Masjid Diary – File 006: Terusik Di Saat Maghrib

Seperti biasa, jamaah perintis Maghrib ini hanya terdiri dari 2 shaf kurang, dan biasanya pada akhir salam jumlahnya bertambah menjadi sekitar 4 shaf lebih. Artinya, yang masbuk memang hampir selalu lebih banyak.

Kali ini saya ikut sebagai “perintis” tapi sengaja mengambil shaf kedua, karena sedang bawa anak kecil. Nah, kejadiannya bermula ketika ada seorang makmum yang mengambil posisi di sebelah kiri saya. Penampilannya lumayan menarik perhatian.

Dia memakai celana panjang training. Walaupun warnanya hitam (gelap) tapi saya masih bisa mendeteksi bahwa bahannya seperti semacam parasut tebal, ditambah dan motif garis memanjang ke bawah di sebelah kiri dan kanannya, ngga ragu lagi, itu celana training olahraga.

Saya menarik pandangan sedikit ke atas… kaos ketat polos berwarna gelap juga. Dan secara sekilas memang hampir menyerupai penampilan seorang Personal Trainer (PT),atau mungkin Trainee?? 😀 Wallahu a’lam. Kalau saja postur tubuhnya ideal, mungkin hipotesis saya 99% akan berkata kalau dia memang seorang olahragawan.

Pikiran itu buyar ketika takbiratul ihram terlantun dengan mantap melalui pengeras suara. Sebuah aba-aba yang tegas yang menandakan bahwa jamaah tidak boleh lagi melakukan aktivitas lahir dan batin selain shalat.

Gerakan demi gerakan berlalu. Lagi-lagi otak saya bekerja menginterpretasi pandangan yang tertangkap oleh sudut sempit mata saya. Gerakan shalat si olahragawan tadi agak sedikit menyita perhatian. Saya berusaha ngga berpikir macam-macam, tapi ketika melihat sesuatu yang beda dari yang “biasanya” dilakukan oleh orang lain, tentu muncul hasrat yang sangat kuat untuk menganalisa. Kenapa gerakannya seperti itu? Kok aneh? Dan berbagai pemikiran lainnya.

Saya ngga bicara tentang gerakan-gerakan khusus yang biasanya dilakukan oleh aliran tertentu. Saya bicara tentang gerakan-gerakan yang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sepertinya belum pernah belajar tentang gerakan shalat, misalnya anak kecil. Ya. Hanya anak kecil yang sering saya lihat melakukan gerakan seperti itu.

Dan, apakah bisa ditebak apa yang dilakukan oleh orang itu setelah selesai salam? Ya. Langsung pergi.

Nah… dalam kondisi seperti ini, batin saya berontak… kadang mau mengomentari, kadang berusaha menahan. “Don’t judge!! Don’t judge!!” itu aja terus yang berusaha saya bisikkan.

Akhirnya akal sehat lah pemenangnya.
“Mungkin orang itu memang baru belajar shalat. Belum ada yang bimbing. Kamu yang sudah belajar sejak kecil, baca buku sana buku sini, belajar langsung dari orang tua, guru, ustadz, dll, ngga pantas lah berpikiran seperti itu. Apalagi dia sudah bisa melangkah ke masjid. Itu susah lho. Kamu aja masih bolong-bolong ke masjidnya.”

Saya pun teringat hadits Rasulullah SAW tentang orang yang terbata-bata membaca (tilawah) AlQur’an, akan memperolah dua pahala. Mungkin sama dengan orang ini, terlihat masih “terbata-bata” melakukan shalat, tapi sesungguhnya dia mendapat pahala yang lebih besar karena usahanya.

Semoga kita selalu terhindar dan berusaha menghindari prasangka-prasangka buruk, walaupun itu terucap di dalam hati.

Berusahalah mengurangi satu aja prasangka buruk hari ini.
#DontJudge
#SpreadSalaam

Advertisements

Masjid Diary – File 004: Ramadhan

Di bulan Ramadhan, ada 2 tempat yang mendadak menjadi lebih ramai daripada bulan-bulan lainnya… masjid dan panti asuhan 🙂

Masjid dan Ramadhan memang erat sekali hubungannya. Ada ibadah tarawih yang dianjurkan dilaksanakan di masjid. Aneh ya? Padahal status shalat wajib kan lebih utama ya? Kenapa shalat wajibnya lebih sepi daripada tarawih? hehe..

Paling ngga ada beberapa alasannya:… salah satunya… Tarawih itu spesial, hanya dilaksanakan sewaktu-waktu. Apalagi tarawih pertama, itu yang banyak dikejar-kejar… makanya tarawih yang paling rame adalah tarawih pertama, dan tarawih yang paling sepi adalah tarawih terakhir. Kenapa? karena udah mulai bosan? Iya kali ya

Shalat tarawih aja yang paling banyak dilakukan 30 kali berturut-turut orang bisa bosan… apalagi shalat wajib yang 5 kali sehari seumur hidup sampai mati… 2 hari aja mungkin udah bosan kali ya?

Hehe… tapi ternyata ngga lho. Justru shalat wajib di mesjid itu bikin “ketagihan”. Yaaa.. saya juga belum bisa full 5 waktu di masjid sih. Masih ada 1 yang susaaah banget. 😀 Tapi insya Allah… target tahun ini… harus bisa lebih baik dari tahun kemarin!

Amin

Masjid Diary – File 003: Anak-Anak

Nabi menganjurkan kepada kita untuk membiasakan mengikutkan anak ke masjid ketika shalat maupun sewaktu ada taklim.Nah, yang sering menjadi masalah di sini adalah perilaku anak-anak di masjid, khususnya pada saat shalat berjamaah sedang berlangsung.

Kalau anak-anak yang didampingi orang tuanya sih sebagian besar dari mereka masih bisa dikontrol, masih bisa diberi pemahaman, dan cenderung akan berada di dekat orang tuanya.

Tapi kan banyak juga tuh anak-anak yang sengaja memisahkan diri dan berkumpul bersama sebayanya, atau memang anak-anak yang datang tanpa ditemani orang tua mereka. Apa yang mereka lakukan? Sudah bisa ditebak… bermain, membuat gaduh selama shalat berlangsung.

Tiap masjid sebenarnya punya metode yang beda-beda dalam mengatur anak-anak ini, sesuai dengan karakter lingkungan di sana.

Ada yang memisahkan jamaah orang dewasa dengan anak-anak, khususnya anak-anak yang – maaf – agak sulit diatur. Jadi, mereka diberi tempat khusus, terpisah dengan jamaah dewasa, jadi kalopun mereka mau bermain, ngga akan terlalu mengganggu jamaah lain. Ada yang meletakkan mereka di lantai 2 misalnya… jadi sepanjang shalat, yang lantai 1 pada khusyuk, di lantai 2 kayak pasar.

Cara ini menguntungkan jamaah dewasa, tapi ngga sama sekali buat anak. Anak akan susah belajar dan akan menjadikan shalat berjamaah adalah arena bermain yang seru. Anak-anak ini sih cenderung bakalan lebih rajin ke masjid, tapi motivasinya buat bermain, bukan buat shalat.

Ada juga yang pakai cara menyatukan jamaah dewasa dan anak-anak, tapi anak-anak diposisikan di shaf agak belakang. Cara ini sedikit lebih ampuh daripada cara pertama. Sebagian anak akan tertib shalat, dan sebagian lagi – yang memang agak susah diatur – akan berusaha tetap merusak suasana dengan cara bercanda, cekikikan, melakukan gerakan-gerakan yang mengganggu, dll.

Cara yang lain, ada juga yang memisahkan anak-anak ini menjadi sendiri-sendiri, disisipkan di antara dua jamaah orang dewasa. Tujuannya biar si anak ngga dikasih kesempatan untuk mengganggu pelaksanaan shalat. Saya juga pernah lihat cara ini, tapi yaaa kalo memang anaknya keras kepala tetap aja gagal. Anak-anak yang sudah dipecah-pecah ini, sengaja berdiri dulu di tengah-tengah jamaah dewasa. Begitu kedua orang dewasa di sampingnya sudah takbiratul ihram, mereka langsung kabur, keluar dari shaf dan berkumpul lagi bikin gaduh.

Kemarin, saya agak telat masuk ke jamaah… shaf sudah rapi… saya lihat ada 3 anak berkumpul di satu shaf barisan belakang. Sebelah kiri mereka sudah ada jamaah dewasa. Harusnya saya masuk di sebelah kanan mereka. Tapi saya malah masuk ke tengah-tengah mereka, saya pisahin 2 anak di kiri sana, 1 anak yang paling gede di kanan saya. 2 Anak yang di kiri saya sedikit tertib sih, cuma sambil ngobrol. 1 anak di kanan saya ini yang “gatal”, risau, gundah.. 😀 Akhirnya, di rakaat ke dua atau tiga, dia ngga tahan… dia melancarkan “serangan” pada saat saya sedang sujud. Dia ngga sujud, trus menjulurkan tangannya ke anak di sebelah kiri saya (ngga tau mendorong atau nyolek). Abis itu rusuhlah mereka, main tembak-tembakan!

Yaa terganggu lah!! Tadinya saya niat mau tegur mereka pada saat selesai shalat. Tapi mereka udah kabur duluan pas selesai salam pertama. #%^&$&#!!!

Masjid Diary – File 002 : Salaman

Bersalaman setelah shalat, masalah “ngga penting” ini sempat diperdebatkan secara serius di media sosial dan beberapa forum online. Yaela… buang-buang energi. Sampai-sampai muncullah kubu garis keras antara pro dan kontra.

Saya mendukung yang mana? Kalo misalnya gara-gara masalah ini sampe muncul perpecahan di masjid, lebih baik saya ngga ke masjid.

Trus, yang mana yang saya amalkan?

Cerita dulu yak…. Dulu, waktu kecil… saya – jujur – cuma ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan di sebuah masjid. Karena banyak yang salaman setelah shalat, saya pun ikut ritual itu.

Setelah pindah, belajar, dapat ilmu, akhirnya mulai paham kalau bersalaman itu bukan bagian dari shalat, dan bukan bagian dari “hal-hal yang disunnahkan setelah melakukan shalat”. Setelah shalat bukankah kita sangat dianjurkan untuk melakukan dzikir dan do’a?

Ada sebuah kasus, dulu… saya pernah sholat di sebuah musholla, di situ ada satu orang yang sudah sholat duluan. Saya bermakmum kepada orang itu. Setelah dia salam, saya berdiri melengkapi raka’at karena saya tadi masbuk. Setelah saya salam, saya mencoba mencolek dia mengajak bersalaman. Ternyata dia sedang khusyuk berdoa! Glek!… Sumpah… ngga enak banget rasanya.

Dan… kejadian itu pun terulang seolah-olah menjadi karma buat saya. Kali ini giliran saya yang “diganggu” oleh orang yang ingin bersalaman setelah shalat. Tapi posisi saya waktu itu bukan sedang berdoa, tapi masih baca tahiyat! Kebetulan imamnya agak cepat tahiyat akhirnya (atau saya yang kelamaan ya?), jadi saya agak telat mengucapkan salam. Sementara makmum di kiri kanan saya sudah salam, dan langsung menyodorkan tangannya… padahal jelas-jelas posisi saya masih duduk tahiyat akhir dengan telunjuk masih terjulur ke depan. 😀

Jadi… yaaa gitu deh. Sampai sekarang, sikap saya adalah… setelah shalat langsung dzikir, sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kalopun ada yang minta bersalaman, tentulah ngga ditolak. Cuman… memang saya pernah dengar/baca, ada orang yang terang-terangan menolak bersalaman setelah shalat. Wallahu a’lam… no comment-lah untuk kasus yang ini 🙂 Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.

Justru saya punya waktu khusus untuk bersalaman lebih leluasa, misalnya… pada saat berpapasan masuk masjid, pada saat berdiri merapatkan shaf, pada saat selesai dzikir/doa/shalat sunat dan berpapasan dengan jamaah lain, dan masih banyak waktu lain di luar shalat dimana kita bisa bersalaman justru dengan  lebih ikhlas, lebih bebas saling lempar senyum, dan saling bertanya kabar. Ngga mungkin kan kita melakukan itu pada saat bersalaman setelah shalat? Hehe 🙂

Wallahu a’lam.

Multilevel Pahala

Ada sebuah kisah… Kisah ini dinukil dari hadist Muslim No. 3509 (versi Syarh Shahih Muslim No. 1893)

+++

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sambil berkata,
"Wahai Rasulullah, jalan kami telah terputus karena hewan tungganganku telah mati. Oleh karena itu, bawalah saya dengan hewan tunggangan lain".

Laki-laki ini ingin meminta bantuan kepada Rasulullah untuk diberi hewan tunggangan. Namun Rasulullah menjawab,
"Saya tidak memiliki"

Tiba-tiba ada seorang laki-laki lain yang mendengar dan berkata,
"Wahai Rasulullah… saya dapat menunjukkan seseorang yang dapat membawanya"

Maka beliau – Rasulullah bersabda,
"Barang siapa dapat MENUNJUKKAN SUATU KEBAIKAN, maka dia akan mendapatkan pahala seperti ORANG YANG MELAKUKANNYA"

+++

Masya Allah… sungguh besar rahmat Allah SWT.

Sadar atau tidak, kita sangat sering menyaksikan fenomena ini, bahkan kita sendiri mungkin pernah mengalaminya.

Ada saudara yang kesulitan dalam finansial, kita mungkin merasa belum mampu menolongnya, tapi kita memberitahukannya kepada saudara lain sehingga ada yang bisa membantunya. Pahala orang yang membantunya itu juga sampai ke kita, sebagai orang yang MENUNJUKKAN SUATU KEBAIKAN.

Ada rekan yang kesulitan dalam belajar, dan kita tidak bisa mengajarinya, tapi kita membawanya bertemu atau mengenalkannya dengan rekan lain yang lebih mampu. Selama mereka dalam proses belajar, insya Allah pahala kebaikannya juga terus mengalir kepada kita. Apalagi jika ilmunya itu digunakan untuk hal-hal yang  bermanfaat. Masya Allah.

Yang cukup sering terjadi, ada seseorang yang sedang mengalami musibah, misalnya sakit, butuh darah misalnya… dan belum tentu kita bisa membantunya. Apa yang kita lakukan? Kita menyebarluaskan (broadcast) informasi itu, sehingga ada orang yang membacanya dan tergerak untuk membantunya. Dan pahala kebaikannya juga kita sampai ke kita.

Jadi.. dengan melihat begitu luasnya rahmat dan kasih sayang Allah SWT, alasan apa lagi yang bisa kita berikan untuk tidak berbuat baik, minimal menyebarkan kebaikan.

Bahkan… menyebarkan pelajaran ini pun, jika ada yang mengamalkannya.. pahalanya juga akan mengalir ke kita.

Sudah siap berbuat baik hari ini? Saatnya panen pahala. Allahu Akbar!

 

Wallahu a’lam.

note:
Hadits terkait lainnya dengan pelajaran di atas:
Abu Daud : 4464 (shahih)
At Tirmidzi : 2595 (shahih)
Ahmad : 16465
Ahmad : 21307
Ahmad : 21319

Masjid Diary – File 001 : Sandalnya Mas

Pernah lihat pemandangan seperti ini?

Ada rak sepatu, tapi sandal & sepatu berserakan di luar. Trus, apa gunanya rak di simpan di situ??

Saya lupa ambil fotonya, tapi rak itu masih kosong!

Mungkin ada yang mikir, “ah.. masalah gitu doang dibahas…

Untuk sementara, kesimpulan saya adalah bahwa kebanyakan pengunjung musholla/mesjid ini termasuk kategori:

  • Malas gerak. Malas buka pintu rak, bungkuk ngambil sepatu, masukin ke dalam rak. Lama dan buang energi. Lebih cepat kalo tinggal lepas sambil jalan ngeluyur… Done!
  • Ikut-ikutan. Kalo udah ada satu yang melakukan, itu hukumnya menjadi Sah atau Mubah, jadi boleh diikuti. Ngga cuma di sini, tapi hampir di mana-mana.
  • Malas baca. Udah dikasih rak, dikasih petunjuk, tapi ngga dikerjakan juga. Ini baru satu petunjuk sederhana. Bagaimana dengan petunjuk hidup dalam satu kitab?

Pesan saya buat yang baca tulisan ini:

“Semoga kecelakaan menimpa siapa saja yang udah tau ada rak yang masih kosong tapi masih menyimpan sandal/sepatu di luar, termasuk diri saya sendiri.”

Amin.

Lebay amat doanya, bro? Biasa aja kali.

Yaaa… bayangin aja kalo yang digituin adalah rumah atau fasilitas milik anda misalnya. Anda udah susah payak bikin peraturan biar suasana rapi, nyaman, bersih, tapi masih dilanggar juga. Fasilitas ini bukan milik siapa-siapa lho.. bukan milik pengelola gedung… bukan milik pengurus. Ini fasilitas buat tempat bersujud… masjidun… tempat sholat… musholla… spesial milik Allah.

Investasi Untuk Investasi

Saya punya 2 macam investasi… atau… katakanlah bisnis. Yang satu investasi atau bisnis yang bisa diatur, dan satunya lagi investasi atau bisnis yang tidak bisa diatur atau dikelola.

Bisnis atau investasi yang pertama, bisa diatur dengan ilmu dan pengetahuan tentang bisnis yang baik. Bisa dihitung dengan cermat, bisa dianalisis mulai dari modal hingga laba-rugi, bisa dikontrol, sehingga memperoleh hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan. Misalnya, dengan modal sekian, saya bisa mengelolanya sedemikian rupa, sehingga dalam kurun waktu tertentu saya bisa memperoleh keuntungan tertentu pula. Ada yang namanya target, dan target itu bisa tercapai bisa ngga. Laba adalah tujuan utama… tapi siap-siap juga kalo sewaktu-waktu merugi. Tipe investasi dan bisnis macam ini yang paaling banyak digemari orang, dan buaaanyak macam dan jenisnya.  Saya tentu memilih yang sesuai dengan kemampuan dan keahlian saya.

Sementara investasi atau bisnis yang kedua, sangat bertolak belakang dengan yang pertama. Ngga perlu analisa yang mendalam, ngga perlu target, ngga bisa dicatat atau dibukukan,.. pokoknya susah menghitungnya. Sangat susah… belum ada orang yang bisa menghitung dengan cermat jenis bisnis ini. Dan… cuma sedikit orang yang tertarik dengan investasi ini. Ngga sebanyak investasi yang pertama. Mungkin karena serba ngga jelas nilai dan waktunya, jadi orang susah membuat perencanaan untuk model investasi ini.

Sebenarnya sih gampang… karena investasi yang kedua ini, kita hanya menyetor, mengeluarkan uang, membelanjakan uang, memberikan modal,… tanpa perhitungan dan tanpa target keuntungan. Karena emang ga bisa dihitung.

Lha… trus ngapain ikut investasi macam ini?

Karena kelebihan investasi yang kedua ini adalah kita akan selalu dapat laba atau keuntungan… dijamin. Investasi ini ngga mengenal kata rugi. Yang ada cuma untung, untung, dan untung, dan nilainya ngga bisa diprediksi. Selalu di atas BEP (break even point, alias titik balik modal). Kita invest sejuta, yang kita dapat lebih dari sejuta… dan itu mutlak… walaupun bentuknya ngga harus berupa harta aktif (misalnya kas, dan lain-lain).

Luar biasa bukan? Coba kasih contoh, ada ngga yang pernah rugi atau jatuh bangkrut gara-gara terlalu banyak menghabiskan uang buat jenis investasi yang bernama infak dan sedekah?

Saya dan kita semua tentu punya mimpi dan cita-cita bisa berinvestasi di jenis yang kedua ini lebih banyak, lebih intens, dan lebih serius dibanding yang pertama. (Amiin).

Dan sepertinya untuk bisa seperti itu, kita maksimalkan ikhtiar di investasi yang pertama dengan baik dan benar.

#semogasehatsuksesselalu

Foto Ala Media

Lama juga blog ini saya tinggalkan. Maklum… sejak ramadhan kemarin banyak hal-hal yang lumayan menyita perhatian, konsentrasi, waktu, dan tenaga. Sampai-sampai yang jadi korban adalah kondisi tubuh sempat drop beberapa waktu lalu. Yang paling kerasa adalah masa-masa setelah lebaran, biasa… di hampir sebagian besar rumah tangga, khususnya di kota-kota besar mengalami masalah ini, krisis SDM alias kesulitan mencari asisten rumah tangga. Alhasil, selama lebih dari seminggu anak saya terpaksa bolos dulu, karena kami harus mengungsi ke rumah kerabat. Maklum…kedua orang tuanya adalah pekerja semua :D.

Tidak banyak yang mau saya share di postingan kali ini. Tapi ada foto menarik yang saya peroleh sewaktu mudik kemarin. Sebenarnya sih foto ini sudah pernah ada yang posting di forum lain… 1cak.com kalo gak salah (versi Indonesianya 9gag.com). Tapi foto yang ini asli dari tangan dan kamera saya sendiri. 😀 Jadi, ngga nyolong punya orang. Hehe..

Saya cuma mau kasih lihat kurang lebih cara kerja sebagian besar media informasi yang kita kenal, misalnya koran, televisi, portal berita di internet, dll.

Continue reading “Foto Ala Media”