Masjid Diary – File 002 : Salaman

Bersalaman setelah shalat, masalah “ngga penting” ini sempat diperdebatkan secara serius di media sosial dan beberapa forum online. Yaela… buang-buang energi. Sampai-sampai muncullah kubu garis keras antara pro dan kontra.

Saya mendukung yang mana? Kalo misalnya gara-gara masalah ini sampe muncul perpecahan di masjid, lebih baik saya ngga ke masjid.

Trus, yang mana yang saya amalkan?

Cerita dulu yak…. Dulu, waktu kecil… saya – jujur – cuma ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan di sebuah masjid. Karena banyak yang salaman setelah shalat, saya pun ikut ritual itu.

Setelah pindah, belajar, dapat ilmu, akhirnya mulai paham kalau bersalaman itu bukan bagian dari shalat, dan bukan bagian dari “hal-hal yang disunnahkan setelah melakukan shalat”. Setelah shalat bukankah kita sangat dianjurkan untuk melakukan dzikir dan do’a?

Ada sebuah kasus, dulu… saya pernah sholat di sebuah musholla, di situ ada satu orang yang sudah sholat duluan. Saya bermakmum kepada orang itu. Setelah dia salam, saya berdiri melengkapi raka’at karena saya tadi masbuk. Setelah saya salam, saya mencoba mencolek dia mengajak bersalaman. Ternyata dia sedang khusyuk berdoa! Glek!… Sumpah… ngga enak banget rasanya.

Dan… kejadian itu pun terulang seolah-olah menjadi karma buat saya. Kali ini giliran saya yang “diganggu” oleh orang yang ingin bersalaman setelah shalat. Tapi posisi saya waktu itu bukan sedang berdoa, tapi masih baca tahiyat! Kebetulan imamnya agak cepat tahiyat akhirnya (atau saya yang kelamaan ya?), jadi saya agak telat mengucapkan salam. Sementara makmum di kiri kanan saya sudah salam, dan langsung menyodorkan tangannya… padahal jelas-jelas posisi saya masih duduk tahiyat akhir dengan telunjuk masih terjulur ke depan.😀

Jadi… yaaa gitu deh. Sampai sekarang, sikap saya adalah… setelah shalat langsung dzikir, sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kalopun ada yang minta bersalaman, tentulah ngga ditolak. Cuman… memang saya pernah dengar/baca, ada orang yang terang-terangan menolak bersalaman setelah shalat. Wallahu a’lam… no comment-lah untuk kasus yang ini🙂 Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.

Justru saya punya waktu khusus untuk bersalaman lebih leluasa, misalnya… pada saat berpapasan masuk masjid, pada saat berdiri merapatkan shaf, pada saat selesai dzikir/doa/shalat sunat dan berpapasan dengan jamaah lain, dan masih banyak waktu lain di luar shalat dimana kita bisa bersalaman justru dengan  lebih ikhlas, lebih bebas saling lempar senyum, dan saling bertanya kabar. Ngga mungkin kan kita melakukan itu pada saat bersalaman setelah shalat? Hehe🙂

Wallahu a’lam.

Silahkan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s