Sekilas Tentang Kondisi Lalu Lintas BSD City

Setelah heboh dengan traffic light (TL) BSD Plaza (ex Bundaran BSD) yang justru membuat parah kondisi lalu lintas di sana, ngga etis rasanya kalo cuma bisa protes dan mengkritik tanpa ada saran maupun usulan mengenai solusinya. Saya terpanggil untuk sharing tentang kondisi lalu lintas di sana dari segi engineering (rekayasa). Masalah tata kota memang ngga sekedar faktor teknis, banyak juga aspek non-teknik dan sosial yang terlibat, tapi karena itu bukan bidang saya, jadi saya ngga bisa bicara apa-apa tentang aspek-aspek non-teknis tersebut.

Solusi untuk traffic problem di sepanjang jalan utama BSD – Tangerang sebenarnya  ngga begitu rumit. Ngga serumit kondisi lalu lintas di kota-kota satelit lainnya seperti Depok, Cibubur, dan… yang satu itu… maaf… ngga tega nyebutnya…Bekasi. Serpong especially BSD, bisa dibilang yang paling nyaman kondisi lalinnya. Hehe… ngomong memang enak ya?

Tapi biar sama-sama enak, mari kita bahas pelan-pelan.


Teorinya Dulu

Sebelum masuk ke permasalahan, kita lihat teori dasar dulu tentang traffic engineering. Fungsi jalan adalah mengalirkan kendaraan se-optimal mungkin. Apa parameternya sehingga dikatakan optimal? Kecepatan tinggi kah? Ramai lancar kah? Bebas hambatan kah?

Ada 3 variabel yang menunjukkan kapasitas jalan: kecepatan kendaraan ( v ) , arus kendaraan ( A ), dan kerapatan / kepadatan jalan ( D ).

Hubungan ketiganya bisa dilihat di grafik di bawah.

image image

Vo itu adalah kecepatan optimum yang bisa mengalirkan kendaraan paling banyak dalam selang waktu tertentu. Kondisi realnya ngga akan semulus grafik di atas. Bisa saja kondisi peak-nya ngga simetris.

Atau… kalo mau kita gambarkan kondisinya bisa dibagi 3 sebagai berikut:

1. Kondisi Lengang atau Sepi

image

Sesuai gambar di atas, walaupun kecepatan bisa mencapai maksimal, tapi arusnya kecil. Misalnya, kalo mau pakai angka, kita ambil saja contoh, arus kendaraan di kondisi ini sekitar 200 satuan kendaraan per jam, atau… dalam waktu satu jam ada kurang lebih 200 kendaraan yang melintas. Kalo mau konversi ke menit, berarti sekitar 3-4 kendaraan per menit. Sangat sepi.

Kerapatannya juga rendah, alias renggang, lengang, sepi. Dengan kecepatan rata-rata misalnya 100 km/jam, kerapatannya bisa diperkirakan sekitar 2 kend per km (tinggal bagi aja, 200 kend/jam dibagi 100 km/jam, hasilnya 2 kend/km). Artinya dalam jarak 1 km ruas jalan, hanya diisi oleh rata-rata 2 kendaraan.

2. Kondisi Optimal

image

Pada kondisi ini, arus mencapai maksimal. Kalau istilah lazimnya kita kenal dengan sebutan ramai lancar. Ramai, tapi kendaraan bisa melaju dengan lancar tanpa hambatan. Kecepatan kendaraan pada kondisi inilah yang disebut kecepatan optimal, kita tulis saja Vo. Rata-rata, nilai Vo ini bervariasi untuk tiap-tiap jalan, sesuai dengan jenis dan fungsinya. Untuk jalan kota, angka optimal ada di 60 – 80 km/jam. Jadi, jika anda berkendara di ruas jalan tertentu dengan kecepatan tersebut, bisa jadi itulah kondisi optimalnya. Semakin tinggi kelas jalan, semakin tinggi Vo-nya. Jalan tol misalnya, Vo nya berkisar antara 80-100 km/jam, itu yang sering kita lihat di tepi jalan tol bukan? Smile

Jika ada kendaraan yang kecepatan maksimumnya ngga bisa melampaui Vo, maka kendaraan itu berpotensi menimbulkan antrian di belakangnya. Contohnya truk atau kendaraan yang memang sengaja berjalan lambat padahal kondisi jalan lagi sepi. Ini sering sekali ditemui.

3. Kondisi Macet

image

Jelas pada kondisi ini kecepatan kendaraan ngga bisa tinggi-tinggi. Malah paling parah ya berhenti. Sering kita dengar di beberapa ruas yang mengalami macet, rata-rata pergerakan kendaraan ngga lebih dari 10 km/jam. Walaupun padat atau kerapatannya tinggi, tapi arusnya kecil. Jalan itu hanya bisa melewatkan sedikit kendaraan. Coba lihat grafik warna biru di atas. Semakin tinggi kerapatan, justru arusnya mengecil.


Dari 3 kondisi di atas, kondisi 2 lah yang harus menjadi dominan. Kalau kondisi 1 yang dominan, jalanan itu menjadi mubazir. Tapi untuk future purpose ngga masalah, cuman kalo kelamaan bakal boros di maintenance. Tapi kalau kondisi 3 yang dominan, berarti ada yang salah dengan jalan tersebut. Pada jalan normal, kondisi 3 boleh terjadi tapi hanya pada saat tertentu saja, dan tidak berlangsung lama. Misalnya, pada saat jam awal atau akhir sekolah atau kantor. Tapi kalau terjadi sepanjang hari… itu yang salah.

Macet, sebenarnya adalah kondisi lalu lintas yang ramai, tapi kecepatan kendaraan rendah. Kalau kondisi sepi dan kecepatan rendah, itu ngga bakalan macet. Atau, kondisi lalu lintas ramai, tapi kecepatan bisa tinggi (optimal), itu juga ngga macet. Itulah yang dirusak oleh adanya traffic light di BSD Plaza. Kondisi yang sebelumnya sudah optimal, malah dijadikan macet.

Penyebab macet macam-macam, beberapa di antaranya:

  • Kondisi jalan rusak, sehingga pengguna jalan mengurangi kecepatan kendaraannya
  • Adanya titik konflik, misalnya orang harus pindah lajur karena mau belok atau berputar, jadi kecepatan kendaraan juga berkurang.
  • Badan jalan yang ngga berfungsi karena dipakai untuk parkir, ngetem angkot/ojek, jualan kaki lima, dll, sehingga pengguna jalan harus berpindah lajur atau mengurangi kecepatan.
  • Putaran balik yang terlalu tajam. Putaran balik yang benar adalah yang punya radius minimum tertentu, jadi kendaraan ngga harus berhenti sebelum melakukan putaran balik. Jika memang harus ada putaran balik yang tajam, harus dibuat putaran balik 2 arah dan lebih lebar (dari arah berlawanan juga boleh mutar balik di situ), asalkan intensitasnya sama besar, ngga dominan pada satu arah/sisi saja.

Bagaimana dengan Traffic Light? TL yang baik seharusnya ngga menimbulkan macet atau antrian yang sangat panjang. TL yang baik adalah TL yang begitu hijaunya menyala, dia bisa mengalirkan antrian kendaraan hingga habis. Maksudnya, kendaraan yang terakhir yang menikmati lampu merah (berhenti) harus bisa jalan begitu hijau menyala, jadi dia ngga bakal dapat merah berikutnya.


Sekarang Masuk Ke Masalah

Kita coba bahas satu-satu titik kritis di sepanjang ruas jalan protokol antara BSD (Tol Jakarta-Serpong) sampai Alam Sutera aja deh. Open-mouthed smile Saya akan kasih rating ke masing-masing titik kritis tersebut, mulai dari 1 yang paling ringan (masih bisa ditolerir) sampai skala 5 yang paling parah (paling bikin bete) Open-mouthed smile

Untuk rating 1 dan 2, saya ngga usah sumbang solusi ya Smile.

1. Setelah Gerbang The Green

image

Kalo kita baru saja keluar dari Tol Jakarta – Serpong di exit paling ujung (dekat stasiun Rawa Buntu), trus mengambil arah ke Alam Sutera / Tangerang, ngga jauh di situ kita akan ketemu titik kritis pertama. Setelah gerbang The Green, biasanya sering dijadikan sebagai tempat pemberhentian bis antar kota dan juga angkot tentu saja. Trus di situ ada juga pertemuan dan cabang dari/ke jalan Cilenggang dan jalan kecil yang sejajar jalan utama. Dan terakhir, kurang lebih 500 m di depannya ada putaran balik yang cukup ramai. Untungnya di area kritis ini walopun membuat kita mengurangi kecepatan, tapi jarang menibulkan antrian yang panjang. Angkutan umum tidak terlalu lama ngetem, dan jarak U-Turn juga cukup untuk mengakomodasi pengguna yang mau ke memotong lajur kanan. Masalahnya U-Turn di sini ngga lancar-lancar amat. Harus nunggu sepi dulu baru bisa jalan. Apalagi sebagian besar pengguna U-Turn di situ melanjutkan arahnya ke kiri, belok ke Jl. Griya Loka Raya (arah Pasar Modern).

Secara keseluruhan, walaupun termasuk area kritis yang kompleks, tapi hambatannya masih bisa diterima, karena kendaraan tidak perlu benar-benar berhenti. Lagipula pada kondisi ramai juga area tersebut masih bisa dilintasi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Rating : 1

2. Traffic Light Giant BSD / German Center

image

TL ini cukup terkenal Smile. Arus di semua arah di persimpangan ini memang ramai. Gambar panah merah di atas adalah arus yang relatif ramai dibanding arah yang lain. Lampu lalin memang udah cocok untuk saat ini. Walaupun antriannya panjang-panjang tapi bisa kelar dalam sekali putaran lampu hijau. Kalau kondisi peak hour bisa dapat 2 kali putaran lampu lalin. Walaupun diapit oleh 2 lampu lalin lagi pada jarak yang ngga begitu jauh, tapi antriannya jarang saling mempengaruhi. Kecuali satu ruas yang saya highlight warna oranye di atas. Pada jam sibuk, antrian di TL Giant ekornya bisa sampai ke TL di belakangnya (sebut saja TL Sinarmas Academy Open-mouthed smile). Penggunanya didominasi oleh kendaraan yang mau belok kanan ke arah selatan (tol Jakarta-Serpong), apalagi sejak jalur BSD – Paramount Serpong (Gading Serpong) dibuka, jalur ini termasuk jalur utama dari Gading Serpong menuju ke Tol Jakarta Serpong.

Nah… saya curiga, TL di BSD Plaza (ex. Bundaran BSD) dibuat untuk mengurai kepadatan di sini, dengan membagi arus dari Gading Serpong sehingga terpecah… ada yang ke TL Giant, ada yang ke TL BSD Plaza. Yang lewat TL BSD Plaza, bisa belok kiri ke Jl. Soetopo (Pasar Modern) masuk tol lewat sana. Mungkin itu skenarionya. Tapi… sudah saya bahas di tulisan sebelumnya… itu sama sekali ngga efektif.

Kembali ke TL Giant ini. Karena jarang menimbulkan antrian yang panjang dan lama, saya pribadi masih bisa memaafkan TL ini. Malah bisa dibilang kalo ngga ada TL di sini, bakal lebih rumit jadinya. Di sini sempat dilakukan beberapa rekayasa lalu lintas, seperti memblokir arus dari timur (Eka Hospital) ke barat (The Breeze) dan utara (Tangerang)… tapi pengaruhnya ngga signifikan.

Rating untuk area ini : 2

3. JPO Teras Kota

image

Di mana ada JPO di situ ada apa?… Betul sekali… angkot ngetem. Open-mouthed smile

Untuk arah ke utara (Tangerang / Alam Sutera), ngga ada masalah. Walaupun angkot memang sering berhenti di sini, mereka ngga lama-lama. Jarang terjadi kemacetan di ruas ini. Tapi.. di ruas sebaliknya… cukup kompleks.

Pertama, JPO itu posisinya persis sebelum entrance ke Teras Kota. Angkot yang ngetem di sana agak lama durasinya, dan sering mengganggu kendaraan yang mau masuk ke Teras Kota. Tau sendiri kan penggemar Teras Kota cukup banyak. Yang kedua, ngga jauh setelah itu, ada putaran balik. Banyak kendaraan dari lajur kiri (biasanya dari arah Smartfren / Ocean Park) atau dari Teras Kota itu sendiri yang mau putar balik di situ dan harus memotong lajur. Kalo kondisi lagi rame, kadang antriannya cukup panjang, yang mau mutar balik udah ngga dapat space di lajur kanan, akhirnya yang mau mutar balik terbagi menjadi 2 lajur ke belakang. Soalnya, di putaran balik itu juga harus menunggu kondisi jalan sepi baru bisa bergerak.

Solusinya apa? Yaaa… ini agak-agak “omdo” sih menurut saya.. Tapi… JPO itu.. kenapa ditaruh di situ sih? Coba mundur sedikit, di depan Ruko BIDEX.. itu jalannya lebar, angkot bisa tiduran di situ. Ntar menghalangi jalur keluar masuk ruko?… itu bukan perkara. Ruko itu ngga begitu padat, lagipula ada 2 atau 3 gerbang di ruko itu yang ditutup, ngga dioperasikan. 2 di sisi utara kalo ngga salah (seberang Hotel Gran Zuri), 1 di sisi timur (dekat lahan kosong Ocean Park). Keluar masuk lewat situ kan ngga apa-apa Smile

Untuk area ini, saya kasih rating : 3.

4. Soto Haji Mamat

Langsung aja ratingnya ya… 5! Open-mouthed smile Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Saya ngga usah capture gambarnya juga. Yang jelas penyebabnya cuma satu…. Sotonya terlalu enak!!! Open-mouthed smile Open-mouthed smile Open-mouthed smile Dulu saya termasuk fans-nya, tapi saya selalu ke sana di luar peak hour… Tapi, sejak Hj. Mamat punya saingan, saya ngga ke sana lagi… hehe

Solusi untuk titik ini banyak. Misalnya:

  • Sediakan lahan parkir yang cukup buat pengunjung Soto. Itu tanggung jawab pemilik usaha. Open-mouthed smile
  • Bikin Soto juga yang lebih enak daripada Hj. Mamat, atau lebih unggul dari Hj. Mamat, misalnya ada free wifi, free voucher, atau bikin lebih murah daripada Hj. Mamat. Di dekat The Icon BSD ada tuh… hehehe. Jadi pengunjung Soto H. Mamat bisa berkurang. Hmmm… mustahil kayaknya.
  • Hj. Mamat pindah aja… ke ruko Bidex kan bagus… parkir luas, tempat nyaman, apalagi kalo yang dari berenang di Ocean Park bisa menghangatkan badan di warung Soto… wuih. Masalah sewa.. aah… kan kalo di lokasi yang sekarang ada pengeluaran “khusus” juga buat “bapak-bapak” kita kan? Gedean mana coba? Open-mouthed smile Daripada menzholimi publik. Doa orang yang dizholimi itu makbul. Hehehehe…

5. Depan ITC BSD

image

Di area ini walopun termasuk rumit, tapi anehnya jarang menyebabkan macet maupun antrian yang panjang. Padahal di area ini banyak potensinya, ada putaran balik sebelum BSD Junction, ada zebra cross buat nyebrang pejalan kaki, ada angkot ngetem… lama pula… dan ada sebaran titik konflik pengendara yang mau masuk ke ITC setelah putar balik dari BSD Junction. Kenapa area ini relatif bebas hambatan? Karena lebarnya cukup, dan posisi potensi yang saya sebut di atas ngga tumpang tindih. Jadi, area ini ngga usah diapa-apain.

Rating : 1

6. Putaran Balik Ciater Raya

Kita mundur dulu sebelum lanjut ke BSD Junction. Kalo tadi kita mulai dari exit tol dekat stasiun Rawa Buntu, kali ini kita coba pantau dari exit tol Ciater / Ps. Modern. Nah… beda dengan exit tol Rawa Buntu di mana ada cabang masing-masing untuk ke arah Pamulang/Puspitek dan arah BSD City / Tangerang… di exit tol Ciater, ngga ada pilihan seperti itu. Kita dipaksa belok kiri dulu, lalu yang mau ke arah BSD/Tangerang harus mutar balik di ujung jalan. Sejak ada proyek pelebaran Jl. Ciater, titik ini hampir selalu lumpuh sepanjang hari.

Katanya pelebaran jalan sudah selesai, tapi saya sendiri sudah lama ngga lewat sana, jadi belum bisa banyak komentar tentang area tersebut. Mudah-mudahan saja, memang proyek pelebaran jalan tersebut yang jadi biangnya. Artinya, setelah proyek selesai, arus lalin diharapkan kembali normal, bahkan lebih lancar dari sebelumnya.

Rating : unrated (hihihi..)

7. Pasar Modern BSD

Saya ngga perlu capture juga di sini, karena udah jelas penyebab hambatan di sini ada beberapa. Pertama, putaran balik, kedua.. antrian masuk pasar pada jam sibuk (pagi hari), ketiga… parkir di pinggir jalan. Saya ngga tau legal atau ngga, yang jelas pihak pasar udah baik hati nyediain lahan parkir yang cukup luas namun ternyata masih kurang. Mungkin bisa dibikin gedung parkir di sana… kayak di Depo Bangunan. (ah… Depo Bangunan juga nanggung bikin gedung parkirnya… masih ngga nampung kalo lagi rame).

Harusnya, sebelum bikin gedung parkir, disurvey dulu kebutuhannya. Bisa dilihat dari record parking ticket yang masuk, dikali faktor pembesaran yang parkir di luar area (katakanlah 1.5 s/d 2 kalinya), trus… desain deh gedungnya.. mau 3 tingkat, 4 tingkat… berapa pun harus sesuai kebutuhan. Sini saya desainkan… Open-mouthed smile Open-mouthed smile (yaela… dasar oportunis)

Oiya… Rating untuk Pasar Modern BSD : 2.

Soalnya paling parah juga kendaraan ngga harus berhenti lama.. masih bisa merayap, itupun cuma beberapa meter, habis itu bablas lagi.

8. TL Sanur (Traffic Light Santa Ursula)

Nah… untuk yang bergerak dari selatan ke utara, merdeka lah kalian, karena arah ini selalu bebas tanpa hambatan…. KECUALI… jam sibuk antar jemput sekolah Sanur. Open-mouthed smile Open-mouthed smile Yang parkir di situ bisa makan separo badan jalan. Untungnya ngga bikin kendaraan lain berhenti total.

Sementara di sisi satunya, dari utara ke selatan, harus rela ngantri di TL. Tapi TL ini cukup bersahabat karena durasi hijaunya cukup lama, dan antrian hampir selalu habis dalam sekali putaran. Pada jam sibuk (pagi dan sore), paling sial kita bisa kena 2 putaran lampu merah. Itupun karena kendaraan-kendaraan yang mau mutar balik harus pelan-pelan, sehingga cukup ngaruh ke antrian di belakangnya.

Rating : 2

Walaupun antriannya panjang, tapi terukur dan ngga membuat hambatan yang fatal.

9. Pertigaan Puspita Loka (BSD Autoparts)

Di sini juga bakal ada lampu lalu lintas. Karena katanya… arus yang dari arah Puspita Loka menuju ke Pasar Modern cukup besar, sehingga putaran balik di sana kadang membuat hambatan. Saya ngga banyak mengamati di sini, soalnya kalopun pada saat peak hour, saat arus dari Puspita Loka yang mau mutar balik lagi banyak-banyaknya… kondisi lalin yang mau lurus ke arah taman kota justru ngga begitu rame. Yah… mudah-mudahan aja TL di sini ngga makin memperparah. Tapi yang jelas selama ini ngga pernah ada kemacetan atau antrian yang panjang di sana.

Rating : 1

10. Sekolah Al Azhar

Nah… yang namanya sekolah favorit memang hampir selalu menjadi biang masalah lalin ya Open-mouthed smile Serupa tak sama dengan Sanur, kendaraan jemputan yang parkir ataupun ngantri masuk ke area sekolah, menghabiskan lebih dari separuh lebar jalan. Cuma disisiain seiprit lajur buat kendaraan yang mau lurus. Pasalnya juga, di situ ada putaran balik yang jaraknya cukup dekat dengan tikungan masuk ke sekolah Al-Azhar. Rekor kemacetan yang pernah saya alama gara-gara sekolah ini adalah sampai ke pom bensin sebelah AutoParts (!) Luar biasa.

image

Jarak antara U-Turn dengan tikungan ke Al-Azhar, cuma sekitar 150 meter!

Rating : 3

Solusi: Menurut saya belum perlu, karena sifatnya temporer, masih bisa diterima.

11. BSD Junction.

Langsung rating dulu… 4! Open-mouthed smile Kok cuman 4? Oke… ini analisis saya.

image

Ada 5 pergerakan kendaraan di sisi timur BSD Junction:

1a. Dari utara (Tangerang / Melati Mas) ke arah Pasar Modern. Arah ini hampir ngga ada masalah. Yang suka bikin masalah justru pengguna jalan yang mau belok kiri tapi sebelumnya ngambil lajur paling kanan.

1b. Dari utara (Tangerang / Melati Mas) ke arah German Center. Yang ini tipe perilakunya seperti ini… ada yang awalnya bergerak pake lajur kiri, tapi karena mau  lurus, dia malah menghambat orang yang mau belok kiri. Ada juga yang pake lajur kanan dengan maksud ngga mau menghambat yang mau belok kiri, tapi begitu lewat tikungan, dia telat berpindah lajur ke kiri, sehingga terhambat (dan juga menghambat) yang mau mutar balik.

1c. Dari utara (Tangerang / Melati Mas) yang mau mutar balik di BSD Junction. Yang ini sih seharusnya ngga masalah, cuman kadang terzholimi oleh pengguna jalan yang muncul dari arah Jl. Lt. Soetopo (Ps Modern) yang juga mau mutar balik dan tiba-tiba menyerobot antrian.

2a. Dari timur (Jl. Soetopo) mau ke selatan ke arah German Center. Yang ini ngga masalah juga… melipir di kiri juga kelar. Walopun di depannya ada tempat ngetem angkot, tapi kalo bisa cepat diantisipasi harusnya ngga masalah. Cuman yaa itu, angkotnya memang sudah keterlaluan cara ngetemnya… paralel… ngambil 2 lajur!!. Harusnya ditertibkan juga seperti di seberangnya (di depan ITC BSD).

2b. Dari timur (Jl. Soetopo) mau mutar balik di BSD Junction. Nah… ini yang jadi biang kerok. Ngga dilarang, tapi berpotensi bikin masalah. Ada 2 tipikal pengguna arah ini… ada yang berpindah lajur secara drastis jauh sebelum putaran balik, ada yang berpindah lajur secara bertahap dan masuk ke putaran balik dengan mulus. Harusnya metode yang kedua ini yang dilakukan oleh pengguna arah 2b.

Solusi:

a. Di sepanjang sisi sebelum putaran balik, sebaiknya dipasang separator, agar arus 1c di atas ngga konflik dengan 2b. Toh di putaran balik itu sendiri sangat muat untuk dilewati 2 mobil berjejer sekaligus. Permasalahannya adalah, di sisi itu ada exit BSD Junction Sad smile Jadi.. BSD Junction harus pindahin pintu keluarnya. Smile
image

Nah, kalo ada separator kan arus 1c dan 2b bisa saling berdampingan menuju putaran balik.. ngga perlu saling serobot.

b. Solusi kedua ini solusi favorit saya… dan mungkin sebagian besar warga BSD. Tapi… mahal. Open-mouthed smile Open-mouthed smile Mending mahal tapi fungsional dan bermanfaat.

Apakah itu?… Fly over.

image

Ngga usah lebar-lebar… satu lajur buat mobil plus satu buat motor sekaligus lajur darurat itu sudah cukup. Dan areanya sangat memungkinkan… take off nya dapat… landingnya juga pas, dan ngga nabrak gedung. Kalo ada flyover ini… wuih… BSD Junction imagenya bisa berbalik 180 derajat. Selain nilai estetikanya tinggi, fungsinya juga maksimal.


Masih ada 2 atau 3 titik lagi yang mau saya bahas. Biar ngga kepanjangan, saya tulis di postingan berikutnya saja.

… bersambung…

[semoga.bermanfaat]

One thought on “Sekilas Tentang Kondisi Lalu Lintas BSD City

  1. Wah saya udah keburu nanya macem2 di artikel sebelum ini, ternyata beberapa udah terjawab di artikel ini. Menarik mas

Silahkan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s