Batik Pilihan Wanita

Hari Jumat… pake batik. Ngomong-ngomong soal batik… beberapa hari/pekan yang lalu, saya ke kantor pake batik, walopun hari itu bukan hari Jumat, tapi lagi pengen pake batik.

***

Hari itu kebetulan saya ada perlu ke ruangan HRD. Kebetulan beda lantai dengan bagian engineering. Nah, di lantai engineering kan di dominasi oleh kaum Adam, sementara di lantai non-engineering, persentase kaum Hawa-nya lebih banyak, termasuk di ruang HRD, yang kebetulan waktu itu ada 2 orang wanita sedang bertengger di dalamnya.

Begitu saya menyerahkan surat (oiya… surat cuti! baru ingat)… Salah satu ibu-ibu mengomentari batik saya.

“Batiknya bagus,” kata ibu tersebut (sebut saja namanya Mawar)…. jelek amat konotasinya ya?

“Terima kasih, bu” jawab saya.

Trus.. ibu-ibu yang satunya lagi nyeletuk…

“Pasti dibeliin istrinya ya…,”

***

Hahaha.. tau aja! Emang sih… hampir semua batik yang saya punya….mmmm tunggu dulu… bukan “hampir semua”, tapi.. SEMUA batik yang saya punya saat ini adalah hasil perburuan istri saya. Motifnya, kalo dilihat dari kacamata laki-laki (khususnya saya) memang absurd. Tapi saya sadar kalo “sense of fashion” saya memang agak payah :DΒ  Jadi, untuk urusan penampilan (terutama pakaian kerja), saya serahkan ke istri saya.

Setelah terbiasa dengan pilihan istri, akhirnya saya jadi terbiasa memperhatikan pakaian orang lain, khususnya laki-laki. Paling tidak bisa dikelompokkan sbb:

1. Pria yang selera fashionnya “cari aman”, karena ga pede bereksperimen dengan pakaian yang ngga standar. Warna yang digunakan warna standar, mainstream, tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian, modelnya juga ikut peraturan dan standar yang berlaku. Biasanya pria seperti ini JARANG menggunakan pakaian pemberian, dan HAMPIR SEMUA pakaian yang dia punya adalah hasil pilihannya sendiri, bukan pilihan orang lain. Dulu saya pernah berada di zona ini.πŸ˜€

2. Pria yang cukup pede karena selera fashionnya tinggi. Kalo anda bekerja di lingkungan yang dominan cowok, misalnya engineering… pria seperti ini termasuk makhluk langka. Tapi, sebaliknya di lingkungan kerja yang lebih sosial, misalnya marketing, advertising, accounting, dll… pria seperti ini mudah ditemukan di setiap sudut ruangan.

3. Pria yang menggantungkan nasib fashionnya kepada orang lain, misalnya istri/saudara/orang tua. Nah, sekarang saya berada di sini. Awalnya agak risih, tapi lama kelamaan ternyata menambah kepercayaan diri juga. Pilihan modelnya juga nggak terlalu ekstrim lah, disesuaikan dengan kondisi. Paling di permainan motif dan warna aja. Bahkan saya pernah dapat komentar dari atasan saya, “Gan… baju kamu kok me-ji-ku-hi-bi-ni-u gitu?”πŸ˜€πŸ˜€ Malah, salah satu kemeja favorit saya saat ini warnanya adalah PINK alias merah muda.πŸ˜€πŸ˜€

4. Pria yang ngga peduli dengan penampilannya. Yang penting ada kain yang melekat di badan, aurat tertutup,… go on! Bersih dan wangi itu pilihan kedua. Masalah matching ato nggak, itu ngga masuk pertimbangan. Toh… kalopun nggak matching paling tidak dia akan menarik perhatian orang.πŸ˜€

(cape deh)

Silahkan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s