Bagaimana Pun Juga Harus Menulis

Hehehe… begini lah jadinya kalau punya target kejar setoran. Nihil kualitas. Open-mouthed smile

Yang penting ada aja dulu. Saya lagi mau coba memahami (baca: merasakan), bagaimana sensasi pengalaman kejar setoran itu sebenarnya. Kayak… itu… sinetron-sinetron Open-mouthed smile Yang penting bisa tayang, isi ngga peduli. Saya yakin, hal-hal semacam itu udah ga lewat Quality Control lagi.

Kalo di dunia kerja, khususnya yang saya geluti sekarang – konstruksi – jangan coba-coba pake sistem kejar setoran. Banyak sih kejadian di proyek-proyek massal seperti perumahan, ruko, dll. Yang penting jadi, tepat waktu, kualitas belakangan. Dan.. memang sebagian besar seperti itu.

Di kerjaan saya – engineering/design – juga ada sistem kejar setoran, tapi itu sifatnya bukan final. Karena yang kita setor itu memang untuk di-review. Kecuali kalo udah tahap final – For Construction – nah.. itu ngga boleh sama sekali pake sistem gini. Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Pembangunan di Kawasan BSD-Jombang/Bintaro

image

Ini adalah view dari sebuah lahan parkir di sebuah lokasi di daerah BSD-Jombang, Tangerang Selatan.

Daerah ini sudah berada di luar area BSD, menuju ke arah Jombang, Bintaro, melewati jalan desa yg cukup kecil tapi rame. Soalnya ini termasuk salah satu akses untu mencapai BSD tanpa melewati jalan tol.

image

Jalannya sudah menggunakan perkerasan kaku alias beton.

Anak saya, si Bilal kebetulan bersekolah di area ini. Kalo ditarik garis lurus dari rumah mungkin sekitar 6-7 km, tapi kalo lintasan jalur mobil bisa mencapai 10 km. Kalo pake motor bisa lewat gang, total jaral tempuh hampir 8 km. 😎

Dan… di sekitar sekolahnya sudah bermunculan apartemen 😮  Padahal lokasinya cukup jauh dari jalan raya yg lebih besar. Tapi kalo dihitung-hitung, paling nggak cuma 10 menit udah bisa mencapai pintu tol Jakarta Serpong… kalo ditambah antrian lampu merah yaa 15 menit lah.

Cukup strategis.

Ternyata Ngga Seru

Menulis tiap hari di pagi hari ternyata ngga seru Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Bisa sih… (kecuali kemarin)… tapi idenya biasa aja. Hehehe… Maklum, otak saya biasanya bekerja maksimal di malam hari. Ide-ide justru banyak muncul di malam hari. Produktifitas di malam hari lebih besar daripada siang hari. Kenapa ya? Bingung.

Kalo pagi itu bawaannya malaasss. Lebih enak liat kasur. Memulai untuk menggerakkan badan itu susah banget. Inersianya tinggi! Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Salah Tidur

Sakit pada leher karena posisi waktu tidur tidak bagus… itu biasa diistilahkan “salah tidur”. Entah siapa yang pertama kali menemukan istilah ini. Aneh. Tidur kok disalahin Open-mouthed smile

Dulu saya pernah mengalami hal seperti ini juga, trus ngomong ke rekan-rekan kerja, “Leherku sakit. Salah tidur..”

Trus, ditimpali oleh seorang rekan, “Emang kamu tidur di mana semalam? Di aspal?”

Open-mouthed smile Open-mouthed smile

salahtidur

Wasem!

Tipe Pendukung Seperti Apakah Anda?

Luar biasa ya. Menjelang pilpres buanyak buanget penduduk yang berkoar-koar di mana-mana… Entah itu di media sosial, media resmi, tulisan lepas, sampai obrolan sehari-hari. Ada yang semangat mendukung salah satu capres. Ada yang cukup jadi secret admirer aja, biar Tuhan dan dia yang tau apa yang akan dipilih. Ada yang malu-malu kucing. Macam-macam pokoknya.

 image

Tapi yang paling banyak saya perhatikan adalah… pendukung yang sangat jelas memperlihatkan dukungannya pada salah satu capres, sangat yakin dengan capres pilihannya, sering mengagung-agungkan kekuatan capresnya… dan sesekali mencari kelemahan dan aib capres lain dan mengumbar-umbarnya di depan umum.

PERTINYIINNYI!!!

Yang ada di benak saya sangat sederhana…

Kalau capres pilihan mereka nantinya BERHASIL menjadi presiden, tapi KINERJA-nya kurang memuaskan (yaaa Presiden kan juga manusia)…apa yang akan mereka (para pendukung.red) akan lakukan?

Mari kita simak..

Bertanggung Jawab

Kelompok pertama adalah pendukung yang bertanggung jawab. Kalo memang nanti Presidennya mengecewakan, mereka akan berusaha mengkritik, menyuarakan aspirasi, atau apapun itu untuk menyentil Presiden pilihan tersebut. Terserah caranya seperti apa, bisa dengan nulis surat terbuka, datang ke DPR, bikin lagu, masuk tipi,… pokoknya 1001 cara akan dia kerahkan demi meluruskan kembali atau mengingatkan Presiden tersebut.

Nah…saya sangat yakin, tipe seperti ini termasuk pendukung yang langka, jarang ditemukan. Dan inilah tipe pendukung yang benar. Malah yang lebih berhak mengkritik Presiden terpilih adalah justru para pemilihnya.

Berhianat

Kelompok yang kedua adalah pendukung tipe penghianat. Begitu Presidennya meyimpang dari cita-cita awal, mereka pura-pura tutup muka, tidak mau tau dan tidak mau ingat kalo dia pernah memilih Presiden itu. Dia tidak mau di-bully oleh pendukung yang dulunya tidak memilih Presiden tersebut.

Tipe pendukung seperti ini tidak sedikit juga.

Munafik

Kelompok ketiga adalah pendukung munafik. Waktu masa kampanye dia aktif mendukung dan mengajak orang-orang agar mengikuti pilihannya. Tapi, begitu Presidennya mengecewakan, mereka tidak mengkritik, tapi sebaliknya ikut-ikutan menghujat bersama barisan pendukung oposisi, mereka sibuk dengan urusan pribadi masing-masing, mereka juga ngga mau tau, pura-pura peduli tapi ngga ada action. Kalopun ada action, itu cuma basa-basi, ngga ada artinya, pepesan kosong.

Tipe pendukung ini yang paling banyak ditemui…

Termasuk saya… dan anda… 😀 😀

image

nb: anda akan menemukan paradoks di sini…

Saya secara jujur mengaku kalo termasuk pendukung munafik. Bukankah ciri orang munafik tidak berkata jujur? Jadi, saya jujur atau tidak jujur? Munafik tapi jujur. Jujur tapi munafik. Bingung?

Sama…

Batik Pilihan Wanita

Hari Jumat… pake batik. Ngomong-ngomong soal batik… beberapa hari/pekan yang lalu, saya ke kantor pake batik, walopun hari itu bukan hari Jumat, tapi lagi pengen pake batik.

***

Hari itu kebetulan saya ada perlu ke ruangan HRD. Kebetulan beda lantai dengan bagian engineering. Nah, di lantai engineering kan di dominasi oleh kaum Adam, sementara di lantai non-engineering, persentase kaum Hawa-nya lebih banyak, termasuk di ruang HRD, yang kebetulan waktu itu ada 2 orang wanita sedang bertengger di dalamnya.

Begitu saya menyerahkan surat (oiya… surat cuti! baru ingat)… Salah satu ibu-ibu mengomentari batik saya.

“Batiknya bagus,” kata ibu tersebut (sebut saja namanya Mawar)…. jelek amat konotasinya ya?

“Terima kasih, bu” jawab saya.

Trus.. ibu-ibu yang satunya lagi nyeletuk…

“Pasti dibeliin istrinya ya…,”

***

Hahaha.. tau aja! Emang sih… hampir semua batik yang saya punya….mmmm tunggu dulu… bukan “hampir semua”, tapi.. SEMUA batik yang saya punya saat ini adalah hasil perburuan istri saya. Motifnya, kalo dilihat dari kacamata laki-laki (khususnya saya) memang absurd. Tapi saya sadar kalo “sense of fashion” saya memang agak payah 😀  Jadi, untuk urusan penampilan (terutama pakaian kerja), saya serahkan ke istri saya.

Setelah terbiasa dengan pilihan istri, akhirnya saya jadi terbiasa memperhatikan pakaian orang lain, khususnya laki-laki. Paling tidak bisa dikelompokkan sbb:

1. Pria yang selera fashionnya “cari aman”, karena ga pede bereksperimen dengan pakaian yang ngga standar. Warna yang digunakan warna standar, mainstream, tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian, modelnya juga ikut peraturan dan standar yang berlaku. Biasanya pria seperti ini JARANG menggunakan pakaian pemberian, dan HAMPIR SEMUA pakaian yang dia punya adalah hasil pilihannya sendiri, bukan pilihan orang lain. Dulu saya pernah berada di zona ini. 😀

2. Pria yang cukup pede karena selera fashionnya tinggi. Kalo anda bekerja di lingkungan yang dominan cowok, misalnya engineering… pria seperti ini termasuk makhluk langka. Tapi, sebaliknya di lingkungan kerja yang lebih sosial, misalnya marketing, advertising, accounting, dll… pria seperti ini mudah ditemukan di setiap sudut ruangan.

3. Pria yang menggantungkan nasib fashionnya kepada orang lain, misalnya istri/saudara/orang tua. Nah, sekarang saya berada di sini. Awalnya agak risih, tapi lama kelamaan ternyata menambah kepercayaan diri juga. Pilihan modelnya juga nggak terlalu ekstrim lah, disesuaikan dengan kondisi. Paling di permainan motif dan warna aja. Bahkan saya pernah dapat komentar dari atasan saya, “Gan… baju kamu kok me-ji-ku-hi-bi-ni-u gitu?” 😀 😀 Malah, salah satu kemeja favorit saya saat ini warnanya adalah PINK alias merah muda. 😀 😀

4. Pria yang ngga peduli dengan penampilannya. Yang penting ada kain yang melekat di badan, aurat tertutup,… go on! Bersih dan wangi itu pilihan kedua. Masalah matching ato nggak, itu ngga masuk pertimbangan. Toh… kalopun nggak matching paling tidak dia akan menarik perhatian orang. 😀

(cape deh)

Membuat Model Robot 3D… Tapi….

Dulu saya pernah melakukan pekerjaan ngga penting, menggambar tokoh kartun menggunakan AutoCAD, padahal AutoCAD itu adalah software untuk membuat gambar teknik.

Kali ini, saya punya pekerjaan ngga penting lainnya, membuat model robot 3D. Tapi…software yang digunakan juga bukan software yang sesuai. Saya coba pake StaadPro.

StaadPro adalah software untuk analisis dan desain struktur/konstruksi, bisa untuk rumah, gedung, jembatan, pokoknya produk-produknya orang-orang teknik sipil lah. Selain StaadPro, ada juga software lain yang cukup populer misalnya SAP2000, ETABS, dll.

Robot-JS-02 Robot-JS-01

Tantangannya, bisakah software ini digunakan untuk membuat model 3D obyek selain bangunan sipil? Yang kepikiran oleh saya adalah ROBOT… yaaa.. Robot sederhana lah. Dan hasilnya adalah seperti gambar di bawah ini…
Continue reading “Membuat Model Robot 3D… Tapi….”