Andi Andre Mappakaya Asaad – Kumpulan Testimoni

Jumat malam, 3 Agustus 2018, seorang sahabat yang begitu spesial di hati kami lebih dulu meninggalkan kami setelah berjuang menahan sakit yang dideritanya.

Mayor Penerbang H. Andi Andre Mappakaya Cecep Lantara, demikian nama lengkapnya yang tertera di puluhan rangkaian bunga ungkapan belasungkawa yang terpampang di depan rumah duka pada hari wafatnya. Sementara nama yang saya tuliskan pada judul di atas adalah nama lengkap (resmi) yang dia pakai semasa studi sejak SMP (atau SD?) sampai lulus Akmil TNI AU.

Begitu banyak panggilan dan sapaan kepada dia. Dari kalangan kerabat dan beberapa orang tertentu memanggilnya dengan sebutan Pung/Puang atau Ndi’, menunjukkan suatu kelas tersendiri di dalam masyarakat tertentu. Panggilan formal, “pak” juga sering kami dengar dari beberapa kerabat lainnya. Belum lagi ditambah panggilan akrab dan semi-formal yang bermacam-macam,… mulai dari panggilan nama langsung – Andre, bro, ces, kak/kanda, dik/dinda, abang, akhi, ndan (komandan), bahkan akhir-akhir kami mengenalnya ada yang memanggil beliau “pak ustadz”.. tentu bukan dalam konteks bercanda, dan ada alasan tertentu mengapa mereka memanggilnya dengan sebutan itu.

Dia bukan publik figur, tapi saya yakin semua orang yang ada di daftar contact-listnya punya satu persepsi yang sama, punya satu testimoni yang sama, punya satu kesan yang sama, bahwa dia adalah seorang yang SANGAT-SANGAT LUAR BIASA baiknya. Saya tidak akan mendeskripsikan apa maksud kata “baik” di sini. Biarlah tulisan ini yang akan menguraikannya dengan sendirinya.

Andi Andre Mappakaya Asaad – Sebuah Testimoni ini hanyalah sebuah tulisan singkat yang sifatnya subyektif. Apa yang tertulis di sini hanya mewakili perasaan dan argumen saya pribadi, terkesan selfish, dan mungkin sesekali out-of-topic. Yah… namanya juga curhat. Jika ada kisah atau peristiwa yang saya dengar dari pihak ketiga, saya akan tuliskan apa adanya sesuai dengan yang saya dengar, tanpa meneliti lebih jauh lagi tentang peristiwa tersebut. Tulisan ini saya buat apa adanya, dengan gaya bahasa yang sangat tidak memenuhi kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kadang diksinya begitu formal, kadang slenge’an, tergantung mood saya yang memang lagi dinamis. Maklum, saya bukan penulis.

 

Orang Pertama

Pertemuan pertama saya dengan Andre terjadi di hari pertama kami masuk SMU Negeri 17 Makassar. Hari pertama masa pra-orientasi sekolah. Jaman itu (tahun 1996), belum ada Masa Orientasi Siswa, tapi kami diwajibkan mengikuti sesuatu yang namanya lebih menyeramkan… Program Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Biasa… program unggulan pemerintah di jaman itu.

Biasanya, siswa baru di sebuah SMU akan mencari temannya yang berasal dari SMP yang sama. Kebetulan teman SMP saya yang masuk ke SMU 17 itu bisa dihitung jari.. kurang dari 10 orang, dan itupun hanya 1-2 orang yang aktif berteman dengan saya. Di pagi itu belum tampak tanda-tanda keberadaan satu pun mereka.

Karena datang terlalu pagi, saya memilih untuk duduk di salah satu pojok selasar gedung yang paling besar di situ… sendiri. Dari situ saya bisa melihat jalan masuk dan bisa memonitor siapa saja yang baru datang memasuki wilayah sekolah. Jadi, kalau ada seseorang yang saya kenal, saya bisa langsung menghampirinya.

Gambar 1. Di selasar gedung ini tempat Andre pertama kali menghampiri saya

Tanpa diduga ada seorang anak dari arah samping, berperawakan agak kurus, putih, lebih tinggi dari saya, tiba-tiba langsung ikutan duduk di samping saya. Tanpa banyak basa-basi, anak itu langsung menyapa saya dan bertanya,

“Dari SMP mana ki’?”, tanya anak itu.

“Dari SMP 3…”, jawab saya canggung. Saya adalah tipe anak pemalu, pendiam, dan suka grogi kalau baru berkenalan dengan orang baru.

Kita’
iya’?”, saya bertanya sekedar basa-basi.

“SMP 5. Siapa namata’?”, tanya dia kemudian.

“Iwal..”, saya memilih untuk tidak bertanya balik.

Malah dia yang menyebutkan namanya…

“Andre…”

Dari situlah baru saya perhatikan jelas, ternyata dia memakai kawat gigi. !

Saya pikir hanya saya yang ingat peristiwa itu. Ternyata Andre pun ingat. Malah dia lebih ingat ekspresi saya yang super grogi plus malu-malu setiap menjawab pertanyaannya. Dan itu sering dijadikan bahan dia untuk dijadikan candaan buat saya..

Calon Pemimpin

Andre termasuk siswa yang populer di sekolah kami.. ada beberapa faktor yang membuatnya seperti itu, dan faktor yang paling utama adalah tentu saja paras wajah dan postur tubuhnya… menjadi pehatian banyak siswi. Dia aktif di organisasi sekolah dan beberapa ekskul. Paskib dan basket adalah dua kegiatan yang menjadi andalannya. Sementara itu di luar sekolah, dia senang bermusik dan main PS (Play Station) rame-rame… dua kegiatan terakhir inilah yang paling membawa kesan dan dengan sendirinya membangun solidaritas bagi kami. Dia sangat sering mengajak kami bermain di rumahnya, sekaligus berkenalan dengan saudara-saudaranya dan orang tuanya. Kalau kita perhatikan dia memang seperti itu. Senang berkenalan dengan orang, dan senang memperkenalkan antar kenalannya yang belum saling kenal.

 

Ada satu karakteristik dari Andre yang sudah terlihat sangat kuat pada pribadi Andre, yaitu kemampuannya me-manage rekan-rekannya, dan itu sering dia terapkan pada saat mengerjakan tugas/PR dan saat ujian kelas . Untuk PR, dia tau harus mendekati siapa untuk mengerjakan tugas tertentu. Sementara ketika ujian, dia bisa mengatur siapa saja yang duduk di sekitar dia pada saat ujian berlangsung. Ya… bekerja sama pada saat ujian sudah menjadi bagian dari kebersamaan kami. Kami sadar itu melanggar aturan, tapi solidaritas yang sudah terbentuk ternyata mengalahkan ego kami masing-masing. Bahkan sang juara kelas pun menjadi “korban”nya – terkonsolidasi sempurna ke dalam sistem.

Satu quote yang sangat membekas di hati kami – sampir semua siswa yang seangkatan dia – adalah kalimat sederhana dalam logat Makassar, “Ajar dulue..” atau “Ajar dulu, ces” (yang artinya kurang lebih “Ajarin dong, bro”). Padahal sebenarnya dia tidak berniat untuk diajarin, hanya sekedar celetukan khas dari dia.

 

Kutipan chat di bawah ini terjadi sewaktu Andre sedang melanjutkan studi Sekolah Staf dan Komando di Arab Saudi.. sekitar Januari 2017. KamiWaktu itu kami lagi diskusiberdiskusi tentang Yayasan, dan di tengah diskusi dia pamit karena mau ujian. Silahkan dibaca endingnya.. 😀

 

Bahkan, di akhir-akhir hidupnya, sewaktu kami menjenguknya, celetukan itu masih saja sesekali terlontar dari mulutnya.

Balik ke masa SMU, sewaktu di kelas 3 dia sudah memantapkan pilihannya untuk melanjutkan studi di kemiliteran. Masih teringat dengan jelas hampir setiap hari dia mendatangi saya untuk diajari cara menggambar. Ini terkait dengan soal psikotes tentang gambar, bagaimana melanjutkan sebuah gambar dari potongan-potongan garis tertentu. Atau, menggambar sebuah obyek yang lengkap.

Saya masih ingat ada 2 gambar yang dia minta diajari dan sering dia latih, gambar orang, dan gambar pohon. Mungkin… di antara semua interaksi yang pernah kami lakukan di masa sekolah, ini adalah interaksi dari dia yang paling serius. Dia benar-benar punya tekad yang bulat, gigih, dan fokus sama tujuannya. Makanya begitu mendengar berita kelulusan dia di Akademi Angkatan Udara, saya cuma bergumam, “you deserve it,
ces. We’re so proud of you…


Menjaga Silaturahmi

Selepas SMU, kami semua terpencar. Sebagian besar masih menetap di Makassar. Saya sendiri terdampar ke Bandung bersama segerombolan yang lain, dan Andre ke Magelang – Yogyakarta. Di tahun 1999-2000an, telepon seluler belum begitu booming. Jangankan komunikasi harian, mingguan bahkan bulanan pun sulit dilakukan. Sehingga kami hanya melakukan silaturahmi setiap 6 bulan sekali.. saat liburan semester. Dan keberadaan Andre menjadi salah satu momen yang ditunggu. Saya sendiri sebenarnya termasuk jarang yang berpartisipasi jika ada kegiatan kumpul-kumpul alias reuni di Makassar.

 

Beberapa tahun kemudian, ketika ponsel mulai menjamur, layanan sms mulai meledak… barulah jalur komunikasi mulai terbuka lagi.

Ada satu peristiwa, sekitar tahun ke-empat di masa pendidikan kami, Andre sedang mengunjungi temannya di Yogya, seorang wanita, teman SMP-nya. Si wanita iseng melihat ponsel Andre, melihat phonebook-nya, dan menemukan satu nama “Iwal”

“Ini Iwal yang SD Ikip itu bukan? Saya minta ya nomornya?”, kata wanita itu. Andre pun mengijinkan.

Beberapa waktu berselang setelah itu, saya menerima sms misterius dari wanita itu. Komunikasi pun berlanjut terus, tentu dengan dukungan dari Andre juga. Dan sampai sekarang wanita itu sudah menjadi ibu dari anak-anak saya. Istri saya sering mengingat momen itu dengan berkata, “seandainya saya ngga ngintip handphonenya Andre, mungkin nikahnya sama orang lain”. Tentu saja semua sudah diatur oleh Allah SWT dengan jalan dan rencana yang indah. Dan Andre adalah bagian dari rencana tersebut.

Masih banyak peristiwa-peristiwa lain yang memperlihatkan bahwa Andre memang bisa kita juluki ahli-silaturahmi. Dia benar-benar tulus mengunjungi orang-orang.. dari golongan mana pun juga. Bahkan namanya dikenal sampai beberapa generasi alumni SMU 17 Makassar. Guru-guru dia kunjungi. Dia sangat menghormati guru-guru kami. Bahkan dia merencanakan suatu saat bisa mengajak guru-guru untuk berkunjung ke empangnya, makan ikan, menyenangkan hati mereka.


Dia juga sangat senang jika berkenalan dengan orang baru. Setiap berkenalan dengan orang baru, dia tidak sekedar berkenalan, tapi berusaha menjadikannya teman atau saudara. Dia berusaha menghindari konflik, dia tidak ingin menjadi beban dan masalah bagi orang lain. Dia beberapa kali terlibat diskusi pro-kontra secara personal dengan beberapa orang (termasuk istri saya :D), hal yang serius masalah prinsip, tapi selalu diakhiri dengan damai.

Saya dan istri pernah sempat beranggapan bahwa di antara kita semua, Andre-lah yang akan berumur panjang, karena dia sungguh-sungguh menjaga tali silaturahminya dengan siapa pun. Tapi kenyataannya tidak demikian, Allah berkehendak lain. Lantas kemudian saya bertanya-tanya, bukankah menyambung tali silaturahmi bisa memperpanjang usia? Ternyata setelah direnungkan, tidak ada yang salah. Setelah kepergiannya beberapa waktu lalu. Semangatnya masih akan terasa. Namanya masih akan terus dibicarakan orang. Kebaikan dan pesan-pesannya akan menyebar. Cita-citanya akan terwujud. Dia masih hidup. Usianya tetap akan panjang. Walaupun jasadnya sudah tiada.





 

Foto Wanita di Dalam Dompet

Suatu saat, di sekitar tahun ketiga pendidikan kami, Andre berkunjung ke Bandung. Saya lupa dalam rangka apa. Dia nginap di kamar saya, di Wisma Latimodjong, asrama untuk mahasiswa asal Sulawesi Selatan.

Suatu malam, kami lagi ngobrol, dia mengeluarkan foto wanita dari dompetnya.

“Bagaimana wal?”, tanya dia.

Saya tidak berkomentar apa-apa. Saya hanya memperhatikan foto itu. Sebuah foto potrait hasil jepretan studio. Seorang gadis yang tersenyum, menggunakan semacam bando atau bandana?, dengan pose yang cukup menarik. Dan di foto itu tertulis sebuah nama, Patricia.

“Kayak model toh?”, kata dia sambil memasukkannya kembali ke dompetnya.

Saya tidak menginterogasinya lebih jauh, karena memang saya tidak begitu tertarik menelusuri hubungan orang. Saya hanya mengambil kesimpulan buat saya sendiri, oke… Andre sedang ada hubungan khusus dengan wanita itu. Itu saja.

Bang Cecep

Tahun 1999, beberapa hari sebelum kami berpencar ke kota tujuan studi masing-masing, kami pernah berkumpul di rumah Andre. Pada saat lagi asyik ngobrol, ada seorang kerabat Andre, yang mendengar percakapan kami. Begitu dia tau kalau saya ingin ke Bandung, dia merekomendasikan saya untuk tinggal di Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan. Dia mengeluarkan secarik kertas, menulis semacam surat singkat berisi pesan penting,

“Kepada Fadhli,

Ketua Wisma Mahasiswa Latimodjong Bandung.

Mohon agar anak yang bernama Iwal agar diterima untuk tinggal di Wisma Latimodjong.

Tertanda,

Andi Baso M”

Begitu kurang lebih isi suratnya. Wah… orang penting nih, pikir saya. Dia menyuruh saya untuk menyerahkan surat itu ke ketua asrama begitu saya tiba di sana.

Singkat cerita, setelah diterima di sana, saya baru tahu kalau Kak Andi Baso (begitu kami – anak-anak asrama – memanggilnya) dan almarhum ayahanda Andre ternyata pernah tinggal di asrama itu juga. Bang Cecep adalah panggilan hormat kami kepada ayahnya Andre. Bang Cecep – rahimahullah – termasuk salah satu alumni yang kami hormati.

Wanita di Dalam Foto

Kenapa saya menceritakan tentang Asrama Latimodjong dan Bang Cecep? Ini ada kaitannya dengan kisah berikut.

Bang Cecep dan Pung Waru (ibunda Andre) mengelola sebuah Yayasan Akademi Perawat di Makassar. Suatu saat, sekolah tersebut mengirimkan anak-anak didiknya beberapa hari ke Bandung untuk melakukan studi banding di sana. Ada puluhan mahasiswa(i) calon perawat yang datang waktu itu. Tidak terkecuali, Bang Cecep beserta beberapa anggota keluarga juga ikut bersama rombongan. menemani dan memandu mereka. Waktu itu Andre sedang di akademinya, dan tidak bisapunya kesempatan untuk berkunjung.

Mereka, para rombongan semua nginap di Asrama Latimodjong. Para mahasiswa tamu tidur di kamar-kamar penghuni lain yang sudah diikhlaskan, sementara kamar saya yang berada di area agak depan dipakai oleh Bang Cecep sekeluarga. Di situ lah saya semakin sering berinteraksi dengan Pung Waru… terutama dalam hal yang berkaitan dengan perut. MerekaBeliau sangat paham kondisi mahasiswa perantau.

Suatu hari, pada saat di masa-masa kunjungan tersebut, orang tua Andre masih nginap di Asrama Latimodjong, mereka kedatangan beberapa tamu yang terlihat seperti masih mempunyai hubungan keluarga dengan mereka. Dan di situ saya melihat wanita yang ada di dalam foto di dompet Andre yang pernah diperlihatkan ke saya. “Kok cewek itu bisa di sini?”. Dan lagi-lagi… sifat kepo yang memang sangat rendah tidak memaksa saya untuk menyelidiki lebih lanjut. Yang jelas wanita itu adalah wanita di dalam foto. Cukup itu saja yang saya perlu tau.

Beberapa tahun setelahnya, dia pun menikahi wanita tersebut. Wanita yang sangat luar biasa tulus, sabar, yang kebaikannya tidak kalah dengan suaminya. Patricia Geerhan Lantara, terlahir dari keluarga yang terpandang, tidak terpukau dengan nama besar sang ayah, dan memiliki jiwa dan hati yang mulia. Memang benar kata Al-Qur’anShadaqallahu fil qur’aanil kariim… “wanita yang baik untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik..” (Qs. An-Nur : 26)

Pernikahan Andre termasuk epic, karena di antara kami seangkatan, dia adalah pria yang paling pertama menikah.

 

Bisnis Dunia vs Bisnis Dengan Allah

Ajakan untuk Berbisnis Dengan Allah adalah jargon kampanye amal yang sering diaAndre kumandangkan kepada siapa saja. Begitu gigihnya dia mendakwahkan amalan ini hingga akhir hayatnya.menjelelang ajalnya. Dia selalu berbagi keutamaan-keutamaan sedekah, kedahsyatan amalan menolong anak yatim dan fakir miskin, manfaat amal jariyah, dan kisah-kisah Rasulullah dan para sahabat yang berkaitan dengan sedekah.

Beberapa waktu sebelum terjun ke dakwah ini, dia pernah melakukan beberapa usaha yang saya istilahkan Bisnis Dunia

Dia pernah mengajak saya untuk ikut ke dalam bisnis sejenis MLM (multi level marketing) dengan kegiatan jualan pulsa telepon Saya pun ikut. Bukan karena tertarik bisnisnya, tapi karena saya tidak bisa menolak ajakan dia.

Dan perlahan tapi pasti kegiatan itu hilang tidak berbekas.

Setelah itu, bersama istrinya tercinta dan disupport oleh ibunda Pung Waru, dia membuka tempat makan yang cukup sesuatu banget waktu itu, Rumah Kaka – Café & Resto, Makassar. Saya sempat support di dunia maya dengan membuatkan fanpage facebooknya. Usaha ini akhirnya tidak dilanjutkan.

Sempat juga kami bergabung di bisnis emas yang sempat heboh beberapa waktu lalu.. tapi karena memang tidak begitu serius, usahakegiatan itu kami tinggalkan lagipun menguap dengan sendirinya.

Begitulah akhirnya sehingga suatu saat dia mengirimkan pesan “Wal,… ada tanah waqaf di Anabanua, sedang dibangun pesantren hafidz Qur’an. Ada ide apa ces?”

Sejak itulah petulangan baru dimulai…

Orang Tua Asuh & Sukarelawan

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Andre menawarkan dua hal kepada saya terkait Pesantren Anabanua yang sedang dikelolanya. Dia mengajak saya menjadi donatur / orang tua asuh, sekaligus meminta ide dan saran untuk pengembangan pesantren tersebut, terutama dari sisi fisik, sarana dan pra -sarana.

Urusan orang tua asuh saya iyakan, saya dan istri mengambil satu anak asuh.

Sementara untuk urusan pesantren, saya merasa tidak bisa kontribusi banyak, karena kami terkendala jarak. Jadi, untuk masalah konstruksinya saya berlepas diri dan ikuti planning yang sudah ada dari sana. Master plan-nya sudah sangat baik, tinggal dilaksanakan.

Saya menawarkan untuk melakukan program sosialisasi di dunia maya. Alhamdulillah dia sangat antusias. Saya mengajak seorang kawan yang juga punya ilmu dan minat yang sama, Andi Muh. Muhsin, seorang adik kelas di SMU dan juga almamater dari kampus yang sama yang punya kapabilitas di bidang ini. Sengaja saya pilih dia yang berdomisili di Makassar, untuk memudahkan koordinasi langsung dengan tim lain yang ada di sana. Dari komunikasi yang intens dari Andre ke Muhsin, mulai terbuka jalan dan networking ke beberapa pegiat amal jariyah di dunia maya, beberapa di antaranya sedekahawalbulan.com, sdr. Abdul Ahkam, Daeng Faqih, dkk. Saudara Muhsin pula yang memotori dan mengawal pembuatan website pesantren, penggalangan dana sumur bor melalui campaign kitabisa.com, dll.


 

Tidak berhenti di situ, dari sisi pemanfaatan lahan, Andre minta saran saya untuk bidang agribisnis. Saya menolak karena itu bukan bidang yang saya kuasai. Saya kemudian menyodorkan satu nama, Rahmansyah Dermawan, teman SD saya, seorang master pertanian lulusan IPB yang menjadi dosen di Unhas. Saya pribadi sangat kagum dengan tingkat keilmuan dia, tidak hanya menguasai teori tapi sekaligus praktisi yang handal. Dan alhamdulillah Rahmansyah sangat antusiassemangat dengan hal tersebut. Dari situ juga terbentuk tim agribisnis yang masya Allah… sampai sekarang hasilnya sudah terlihat nyata. dan membanggakan. Program Sawah Jariyah salah satunya.

Saya sangat takjub dengan percepatan yang ada dalam pengelolaan aset waqaf ini. Yang semula “hanya” lahan pesantren yang berisi gedung-gedung sekolah setengah jadi, kemudian berkembang. Berkembangnya tidak linear, tidak satu arah… tapi bercabang! Di satu sisi, pembenahan fisik pesantren terus berlanjut, di sisi lain di waktu yang bersamaan bermunculan program-program luar biasa lainnya… Sekolah Tahfiz di Hertasning, pengukuhan organisasi menjadi Yayasan Amal Kebangsaan Indonesia (YAKIN), pembentukan Baitul Mal, sadaqoh buka puasa sunnah, sawah jariyah, dan yang sedang berjalan.. pembangunan Islamic Care Center, Masjid Al Khalifah Moncongloe, Maros, Sulsel.

Ini tidak lepas dari hasil ajakan, dakwah, dan “gerilya” masif yang dilakukan Andre… bi idznillahi. Dia sering menyebut satu nama sebagai sumber motivasinya, seorang rekan senior perwira di TNI AU juga, salah satu pengurus Yayasan, pejuang sosial yang sejak awal sudah bergerak ke mana-mana. Secara pribadi saya pun mengagumi bapak tersebut sebagai komandan di lapangan, selalu tanggap, tidak bisa diam di tempat. Saya salut dengan mereka berdua. Baarakallaahu fiihimaa.

Tidak Peduli

Saking gencarnya ajakan yang dilakukan Andre, segelintir pihak sempat merasakan tidak nyaman dengan itu. Ada rasa jenuh yang muncul… bahkan tidak sedikit yang mulai terusik.

Kami sempat obrolin masalah itu, dan tanggapannya hanya satu, “Saya tidak peduli ces. Saya berjuang lillahi ta’ala. Saya merasa berdosa kalau saya tidak bikin apa-apa”.

Di whatsapp chat, dia membuat begitu banyak grup yang anggotanya bisa dibilang orangnya itu-itu saja. Dan setiap berkirim pesan, dia mengirimkan ke semua grup whatsapp tersebut. Saya sempat menyarankan untuk mengefektifkan grup whatsapp, karena kalau dikelola dengan baik insya Allah pesannya juga bisa lebih sampai ke orang-orang.

Sebenarnya pengaturan itu lebih ngaruh ke pengurus dan sukarelawan, karena kadang beberapa dari kami ingin mencari data di grup tapi tertutupi jauh oleh pesan-pesan broadcast dari Andre 😀 😀

Dia juga menerapkan gaya militernya dalam memberikan arahan dan masukan. Sebagian pengurus dan sukarelawan terlihat belum terbiasa dengan gaya seperti itu, saya pun sempat merasakan itu. Dia sesekali curhat. Dia sadar apa yang dia lakukan, niatnya baik, dan tidak ada yang salah. MemangTapi memang akan ada resistensi untuk mau berubah. Dan kenyataannya, lama kelamaan orang akan bisa memahami apa yang Andre lakukan.

Sakit

Februari 2016, awalnya kami – alumni SMU 17 yang ada di Jakarta – mau mengadakan reuni kecil-kecilan. Namun menjelang hari H, Andre ngasih kabar kalau dia sudah 3 hari demam dan sedang mengurus untuk rawat inap di RS. Keesokan harinya saya berkunjung ke sana.

Secara fisik tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya butuh istirahat, dan jaga makan. Sewaktu dijenguk, kami pun ngobrol seperti biasa, santai… sampai minta berfoto bersama. Dia keluar dari RS sekitar seminggu kemudian. Dan setelah itu komunikasi kami kembali seperti biasa, tidak jauh-jauh dari pesantren dan orang tua asuh.. sesekali diselingi candaan

Beberapa waktu berlalu, hingga suatu hari di pertengahan tahun 2017, saya dan beberapa orang lainnya mendapat pesan broadcast dari Andre sbb:

 

Alhamdulillah Allah berikan cobaan sekaligus hadiah proses pelajaran hidup….

 

Alhamdulillah ala kulli hal…

Di indonesia hasil dokter sudah menyatakan sakit saya cancer stadium 4,

Operasi sudah dilaksanakan di singapura dan atas izin Allah berhasil.( 3 minggu di singapura dalam pemulihan operasiq)

 

Dan kini bolak balik jakarta singapura untuk kontrol…

 

 

Tentu dari sisi psikis,mental dan finansial ada yg dikeluarkan namun jauh dari itu semua.

 

 

Bahwa pelajaran mencintai Allah diatas segala galaNya

 

Dulu saya hamba pendosa…

Penuh dgn dosa

 

Namun berharap atas ridho Allah,

ada amalan yg Allah terima dan pelajaran dariNya menusuk ke hati….

Haqqul yakin dan tauhid…

 

 

Allah mau jelaskan dgn caranya Allah

Harapkan gantungan hanya kepada Allah

Gantungkan hanya kepada Allah

Yang menyembuhkan Allah

 

Juga

Membantu disaat lapang

ALLAH MEMBANTUMU DISAAT SEMPIT….

 

 

Kontrol selanjutnya hasil lab rs singapura penyakit yg diangkat adalah

Tumor semua sudah dibersihkan dan bukan kategori ganas( atas izin Allah)…

 

Sebagian kawan saudara teman seperjuangan saya beritahu

 

Bukan untuk mengeluh

Namun mohon doanya…

 

Saya juga tetap berfikir tidak sakit

Org sakit masih bisa produktif karena jiwanya masih ada😇

 

Shg beberapa grup sosial dan kegiatan yayasan saya tetap aktif

Hanya Allah,keluarga dan sahabat yg tau kondisi saya..

Dan saya berharap doanya..

Saat operasi saya berdoa

Yaa Rabb

Jika ini waktuku

Terima amal ibadahku dan ampuni segala dosaku

Jika belum…

Panjangkan umurku untuk membantu orang lain karena Mu yaa Rabb.

 

Hari ini Allah jelaskan lagi kemudahan yg beliau jelaskan dari Arah yg tidak disangka sangka…

Terharu dan keyakinan saya bertambah atas kekuasaan Allah insya Allah

 

Ana mohon doa sahabat seperjuangan karena Allah …..

 

semoga Allah mudahkan ikhtiar saya

Tetap diberi kelapangan membantu saudara yg membutuhkan

Dan diberikan rezki yg halal untuk proses pengobatan secara duniawi..

 

Alhamdulillah ala kulli hal..

Saudaraku yg diberikan nikmat sehat jgn sia siakan masa sehat antum gunakan secara optimal.untuk berbakti di jalanNya….

Saling mendoakan…..

 

Mhn jgn dibroadcast kisah saya dgn menyebut identitas saya

 

Namun untuk pelajaran

Silahkan share tanpa menyebutkan identitas saya

 

Saudaramu karena Allah.

Singapura 16-7-2017

 

 

Berita ini cukup mengejutkan. Saya hanya bisa support doa dari jauh. Tapi semangat juangnya tidak berubah. Ajakan-ajakan kebaikannya masih tetap mengalir. Yayasan Amal Kebangsaan Indonesia sudah semakin kokoh, berbagai program terus diluncurkan. Pesan-pesan dakwah dan amal baiknya perlahan-lahan mengalihkan perhatian kami dari sakit yang dideritanya.

Pelukan Terakhir

Waktu pertama kali menjenguknya di RSPAD,

Juli 2018, sewaktu pertama kali menjenguknya di RSPAD, saya merangkulnya sewaktu ingin pamit, sambil berbisik “Allahu yasyfiik..“, Allah menyembukanmu. Matanya sedikit berkaca-kaca, dan begitu pun saya. Tapi saya bergegas keluar karena khawatir perasaan itu akan berlarut. Saya tidak mau mengganggu semangat dan perjuangannya.

Sebulan setelahnya, Jumat sore, sekitar maghrib, saya menerima pesan singkat dari seorang sahabat, Muh. Yassin (Accing) yang memberitakan kondisi Andre yang sedang kritis. Accing adalah sahabat yang sangat dekat dengan Andre, dan juga keluarganya… Dia juga menjadi orang yang dipercaya oleh Andre dalam berbagai hal. Hari itu, Accing sebenarnya hanya berniat berkunjung seperti biasa, bersama seorang sahabat lain – Ipul – sebelum Andre dipulangkan ke rumahnya di Cikeas. Memang sempat terdengar rencana kalau Andre akan dipulangkan hari Sabtu (4 Agustus) besoknya.

Suasana hati langsung berubah setelah menerima pesan dari Accing sore itu. Saya langsung mengabari istri yang masih di tempat kerja. Tidak lama kemudian, saat sedang berkomunikasi di salah satu grup WA, masuklah berita duka itu dari salah satu sahabat dekat juga, disusul dengan telepon dari Accing yang sudah. Saya tidak bisa membalas telepon tersebut, suara saya bergetar, jantung berdetak kencang, badan lemas.

Saya terdiam beberapa saat hingga akhirnya isak tangis saya keluar, membuat kedua anak saya keheranan. Saya mungkin tidak berhenti seandainya si kecil tidak rewel melihat saya.

Begitu istri saya pulang, tangis kami kembali mengalir. Beberapa saat kemudian barulah saya bergegas menuju ke rumah duka di RS. Sesampainya di sana, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 11an malam. Orang-orang masih berdatangan. Beberapa kawan SMU sudah pulang, tinggal Accing dan beberapa teman SMP Andre lainnya.

Saya masuk ke kamar jenazah dengan perasaan hampa, kosong, numb… Jenazah Andre sudah terbungkus kafan, terbaring memanjang dengan kaki menjulur ke arah pintu masuk. Di sisi kanan dekat bahu Andre, ada Ciya, sang istri, sedang duduk di kursi, melihat saya yang melangkah perlahan mendekati jenazah. Saya hanya memberinya salam dan belasungkawa dengan isyarat tangan dan anggukan kepala, sambil terus mendekati Andre di sisi kirinya. Di sana terlihat ibunda, Pung Waru juga sedang duduk di kursi di dekat bahu kiri Andre. Beliau sedang membaca ayat suci Al-Qur’an, sambil memegang tubuh Andre. Saya tidak ingin mengganggunya. Dan di belakang Pung Waru ada adik-adiknya Andre.

Saya berdiri di samping Pung Waru, di dekat kedua tangan Andre yang disedekapkan di atas perutnya. Saya masih tidak percaya bahwa wajah di balik kain kafan itu adalah Andre. Tidak sadar saya bungkukkan badan saya, saya peluk jenazahnya, saya jatuhkan wajah saya di tubuhnya. “Allaahummagfirlahu warhamhu… manusia sebaik ini telah Engkau panggil… ya Allah…” Rasa sedih dan haru yang luar biasa tidak bisa saya bendung di situ.. pikiran saya kosong beberapa saat lamanya. Saya baru tersadar ketika tidak bisa menahan keluarnya suara isak dan sedu. Saya baru sadar kalau saya berada di atas jenazah Andre yang sedang dikelilingi oleh beberapa saudara kerabat dekatnya.

Perlahan saya tarik badan saya kembali, dan di situlah saya lihat Pung Waru menghentikan bacaan Qur’annya. Spontan saya bersimpuh di hadapan beliau, menyalami tangannya, dan tertunduk sedih di pangkuannya. Begitu tegarnya beliau berusaha menenangkan saya. Dia memohonkan maaf atas kesalahan-kesalahan Andre. Saya Cuma menggeleng. Dosa apa yang dimiliki orang seperti Andre? “Justru saya yang minta maaf, Pung. Banyak sekali dosaku sama Andre”, itu yang saya ungkapkan ke Pung Waru.

Pung Waru lalu menceritakan kejadian sehari sebelumnya ketika Andre dijenguk oleh Accing, dan Accing berusaha menuntunnya untuk sholat, sampai akhirnya mereka shalat berjamaah berdua. Pung Waru begitu bahagia dengan kejadian itu. Saya pun sangat bangga dan bersyukur dengan adanya Accing, sahabat yang benar-benar tulus pengorbanan dan perhatiannya kepada Andre sampai akhir hidupnya.

Sepulangnya dari sana, sekitar jam 2 pagi, saya tertidur karena kelelahan. Ketika terbangun selepas subuh, saya mengira saya telah bermimpi. Saya buka pesan-pesan whatsapp…. ternyata bukan mimpi! Andre sudah tiada… sosok nyata simbol kebaikan itu benar-benar ada. Ini tidak seperti membaca kisah orang-orang terdahulu yang penuh hikmah, atau mendengar kisah penuh motivasi dari orang-orang hebat nun jauh di sana. Ini adalah pengalaman hidup langsung kami dengan seorang anak, teman bermain, yang kemudian tumbuh menjadi panutan dan pahlawan.. yang di setiap tutur katanya mengandung hikmah dan pesan kebaikan.

Jaga silaturahmi… kompak sesama umat Islam… jangan berhenti bersedekah… sedekah tidak harus dengan harta, tapi bisa dengan waktu, tenaga, dan pikiran. Dari sepenggal ilmu itulah dia amalkan secara maksimal dan dia memotivasi siapa saja untuk beramal sholeh. Masih banyak cita-citanya yang belum terwujudkan. Saya pribadi mungkin belum punya tekad sebesar yang pernah dia miliki. Tapi saya punya keinginan dan impian untuk mempunyai semangat yang sama. Yakin dan percaya sepenuhnya kepada Allah SWT.. bertawakkal sepenuhnya kepada Allah.

Semoga Allah SWT melapangkan kuburmu seluas-luasnya, dan memberimu tempat di surga setinggi-tingginya.

Selamat jalan, saudaraku… Bahagialah di alam sana…

 

Tangerang Selatan, 08-08-18

 

Ini adalah chat terakhir dengannya… tapi bukan obrolan terakhir

 

 

P.s.: tulisan ini saya dibuat untuk melapangkan hati saya pribadi, merelakan dan menerima semuanya dengan ikhlas, dan mengembalikan ghiroh yang terancam pudar seiring kepergiannya.

Penghormatan paling tinggi untuk kedua wanita yang ada di sisi Andre: ibunda Pung Waru dan Ciya Andre… baarakallahu fiihimaa.