Al Khuwarizmi, kok bisa jadi Algoritma?

Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al Khuwarizmi (770-840) menulis kitab Al Jabar Wal Muqolabah (Ringkasan Perhitungan Aljabar & Perbandingan), salah satu masterpiece di sejarah Matematika, dasar ilmu Science & Engineering.

Karyanya menyebar ke dunia barat, Eropa. Masyarakat barat, agak kesulitan menyebutkan nama Al Khuwarizmi, sehingga di beberapa paparan lisan seringkali namanya terdengar sebagai “Algorism”. Ini istilah baru. Sebelumnya, mereka sudah punya istilah lain , Arithmetic (dari kata arithmos, yang berarti bilangan). Arithmatic, kalau diucapkan, bunyinya adalah “Arismetik”. Nah, gara-gara itu, ketika mereka mendengar kata “Algorism” mereka menuliskannya dengan “Algorithm”. Akhiran -ithm dibaca -ism.

Istilah Algorithm inilah yang populer mendunia sampai sekarang dan disadur ke berbagai bahasa lain, misalnya Algoritma pada Bahasa Indonesia.

Istilah Aljabar pun berasal dari kitab tersebut. Al Khawarizmi mendapat julukan Bapak Aljabar, karena dia yang pertama mengajarkan konsep aljabar secara mendasar. Penemuan angka 0 (nol) sangat berperan di sini. Penemu konsep aljabar sebenarnya sudah lama ada. Diphantus dari Yunani waktu memperkenalkan Aritmetika (bilangan) sekitar abad pertama atau kedua, dia sekaligus menyelesaikan beberapa permasalahan aljabar (waktu itu belum ada istilah aljabar). Tapi sejak diperkenalkan kembali oleh Al Khuwarizmi, para matematikawan seperti mendapat pencerahan yang banyak sekali, dan sejak itu ilmu Aljabar berkembang sangat pesat.

Banyak Kitab Al Khuwarizmi yang lain yang disadur dan diterjemahkan oleh beberapa matematikawan Eropa. Dan salah satu versi termasyhur dari terjemahan tersebut ditulis oleh matematikawan Italia bernama Gerard Cremona.

Anak-anak teknik sipil sebagian besar sudah familiar dengan istilah “Metode Cremona”🙂 Itu adalah salah satu metode penyelesaian analisis struktur rangka dengan menggunakan grafis (geometri). Metode lama, tapi masih tokcer di jaman sekarang. Saya sendiri ngga dapat metode itu di bangku kuliah karena sudah dianggap old-school, tapi di era “computerized-graphics” sekarang rupanya metode itu kembali diangkat.🙂

Oiya… paragraf terakhir di atas ngga ada hubungannya dengan Al Khawarizmi. Karena Gerard Cremona sebenarnya bukan penemu Metode Cremona. Metode itu ditemukan oleh “Cremona” yang lain. Hehehe… maap yak.

#gagalfokus

Silahkan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s