Masjid & Makanan Halal di Hong Kong

Kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Indonesia?”, jawabannya susah, dan ngga bisa tepat jawabannya. Tapi kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Hong Kong sekarang?”… gampang…. jawabnya… enam!!.. Dan yang ketujuh masih dalam tahap konstruksi.

Waktu safar pekan lalu, ahamdulillah kami hanya sempat mengunjungi 4 di antara 6 masjid tersebut.

Masjid Kowloon & Islamic Centre.

Ini merupakan masjid terbesar di Hong Kong (untuk saat ini). Kalo ngga salah terdiri dari 3 atau 4 lantai. Dan jika semua lantai dibuka untuk kegiatan sholat, bisa menampung hingga 5000an jamaah. Lokasinya sangat strategis karena berada di tengah kawasan wisata dan salah satu titik pusat perbelanjaan Tim Sha Tsui, wilayah Kowloon. Sebagai informasi, wilayah Kowloon adalah salah satu tujuan wisata di Hong Kong. Mirip-mirip Orchard-nya Singapura lah.

masjid kowloon
Posisi masjid di Nathan Road, tengah-tengah pusat niaga dan belanja
DSC_2589
Salah satu sudut pusat perbelanjaan di Nathan Road, Kowloon

Alhamdulillah, Jumat lalu, kami dikasih kesempatan untuk melakukan sholat Jumat di sana. Ada sedikit pengalaman menarik di sana. Waktu kami menyetel lokasi di gadget kami untuk wilayah Hong Kong, penunjuk waktu sholat ngasih tau kalo waktu Zhuhur adalah sekitar pukul 12.40an. Bergegaslah kami sekitar jam 11 merapat ke masjid, biar masih bisa dapat tempat duduk yang nyaman. Ternyata masih sepi.

Waktu itu saya lihat papan informasi di bagian lobi, katanya Khutbah Jumat dimulai pk 13.10. Wah… masih lama dong.. 2jam lagi. Trus, dari tangga dekat lobi, turunlah seorang jamaah perawakan timur tengah yang ngasih info kalo area yang kami masuki adalah untuk laki-laki, dan area tangga yang satunya (sebelah selatan) untuk wanita, soalnya dia ngelihat istri saya juga ikut masuk ke area laki-laki. 😀

Habis itu, tanpa ditanya, dia langsung ngasih tau kalo di sepanjang jalan di depan masjid (Nathan Road) ke arah selatan, sebelah kiri, bisa banyak ditemui makanan halal. Kebetulan nih.. sambil nunggu waktu Jumat, kami ngisi perut dulu.

Sekitar pk 12.40 kami balik ke masjid…. ternyata sudah mulai rame! Dan sudah terdengar ada yang ceramah. “Khutbahnya udah mulai… yah ketinggalan deh” Abis wudhu, langsung naik ke lantai 3 (lantai utama), cari shaf sebisa mungkin di depan, tapi hanya bisa dapat shaf 6 atau 7. Hampir seluruh jamaah didominasi oleh perawakan India, Pakistan, atau Bangladesh. Tapi… dari “khutbah” yang saya dengar bukan dalam bahasa Urdu, tapi bahasa India dan bahasa Inggris, kesimpulan saya jamaahnya kebanyakan dari India.

Dalam hati saya membatin, “katanya khutbah mulai jam 13.10… kok ini udah mulai.. gimana sih?”

Tiba-tiba begitu jam 13.10, “khutbah” selesai, dan muadzin maju. Tapi bukan iqomah… malah adzan!  Lho…. kok khutbah dulu baru adzan??

Setelah adzan, saya tambah bingung lagi, karena orang-orang pada berdiri… shalat sunnah… 4 rakaat.

Setelah jamaah mulai “reda”, ada orang lain lagi naik ke mimbar, baca ceramah lagi…. Oalaaa… ini khutbah Jumat benerannya. Full bahasa Arab. Singkat, hanya 4-5 menit, pake jeda antara khutbah pertama dan kedua, dan diakhiri dengan doa. Jadi.. yang pertama tadi itu bukan khutbah Jumat, tapi ceramah biasa. Setelah khutbah Jumat yang asli ini selesai, barulah dimulai shalat Jumatnya. 😀

Setelah shalat Jumat, ada kejadian menarik lagi. Habis dzikir dan berdoa, orang-orang ngga bergegas pergi, tapi hampir semua jamaah melakukan shalat sunnat 2 rakaat. Setelah selesai 2 rakaat, mereka berdiri lagi shalat sunnat 2 rakaat. Abis itu… sholat lagi 2 rakaat. Saya kan heran ya? Trus saya nengok ke belakang… satu per satu shaf belakang mulai bubar, tapi shaf di depannya masih shalat sunnat 2 rakaat.

Ternyata, orang-orang di shaf terdepan ngga mau keluar lebih dulu sambil melewati shaf-shaf di belakangnya. Mereka menunggu shaf di belakang bubar duluan. Satu per satu shaf membubarkan diri dimulai dari shaf belakang, sementara shaf-shaf di depannya menunggu sambil mengerjakan shalat sunnat 2 rakaat!! Masya Allah! Mereka ngga mau melangkahi saudara-saudaranya yang sedang duduk maupun yang lagi shalat. Kalo di Indonesia kan, ada celah dikit… kabuurr. 🙂

DSC_2384
Setelah Jumatan, halaman masjid menjadi sangat ramai… Cuman waktu itu saya ngga sempat foto-foto karena si kecil Baihaqi sedang rewel tingkat tinggi, ngantuk.

Hari berikutnya, saya kembali ke masjid ini untuk sholat Maghrib, dilajutkan dengan menonton Symphony of Light (laser show) di semenanjung Kowloon, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari masjid 🙂

DSC_2607
Suasana ba’da Magrib di masjid Kowloon

Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre

Biasa disebut masjid Wan Chai, soalnya lokasinya berada di tengah-tengah kawasan Wan Chai. Kalau Kowloon adalah pusat wisata belanja, Wan Chai ngga jauh beda, tapi di Wan Chai juga banyak pusat-pusat niaga, perkantoran, pemerintahan, sekolah, dll, termasuk stadion olahraga.

DSC_2540

Di Masjid Kownloon, kalau kita mau makan kita harus nyari di sekitar masjid, tapi di Masjid Wan Chai, ada kantin khusus makanan halal di lantai 5. Menunya Chinese Food, dan yang menjadi favorit adalah Dim Sum dan aneka gorengannya.

DSC_2542
Abaikan Bon Cabenya… itu bekal khusus, dibawa langsung dari tanah air 😀

Selama di Hong Kong, kami sampai 3 kali bersantap di sini… soalnya dekat hotel sih… hanya 5 menit jalan kaki.

Kapasitas masjid ini ngga sebesar masjid Kowloon. Mungkin hanya sekitar 1000an jamaah maksimal, kalau semua lantai dimanfaatkan. Lantai 1 adalah lobi, lantai 2 tempat wudhu pria, area bermain anak, sama ruang sekolah atau semacam TPA buat anak-anak. Lantai 3 area masjid buat pria, lantai 4 area masjid wanita, lantai 5 kantin. Setelah itu saya ngga tau lagi 🙂

DSC_2517
Penampakan di dalam Masjid Ammar di Wan Chai

Kalau di masjid Kowloon banyak ras Asia Selatannya, di sini berimbang antara Asia Selatan, Timur Tengah, termasuk Turki. Ras Tiongkok dan Melayu bisa dihitung jari. Itu menurut pengamatan saya selama saya ikut shalat di sana.

+++

Masjid Ibrahim

Ini masjid ketiga yang kami kunjungi. Setelah setengah hari menghabiskan waktu di Museum Science & Art Hong Kong, kami sedikit berkelana untuk mencapai masjid ini. Sebenarnya Masjid Kowloon lebih dekat posisinya dari museum, tapi saya penasaran dan pengen coba di masjid lain.

masjid ibrahim

Ternyata agak di luar dugaan. Saya ngga sempat foto, jadi hanya ngambil dari google. Masjid ini posisinya sedikit berada di “pinggiran” keramaian. Tapi dekat dengan area pemukiman, flat (apartemen). Dan sepertinya di pemukiman ini banyak dihuni oleh warga muslim dari Asia Selatan maupun Timur Tengah. Makanya mereka memanfaatkan sebuah lahan minimalis dengan bangunan seadanya untuk dijadikan tempat ibadah.

Bangunannya sendiri lebih mirip bangunan darurat atau sementara. Walaupun demikian, suasana di dalam sangat sejuk. Waktu kami mampir sholat, di sana sedang ada kegiatan ngaji untuk anak-anak, persis kayak di Indonesia, anak-anak pada berisik, sementara ustadznya sibuk mendengarkan salah satu setoran hapalan Al Qur’an salah satu anak. Surah yang dibacakan bukan dari juz ‘Amma, sepertinya dari salah satu surah di juz 28 atau 29. Saya juga ngga hapal… 😀

2017-04-21_232410
Kawasan hunian di sekitar Masjid Ibrahim

+++

Masjid Jamia (Jamia Mosque)

Masjid ini sedikit unik. Masjid Jamia adalah masjid tertua di Hong Kong. Bangunannya memang sudah monumental, dan selain dipakai beribadah, juga menjadi tujuan wisata serta dimanfaatkan untuk dakwah oleh para imam dan pengurus di sana.

DSC_2726
Masjid Jamia, Hong Kong
DSC_2714
Prasasti pendirian masjid
DSC_2728
Lokasi masjid dikelilingi gedung-gedung tinggi

Sekedar informasi, sebaran penganut keyakinan dan agama di Hong Kong cukup bervariasi. 3 teratas diduduki oleh Buddhisme (kadang dicampur Taoisme dan Konfusianisme), kemudian Kristen (Katolik Roma & Protestan), dan non-agama, baik itu atheisme maupun agnostik. Muslim termasuk minoritas, bareng sama Hindu, Yahudi, Sikh, dll. Salah satu dakwah yang mereka gencarkan di sana adalah dakwah tauhid dan mengenalkan sosok Rasulullah Muhammad s.a.w.

DSC_2724
Salah satu buku yang diterbitkan oleh lembaga dakwah di Hong Kong. Buku ini ditulis dalam berbagai bahasa, dan dibagikan secara gratis. Buku-buku mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Al Ahad) juga banyak.

Sewaktu kami tiba di sana, salah satu imam sedang melayani turis dan memberi penjelasan kepada mereka. Turisnya sepertinya dari wilayah Hong Kong juga, atau daratan Tiongkok dan sekitarnya, soalnya mereka berdisuksi seru pakai bahasa Mandarin (atau bahasa Kanton??) wallahu a’lam.

DSC_2721
Pak Imam (peci putih) sedang memberi penjelasan kepada pengunjung

Setelah shalat, saya jalan-jalan di sekitar masjid. Tempatnya nyaman, teduh, di tengah-tengah kerumunan gedung pencakar langit. Ada beberapa rumah sederhana di sekitar masjid, yang dihuni oleh penjaga dan imam. 2 anak berparas Timur Tengah terlihat bolak-balik dari salah satu rumah menuju ke masjid. Di masjid juga ada air minum gratis. Saya sempatkan mengisi botol kosong di situ. Oiya.. air minum di Hong Kong cukup mahal sodara-sodara. Kalo dirupiahkan, sebotol air minum kemasan 500mL harganya bisa 35-40ribuan. Sakit hati ngga?.. 😀 😀

Alhamdulillah semua masjid di sana menyediakan air minum gratis buat para jamaah dan pengunjungnya, termasuk masjid Kowloon, masjid Wan Chai, dan masjid Ibrahim.

DSC_2740
Pak Imam yang tidak bisa saya sebutkan namanya… karena ngga nanya 😀 Dia buru-buru mau jawab panggilan telpon.
DSC_2745
Di dekat gerbang masjid ada banner pesan tauhid ini. Allahu Akbar

+++

Masjid Yang Lain

Ada 2 masjid lagi yang ngga sempat kami kunjungi. Yang satu Masjid Stanley, di area penjara di bagian selatan. Cukup jauh jaraknya. Satu lagi masjid Cape Collision. Saya sebenarnya penasaran dengan masjid Cape Collision ini karena posisinya berada di atas bukit, terpencil dan dikelilingi pemakaman muslim. Di area situ juga ada pemakaman pahlawan (kayak taman makam pahlawan), rumah kremasi, dan pemakaman Hindu kalo ngga salah. Cuma waktu itu ngga keburu waktunya karena ngejar jadwal shuttle bus ke bandara.

+++

Musholla

Yang namanya Musholla, kalo dalam pengertian kita (orang Indonesia) adalah tempat sholat yang relatif kecil dan merupakan bagian khusus dari sebuah gedung atau bangunan. Padahal secara bahasa musholla itu ya masjid juga… tempat untuk sholat. 😀

Musholla memang susah ditemui di Hong Kong, kecuali di tempat umum yang sangat besar atau tersohor.

Yang pertama, di bandara Internasional Hong Kong. Bandara segede itu, hanya punya 1 ruang musholla kecil, kapasitas kira-kira bisa jamaah sekitar 20an orang lah. Lokasinya ada di Gate 42. Jumlah gate di bandara Hong Kong lebih dari 100 gate, hampir 200. Dan untuk mencapai musholla itu, saya harus naik kereta khusus. Bisa sih jalan, tapi bisa 10 menit jalannya.

DSC_2970
Gede banget ini bandara….. 😦 😦

Yang kedua, di Disneyland Park. Lokasinya ada di belakang restoran halal Explorer Club, tepatnya di Guest Service – Mystic Point Area.. di situ ada Smoking Area, Toilet, ATM, Drinking Fountain, Public Phone, sama yaaa musholla itu… Cuma yang musholla ngga ada papan namanya. 😀 😀

This slideshow requires JavaScript.

+++

Intinya selama berada di Hong Kong beberapa hari kemarin, kami ngga ada masalah dengan menemukan tempat shalat di luar hotel. Memang sudah terencana, dengan batuan internet, google map, dan beberapa aplikasi pembantu seperti rute transportasi di sana.

 

Makanan Halal

Masalah makanan halal juga sedikit bikin “capek” karena relatif agak susah… hanya bisa diperoleh di daerah-daerah tertentu. Fast food ternama memang ada seperti ayam krispi yang terkenal itu (M*D, K*C).. trus ada juga Burger K*ng, Pizza Ex*ress, dll… tapi ngga ada jaminan dan sertifikasi halalnya.

Bahkan kami sempat lewati salah satu “warung” yang pake papan nama tulisan arab. Tadinya mau mampir di sana, ternyata setelah di cek, itu adalah bar ala Lebanon. Tentu saja banyak alkohol bertebaran di dalamnya 😀

Oiya… makanan di Hong Kong harganya mahal-mahal. Ini adalah beberapa tempat makan halal yang sempat kami cicipi. :

  1. Masjid Ammar lantai 5. Harga standar.. ngga mahal kalo ukuran Hong Kong (tapi untuk Indonesia relatif lebih mahal). Banyak pilihan makanan. Dim sum-nya sangat direkomendasikan. Untuk anak-anak, es Milo adalah minuman favorit.
  2. Hung Chinese Restaurant – Halal Food. Lokasinya ada di lantai dasar gedung Chungking Mansions, sekitar 150m dari masjid Kowloon. Enak-enak makanannya… terutama bihun sapi lada hitamnya. Slurp.
  3. Istanbul Kebab, Turkish Diner. Ini yang paling top… pelayanannya keren. Mas-masnya ramaah banget. Makanannya enak. Harga worthed laah.
    Kami juga ngga sengaja ketemu tempat makan ini. Tadinya mau cari Resto Al Maidah di salah satu gedung pertokoan di dekat masjid Kowloon. Eh.. tiba-tiba nyasar ke resto Turki ini. Yaa udahlah.. sama-sama halal. 😀

    DSC_2582
    Waktu mas-masnya bilang “this is the kecap”, saya bingung… kenapa pizza pake kecap?? Ternyata kecap = saos tomat. 😀
  4. Warung Chandra. Iya… namanya Warung Chandra, posisi di samping gedung kantor Konsulat Jenderal Indonesia. Di sekitar situ juga ada Bank Mandiri dan BNI (siapa tau mau tarik tunai). Ada juga resto Indo yang lain, tapi kami ngga sempat ke sana. Di Warung Chandar ini ngga cuma makanan ala Indonesia, tapi snack dan minuman-minuman Indonesia juga dijual di sini… mulai dari susu Ultra, Kratingdaeng, Larutan Penyegar, sampai Kiranti. 😀 😀

    DSC_2769
    Rak jajanan dan minuman di Warung Chandra
  5. Di Disneyland Park ada 2 tempat makanan halal: Explorer’s Club sama Tahitian Resto, tapi waktu kami ke sana Tahitian Resto lagi tutup. Menu di Explorer’s Club ada menu Indonesia, India, sama Chinese Food kalo ga salah.
  6. Popeye’s Fried Chicken di Bandara Internasional Hong Kong. Satu-satunya tempat makan halal di bandara. Lokasinya di food court, ngga jauh dari M*Don*lds.
  7. Makanan paling murah adalah nasi bungkus yang dijual sama seorang wanita Indonesia di “emperan” masjid Kowloon. Menunya macam-macam… ayam balado, nasi uduk, ayam penyet, dll. Di trotoar depan masjid Kowloon juga ada laki-laki yang suka nawarin kebab.

Kapan-kapan lah kalo ada waktu, saya nulis lebih lengkap tentang pengalaman berburu makanan halal di Hong Kong yang lebih lengkap lagi.

Fiuh….

Semoga terhibur 😀

-mohon maaf kalo ada typo-

Al Khuwarizmi, kok bisa jadi Algoritma?

Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al Khuwarizmi (770-840) menulis kitab Al Jabar Wal Muqolabah (Ringkasan Perhitungan Aljabar & Perbandingan), salah satu masterpiece di sejarah Matematika, dasar ilmu Science & Engineering.

Karyanya menyebar ke dunia barat, Eropa. Masyarakat barat, agak kesulitan menyebutkan nama Al Khuwarizmi, sehingga di beberapa paparan lisan seringkali namanya terdengar sebagai “Algorism”. Ini istilah baru. Sebelumnya, mereka sudah punya istilah lain , Arithmetic (dari kata arithmos, yang berarti bilangan). Arithmatic, kalau diucapkan, bunyinya adalah “Arismetik”. Nah, gara-gara itu, ketika mereka mendengar kata “Algorism” mereka menuliskannya dengan “Algorithm”. Akhiran -ithm dibaca -ism.

Istilah Algorithm inilah yang populer mendunia sampai sekarang dan disadur ke berbagai bahasa lain, misalnya Algoritma pada Bahasa Indonesia.

Istilah Aljabar pun berasal dari kitab tersebut. Al Khawarizmi mendapat julukan Bapak Aljabar, karena dia yang pertama mengajarkan konsep aljabar secara mendasar. Penemuan angka 0 (nol) sangat berperan di sini. Penemu konsep aljabar sebenarnya sudah lama ada. Diphantus dari Yunani waktu memperkenalkan Aritmetika (bilangan) sekitar abad pertama atau kedua, dia sekaligus menyelesaikan beberapa permasalahan aljabar (waktu itu belum ada istilah aljabar). Tapi sejak diperkenalkan kembali oleh Al Khuwarizmi, para matematikawan seperti mendapat pencerahan yang banyak sekali, dan sejak itu ilmu Aljabar berkembang sangat pesat.

Banyak Kitab Al Khuwarizmi yang lain yang disadur dan diterjemahkan oleh beberapa matematikawan Eropa. Dan salah satu versi termasyhur dari terjemahan tersebut ditulis oleh matematikawan Italia bernama Gerard Cremona.

Anak-anak teknik sipil sebagian besar sudah familiar dengan istilah “Metode Cremona” 🙂 Itu adalah salah satu metode penyelesaian analisis struktur rangka dengan menggunakan grafis (geometri). Metode lama, tapi masih tokcer di jaman sekarang. Saya sendiri ngga dapat metode itu di bangku kuliah karena sudah dianggap old-school, tapi di era “computerized-graphics” sekarang rupanya metode itu kembali diangkat. 🙂

Oiya… paragraf terakhir di atas ngga ada hubungannya dengan Al Khawarizmi. Karena Gerard Cremona sebenarnya bukan penemu Metode Cremona. Metode itu ditemukan oleh “Cremona” yang lain. Hehehe… maap yak.

#gagalfokus

Bagaimana Mengajari Anak Bermain Papercraft

Setelah cukup lama menjajal dunia lego dan hotwheels.. Bilal (7 yrs old) ingin saya tantang dengan sesuatu yang baru… Papercraft.

Papercraft adalah seni gunting-lipat-rangkai-tempel dengan menggunakan material kertas atau karton. Bahan yang paling baik menurut pengalaman saya adalah Kertas Manila. Ngga mudah sobek, ngga terlalu tebal sehingga masih mudah digunting atau dilipat.
Saya pernah coba kertas yg lebih tebal, Matte Paper… bagus sih.. kuat… tapi susah dilipat… apalagi kalo ada part yg ukurannya kecil, bisa ngga rapi hasilnya.

Nah.. beberapa waktu lalu, saya memperkenalkan Bilal dengan proyek papercraft sederhana yang pertama… membuat mobil sederhana. Tapi… begitu dia mulai menggunting hasilnya kacau… ngga rapih… ngga lurus…

Akhirnya saya mulai Pelatihan Papercraft buat Bilal. Proyeknya langsung yg agak susah.. membuat Kapal Layar. Template proyek didownload gratis di situs Canon Creative (googling aja “canon papercraft”)

image

Tahap pertama. Latihan menggunting.
Bagian kertas yg digunting harus diposisikan di pangkal gunting, bukan di ujung gunting. Ini lebih memudahkan buat mengontrol gerakan. Trus kalo ada posisi yg harus digunting kurang dari 90 derajat atau posisi sulit lainnya, jangan menggunting dengan sekali gunting, tapi angkat gunting dan lakukan dari arah lain. Ternyata dia bisa belajar dengan cepat ☺

image
Menggunting di pangkal gunting

Tahap berikutnya. Melipat.
Ada 2 macam lipatan, lipatan gunung dan lembah… caranya sama… hanya arahnya yg beda. Melipat lidah atau kuping (bagian yang diberi lem) termasuk susah apalagi kalau kupingnya panjang. Salah satu tips agar melipat jadi mudah adalah pake pulpen yg tintanya udah habis trus ditekan ke sepanjang garis lipatan. Pake penggaris biar lurus. Kalo saya sendiri karena ga punya pulpen tinta abis, saya pake bagian cutter yg tumpul.

image

Tahap terakhir. Merakit dan Mengelem.
Nah. Kalo ini ngga ada skill khusus… yang penting mengerti panduan dan tau bagian mana yg harus diberi lem. Saya ngga ngasih pelatihan khusus buat Bilal di sini. Alhasil karena malas atau terlalu kreatif, ada beberapa bagian yang dia ngga kasih lem, tapi pake selotip bening 😅. Oke… diterima.

image

Dan hasilnya…. untuk project pertama… menurut saya ini sudah Sangat Memuaskan!!

image

image

Belanja Di AliExpress

Belanja online memang mengasyikkan dan “berbahaya”. Kalo ngga terkontrol bisa kalap dan tiba-tiba aja duit terkuras.. hehehe.

Tapi memang semakin hari, “online shopping” sudah semakin berkembang. Dulu, masih banyak yang ragu berbelanja via online, termasuk saya. Salah satu faktornya adalah kepercayaan. Benar ngga sih? Jangan-jangan saya ditipu? Dan pertanyaan semacamnya.

Soalnya dulu, waktu Tokobagus baru muncul, saya sempat hampir tertipu oleh salah satu lapak di sana. Sejak saat itu agak trauma dengan yang namanya online shop. Meskipun udah berubah nama jadi OLX, saya tetap trauma di situ. Yang saya percaya waktu itu hanya glodokshop, walopun saya ngga pernah belanja di situ. Saya browsing ke situ hanya buat cek harga 😀 😀

Trus, muncullah bhinneka, dan kawan-kawan. Terakhir yang sempat mengguncang dunia di awal munculnya, ada lazada, tokopedia, sama bukalapak. Nah, di tokopedia saya mulai coba-coba… barang murah dulu… refill cartridge printer 🙂 Abis itu pelan-pelan coba beli barang dengar harga lebih tinggi, sampe ratusan ribu gitu.

Saya pernah beli printer via online dengan harga di atas 4jt, tapi waktu itu saya belum berani di tokopedia, saya ke bhinneka. Terakhir, saya berani beli kamera dengan harga yang tinggi juga di tokopedia tanpa ada rasa khawatir. 🙂

Nah… sekarang saya lagi jajal online shopping dari luar… harganya lebih murah! Kalo ngga urgent, bolehlah belanja di sini. Saya akhirnya beli batere cadangan kamera, trus asesoris gadget, dll. Yaah.. belum berani yang mahal-malah juga. 😀 Tapi memang masalah harga, jauh dari toko online lokal. Salah satu yang saya sering kunjungi adalah AliExpress.com Alhamdulillah, sudah 2 kali belanja di sana, semua barang nyampe dengan selamat. Iyalah barangnya kecil-kecil.. segede koin 😀

 

Mendelegasikan Pekerjaan

Mendelegasikan pekerjaan adalah bukan hal yang gampang. Beda antara memerintah, menyuruh, atau minta tolong, dengan mendelegasikan. Dan konon katanya untuk menjadi pemimpin yang sukses, harus bisa mendelegasikan pekerjaan apa saja. Bagi beberapa orang tertentu – seperti saya – susah, bro…

Banyak alasannya… salah satu penghalang terbesar adalah… ekspektasi yang tinggi (paling ngga sesuai dengan harapan kita), sementara kita ngga yakin dengan kemampuan orang yang akan diserahi tugas. Ini salah besar.

Sedangkan alasan kedua yang juga kadang jadi pikiran adalah, adanya sesuatu yang harus dikorbankan waktu menyerahkan suatu tugas. Misalnya, butuh waktu dan tenaga buat briefing lagi, bahkan mungkin butuh extra cost kalo memang kasusnya adalah memberikan tugas kepada orang baru.

Saya baru saja mengalami. Jadi… ceritanya… saking banyaknya load pekerjaan, saya kepikiran untuk menyerahkan satu-dua pekerjaan yang ngga bisa saya kerjakan dengan optimal (karena belum tau triknya, atau belum ketemu sense-nya). Sementara banyak orang di luar sana yang punya skill yang saya butuhkan. Saya lebih spesifik saja… desain eksterior sebuah gedung. Pekerjaan itu termasuk salah satu dari berbagai rangkaian pekerjaan desain gedung.

Kedengaran sepele, cuma desain eksterior aja.. Smile Tapi ngga semua orang bisa bagus desainnya, termasuk saya, hehe. Akhirnya saya operlah pekerjaan itu. Saya cari freelancer, saya kasih penawaran harga, dan setelah cocok kami mulai bekerja. Dan…. luar biasa! Smile Hasilnya di luar dugaan saya. Maksud saya, saya sudah punya konsep dan ide tentang eksteriornya, saya deskripsikan dalam bentuk tulisan, dan si freelancer ini mampu mengeksekusinya dengan nyaris sempurna!! Model 3D yang diberikan langsung match dengan poin-poin yang saya berikan ke dia.  Dan ajaibnya lagi, dia mengerjakannya hanya 2 hari Open-mouthed smile Pekerjaan yang kalo saya lakukan sendiri bisa 2 minggu. Hehehe…

Akhirnya pikiran saya mulai sedikit terbuka. Saya mulai memetakan pekerjaan-pekerjaan yang bisa saya delegasikan ke orang lain. Bukannya melepas beban. Tanggung jawab tetap aja, karena saya tetap harus mereview pekerjaan tersebut. Yang paling penting dari delegasi pekerjaan adalah, optimalisasi. Pekerjaan yang terhambat kadang gara-gara hal sepele – bingung mau mengerjakan yang mana – akhirnya pelan-pelan bisa terurai.

Fiuh.. semoga… bisa selesai dengan hasil memuaskan.

Kesalahan Dalam Membaca Bilangan Desimal

Ini adalah pelajaran yang paling membekas di kepala saya. Saya pertama kali mendengar ilmu ini langsung dari guru matematika saya waktu saya masih di bangku kelas 2 SMP… hmm… itu kira-kira 20-21 tahun lalu.

Saya lupa waktu itu sedang membahas tentang apa… yang jelas bukan tentang bilangan desimal. Nah, di sesi pelajaran itu, si ibu guru meminta seorang siswa membacakan sesuatu – entah itu soal atau bacaan – yang ada di buku dan diperdengarkan ke seisi kelas.

Pada saat siswa tersebut membaca angka desimal, si ibu guru langsung memotong dan mengoreksi cara baca si anak tersebut.

desimal

Si anak membaca angka (misalnya) 8,35 dengan sebutan “delapan koma tiga puluh lima”. Langsung diralat oleh bu guru, seharusnya yang benar adalah “delapan koma tiga lima”… ngga pake kata “puluh”.

Ini beberapa poin terkait cara membaca bilangan desimal yang benar.

  • Angka belakang koma itu bukan menunjukkan satuan, puluhan, ratusan, dll… jadi, salah total kalo dibaca menggunakan kata “puluh”, “ratus”, “ribu”, dst.
  • Angka 8,35 dan 8,350 dua-duanya sama nilainya. Misalnya kalo dibaca “delapan koma tiga puluh lima” dan “delapan koma tiga ratus lima puluh”… jadi beda nilainya. “Tiga ratus lima puluh” lebih besar daripada “tiga puluh lima”… jadi 8,350 > 8,35 … ??? (ngawur)
  • Jadi, angka di belakang koma dibaca sesuai dengan urutannya:
    • 0,002 dibaca “nol koma nol nol dua
    • 0,020 dibaca “nol koma nol dua nol” (bukan “nol koma nol dua puluh”)
    • 0,100000 dibaca “nol koma satu nol nol nol nol” (bukan “nol koma seratus ribu”)

Kenapa saya menulis ini? Karena dulu – waktu masih rajin nonton berita di TV – hampir semua news anchor yang kebetulan saya tonton, salah ketika menyebutkan angka desimal ini. Coba deh kalo udah berita ekonomi, atau pas lagi bahas bursa saham… perhatikan cara bacanya. Smile Saya ngga tau jaman sekarang, mungkin udah ada perbaikan.. udah lama ngga nonton TV sih.. Open-mouthed smile

Kalo dipikir-pikir, mungkin mereka – yang selama ini salah membaca – mencoba mengadopsi cara baca bilangan desimal dari bahasa Inggris. Oke… coba.. misalnya 8,35 kalo dalam bahasa Inggris dibaca apa?

Ada beberapa cara bacanya, misalnya yang paling sering ditemui:

  • Eight and thirty five hundredths
  • Eight point three five

Kalo 35 mau dibaca sebagai “tiga puluh lima” atau “thirty five”, harus diakhiri dengan level tingkatan yang terbesar.. contoh kasus di atas per-seratus (hundredths). Jadi, seharusnya, kalo mau ikut cara ini, 8,35 dibaca sebagai “delapan dan tiga puluh lima per seratus”… itu benar.

Contoh lain 0,0002 dibaca “two ten thousandths” (dua per sepuluhribu), lebih baku lagi “zero and two ten thousandths”, tapi nol di depan lebih sering diabaikan pengucapannya.

Nah.. kalo koma-nya mau dibaca… yaaa sama juga seperti cara yang kedua di bahasa Inggris… pake kata point diikuti oleh masing-masing angka yang mengikutinya. Smile.

0,0002 biasa dibaca “point o o o two” atau “point zero zero zero two”… nol di depan boleh disebutkan boleh juga tidak disebutkan. Tapi ini (mengabaikan pengucapan nol) ngga lazim kalo di bahasa Indonesia. Nol itu tetap harus dibaca… jadinya “nol koma nol nol nol dua”.

Jadi… jangan salah sebut lagi ya kalo baca bilangan desimal.

Masalah xmlrpc.php Pada WordPress Kelar

Akhirnya… alhamdulillah.

Setelah berbulan-bulan berjibaku dengan masalah xmlrpc.php di website sebelah (duniatekniksipil.web.id), ternyata solusinya cuma gitu… hubungi technical support penyedia hosting-nya.

Yaelaaa… Shifty cape deh

Jadi, file itu pernah merasa “diserang” oleh pihak luar (baca: hacker) yang coba menyusup mempublish postingan secara otomatis dari luar. Itu dilihat dari adanya percobaan melewati file itu secara bertubi-tubi. Padahal… itu dari saya sendiri. Saya lupa, kayaknya memang pernah coba publish berkali-kali (karena koneksi lagi jelek atau apa… lupa), jadinya saya dianggap mau menyerang website itu. Akhirnya file xmlrpc.php itu diamankan oleh si server hosting. File itu masih ada di sana (file manager), tapi diblokir aksesnya.

Baru tadi kayaknya file itu dibebaskan kembali. Hehehe…

Yang penting sekarang bisa lebih rajin lagi posting di sana.