Trip To Japan 2018 #1 – Membuat Visa

Tahun 2018 dibuka dengan liburan ke Jepang. Ketika anak-anak sekolah sudah mulai masuk, kami baru mau liburan. Perjalanan ke Jepang kali ini ngga seperti perjalanan sebelumnya, karena kami harus mengurus visa terlebih dahulu. Seperti biasa, untuk masalah tiket dan akomodasi sepenuhnya diurus oleh si Umi… saya hanya bantu mengecek lokasi hotelnya, apakah cukup strategis dari sisi transportasi dll. Sementara urusan Visa sepenuhnya saya yang urus.

Dengan bekal informasi dari internet, kami mempersiapkan berkas pengajuan visa pada waktu yang dibilang cukup mepet, dan penuh risiko. Hanya selang beberapa hari sebelum keberangkatan. Artinya, jika permohonan Visa kami ditolak, bisa nangis darah.

Oleh karena itu, waktu mempersiapkan berkas, saya benar-benar cari informasi sedalam-dalamnya, khususnya buat kebutuhan kami.. liburan keluarga.

Referensi utama saya ada di link ini:

http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_7.html

Di situ infonya sudah lengkap mengenai dokumen. Tapi tetap aja butuh penjelasan lebih rinci, akhirnya saya pakai blog ini sebagai referensi tambahan :

http://frenkeyblog.com/cara-syarat-dan-pengalaman-mengurus-visa-jepang/

Walaupun sudah ada perubahan karena info di blog itu ditulis pada tahun 2015, tapi paling ngga penjelasan mengenai dokumen-dokumennya sudah sangat jelas. Yang ngga update hanya proses penyerahan berkasnya.

Nah… dari info yang kami punya, semua berkas bisa diserahkan melalui 2 jalur:

  • Jalur resmi langsung ke Pusat Aplikasi Visa Jepang
  • Lewat agen travel resmi, salah satunya HIS Travel

Kebetuan di dekat wilayah kami (BSD Serpong) ada agen HIS Travel, jadi rencana awalnya kami mau memasukkan berkas Visa lewat sana, tapi ternyata oh ternyata… prosesnya bisa sampai 10 hari kerja… dan itu sudah tidak sempat lagi.

Akhirnya mau ngga mau kami harus mengurus Visa lewat jalur resminya, VFS Global. Ternyata prosesnya ngga terlalu susah.. semua sudah jelas tercantum di websitenya:

http://www.vfsglobal.com/japan/indonesia/

Alhamdulillah, berkas Visa pun lolos sesuai jadwal yang ditentukan.

Saya ngga akan cerita detail, karena sudah banyak informasi di internet yang jauh lebih jelas. Saya hanya ingin kasih catatan-catatan kecil saja yang mungkin ngga akan kepikiran:

  1. Di Itinerary, yang paling penting adalah lokasi nginap/akomodasi, dan nomor teleponnya. Yang tidak mencantumkan nomor telepon, ngga diterima.
  2. Sewaktu mendaftar di website VFS Global, kita akan diberi jadwal hari dan jam berapa kita harus datang ke sana untuk menyerahkan dokumen. Biasanya range waktunya dikasih selang 15 menit. Misalnya, saya dapatnya hari Selasa jam 9.15 – 9.30. VFS hanya akan menerima kalau kita datang jam segitu… kalau kita datang terlalu cepat, tetap disuruh nunggu dulu di luar. Saya datang terlalu lebih dulu sekitar 2 menit, jadi ngga terlalu lama nunggu di luar. Setelah itu baru boleh masuk, ambil nomor antrian di dalam.
  3. Masalah foto. Saya bikin foto pakai kamera smartphone dengan background karton manila warna putih yang ditempel ke tembok, dan ngga masalah… tetap di terima Kalaupun foto kita ditolak, di kantor VFS Global ada ruang khusus foto ulang, saya lupa bayar berapa. Tapi… artinya,… semua anggota harus ikut saat itu juga.
  4. Satu hal yang sempat saya lupa, bayarnya hanya bisa pakai cash, dan waktu itu saya lupa bawa uang tunai. Untungnya kita boleh keluar ke ATM (ngga jauh) dan masuk lagi ke dalam dan loket kita tetap kosong ngga dikasih ke orang lain.
  5. Berkas yang saya bawa ternyata berlebih (buat jaga-jaga)… jadi sampai di loket, si petugas agak kerepotan lagi memilah-milah dokumen mana yang ngga perlu dilampirkan. Misalnya, bukti booking hotel, kalau memang berangkat dan pulangnya selalu sama-sama, cukup 1 saja. Tapi tiket pesawat, masing-masing anggota harus lampirkan.
  6. Visa kami sebenarnya selesai H-1 dari yang dijadwalkan, berdasarkan notifikasi di email, tapi karena kami dapat emailnya sore hari, jadi kami baru bisa ngambil besoknya.

Ini contoh Itenerary kami… dan tentu saja… tidak dilaksanakan sepenuhnya 100%. Hanya formalitas aja.

Seperti apa perjalanan di sana?

(bersambung)

Advertisements

Gara-Gara Facebook Page, Jadi Pengurus Masjid Deh

Berawal dari keisengan membuat facebook page untuk salah satu masjid yang saya tempati buat shalat berjamaah. Bingung aja sih sebenarnya, kenapa kalau bulan Ramadhan, jamaah masjidnya lebih banyak daripada hari-hari biasa ya? 😀

Akhirnya, untuk “memanggil” mereka kembali, saya iseng membuat facebook page Masjid Raudhatul Jannah – tanpa seizin dan sepengetahuan pengurus tentunya. Soalnya saya juga ngga bisa bedain mana pengurus mana jamaah aktif. Hehehe..

Setelah itu, page tersebut saya iklankan di Facebook Ads dengan target warga sekitar masjid, hanya sekedar mengingatkan aja kalau mereka punya masjid di dekat rumah yang hanya mereka kunjungi di bulan Ramadhan. 😀

Hasilnya, lumayan banyak yang like pagenya, tapi jamaah ngga nambah secara signifikan. Yaaa.. memang bukan itu sih tujuan iklan saya. Itu cuma awalnya aja.

Dicatat Namanya

Kejadian berikutnya berhasil mencatat nama saya di dalam daftar “korban” yang mau dimasukkan ke grup WhatsApp Forum SIlaturahmi jamaah masjid. Waktu itu lagi ada Kajian Ba’da Subuh hari Sabtu atau AHad, saya lupa, lagi bahas tafsir Al-Qur’an oleh salah satu ustadz yang memang berilmu.. namanya ustadz KH. Arif Hidayat (saya lupa gelarnya :D). Di kajian itu, saya melontarkan pertanyaan, dan setelah bertanya, saya ditarik oleh salah satu pengurus masjid, nama saya ditanya, dan beliau meminta nomor handphone saya. Besoknya, saya sudah masuk ke dalam grup WhastApp… (!?!?)

Awalnya saya pikir grup itu adalah grup pengurus masjid… jadi saya agak-agak risih juga langsung bergabung dengan orang-orang yang hampir semua ngga saya kenali.

Sesekali saya post link facebook page ke grup itu, walaupun ngga ada respon 😀

Dihubungi Pihak Yang Berwenang

Suatu hari, saya dapat whatsapp dari seseorang yang mengaku pengurus masjid. Beliau mengkonfirmasi kalau facebook page masjid saya yang buat. Dan beliau minta dijadikan admin di facebook page tersebut. Alhamdulillah… ada yang bantuin. Memang sejak dibuat pertama kali, facebook page itu sangat tidak aktif. Setelah ada admin tambahan, beliau pun ikut bantu posting foto-foto dan video rekaman kegiatan masjid. Kebetulan beliau dari divisi Humas.

Ngga lama berselang sejak itu, suatu hari kebetulan berpapasan dengan salah satu pengurus masjid lagi yang lain – yang lebih tinggi posisinya, saya langsung disergap dan diberikan penawaran yang ngga bisa saya tolak, “Pak Iwal jadi pengurus masjid ya? Ikut bantu-bantu divisi Humas”, kata beliau. Dan sejak saat itu saya dimasukkan lagi ke grup khusus pengurus masjid.

Memaksimalkan Potensi

Ternyata setelah masuk lebih dalam lagi, saya baru bisa melihat kalau masjid ini punya potensi untuk bisa lebih baik dari yang ada pada saat itu. Salah satu misi yang saya bawa adalah memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi untuk membantu kegiatan DKM Masjid. Alhamdulillah, pengurus pun menyambut baik dan memberikan ruang dan kepercayaan penuh untuk hal itu. Akhirnya ada sesuatu yang real bisa saya lakukan di jalan Allah, lillahi ta’ala, demi syiar Islam, demi memakmurkan rumah Allah… dan semua berawal dari Facebook Page. Allahu Akbar!!![]

Mengejar Ketertinggalan

Demi masa… tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Yup… hamper sebagian besar manusia jaman now mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama. Ngga usah heran, ini manusiawi, dan memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT kalau waktu itu hanya akan berlalu sesaat saja.

2018 tahun… setelah masehi… udah lama juga ya? Sementara umur rata-rata manusia sekarang 60an.. 70an.. ada yang 80an tahun.. ngga sedikit juga yang kurang dari itu. Kalo kata Ernest Prakasa, usia 30an ini udah “Setengah Jalan” katanya… dan selama periode Setengah Jalan, apa saja yang sudah kita lewati? Hiks…

Tapi… ngga perlu khawatir… kutipan hadits baginda Rasulullah, SAW yang berikut ini sudah sangat sering kita dengar…

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya." (HR. Bukhari no 6607)"

 

Maka dari itu, apa yang perlu dirisaukan adalah, apa yang terhampar di depan (which is kita ngga tau seperti apa masa depan kita) 😀 Jadi, buat jaga-jaga aja – siapa tau sejengkal di depan ternyata sang ajal sudah menunggu, mari kita isi kekosongan yang ada dengan amal-amal baik.. kalo perlu amalan terbaik!

Catatan 2017

Walaupun demikian, saya pribadi ngga bisa lepas begitu saja dari masa yang baru saja berlalu, karena kita juga perlu muhasabah.. introspeksi.. apa yang masih perlu diperbaiki. Salah satu hal yang kayaknya kelihatan ngga penting yang mulai saya tinggalkan akhir-akhir ini adalah kegiatan menulis blog ini 😀 Cukup lama terbengkalai. Maka dari ini, saya berniat mau mengisi kembali halaman-halaman berikut dengan tulisan-tulisan yang bisa memotivasi diri saya sendiri.

Menulis memang bermanfaat bagi saya pribadi. Saya menulis untuk diri saya.

Lha.. kalo gitu kenapa harus di blog? Kenapa harus di publik, gan?

Hehehe… saya cuma coba mengamalkan ayat terakhir dari surah Adh-Dhuha…

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (ceritakan)”

 

#semogabermanfaat