan ada tablet seukuran kertas A3, A1, apalagi A0. Portable proyektor? No..belum ada proyektor yang cocok, apalagi untuk kondisi lapangan yang terbuka.

Eniwei,… selain itu, di saat sebagian besar orang mengurangi penggunaan kertas, kita perhatikan sekarang yang namanya “warung kopi” modern sudah menjamur di mana-mana. Orang di kampung saya menyebutnya, “coffee shop” atau “cafe”. Sebagian besar warung-warung tersebut malah menggunakan “gelas kertas”! Ngakunya sih kertas daur ulang. Tapi, kayaknya sih gelas kertas itu menggunakan kertas daur ulang khusus, harus higienis, harus tahan panas. Medaur ulang kertas semacam itu pasti lebih mahal dibandingkan mendaur ulang kertas biasa bukan?

211120121417

Trus, satu lagi… di beberapa supermarket, sudah ada juga program untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, dan diganti dengan kantong kertas, atau kardus (juga dari kertas). What??

Jadi, saya bisa menarik kesimpulan: Kantor-kantor, sekolah, universitas, dll dianjurkan untuk mengurangi penggunaan kertas, agar kertasnya bisa dipake untuk keperluan warung dan lapak…(!?)

One thought on “Go Green? Less Paper? Serius?

  1. Seiring dengan perkembangan teknologi pembuatan kertas, berbagai corak, karakter maupun jenis kertas telah dihasilkan secara pabrikasi. Namun kertas-kertas produk pabrik tersebut cenderung bersifat polos dan stereotip, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan lain yang lebih bersifat seni. Apalagi sebagian kalangan masyarakat, terutama para pecinta lingkungan hidup, mengkhawatirkan dampak lingkungan akibat kebutuhan kayu-kayu hutan untuk bahan baku kertas begitu besar. Berangkat dari kenyataan inilah pemikiran tentang kertas daur ulang mulai muncul.

Silahkan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s