Masjid Diary – File 005: Terganggu

Banyak hal yang membuat kita merasa terganggu konsentrasinya sewaktu beribadah di masjid. Yang saya alami semalam agak unik.

Saya berdiri kira-kira di shaf ke empat, dengan posisi di sisi kiri imam. Udah hampir di ujung shaf, ada 4 atau 5 orang lagi di sebelah kiri saya.

Ada satu jamaah di sebelah kiri saya – persis di sebelah kiri saya – berdiri shalat dengan posisi nggak lurus ke depan, tapi agak serong ke kanan. Jujur aja sepanjang shalat ngga bisa konsen. Memang ngga ekstrim sih kelihatannya, tapi bagi saya yang ada persis di sebelah kanannya, agak gimana gitu. Bisa dibilang risih. πŸ˜€

Soalnya gini.. kalo saya menengok ke kanan… barisannya itu lurus, rapih, semua orang kelihatan. Begitu saya nengok ke kiri, yang kelihatan cuma bapak itu aja πŸ˜€ Karena badannya agak nyerong. πŸ˜€

Tapi anehnya.. teorinya kan, kalo posisi dia memang serong, harusnya kepala atau badan kami “bertabrakan” pada saat ruku atau sujud. Tapi ini ngga… malah jadi sejajar, lurus ke depan!…

-aneh-

Advertisements

Pasar, Seburuk-Buruk Tempat

Masjid Diary – File 004: Ramadhan

Di bulan Ramadhan, ada 2 tempat yang mendadak menjadi lebih ramai daripada bulan-bulan lainnya… masjid dan panti asuhan πŸ™‚

Masjid dan Ramadhan memang erat sekali hubungannya. Ada ibadah tarawih yang dianjurkan dilaksanakan di masjid. Aneh ya? Padahal status shalat wajib kan lebih utama ya? Kenapa shalat wajibnya lebih sepi daripada tarawih? hehe..

Paling ngga ada beberapa alasannya:… salah satunya… Tarawih itu spesial, hanya dilaksanakan sewaktu-waktu. Apalagi tarawih pertama, itu yang banyak dikejar-kejar… makanya tarawih yang paling rame adalah tarawih pertama, dan tarawih yang paling sepi adalah tarawih terakhir. Kenapa? karena udah mulai bosan? Iya kali ya

Shalat tarawih aja yang paling banyak dilakukan 30 kali berturut-turut orang bisa bosan… apalagi shalat wajib yang 5 kali sehari seumur hidup sampai mati… 2 hari aja mungkin udah bosan kali ya?

Hehe… tapi ternyata ngga lho. Justru shalat wajib di mesjid itu bikin “ketagihan”. Yaaa.. saya juga belum bisa full 5 waktu di masjid sih. Masih ada 1 yang susaaah banget. πŸ˜€ Tapi insya Allah… target tahun ini… harus bisa lebih baik dari tahun kemarin!

Amin

Apakah pasar itu??

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. :mrgreen:🐴

image

Banyak yang bilang harga barang di pasar tradisional masih lebih murah daripada harga di pasar swalayan. Ah… ngga juga.

Ngga bisa digeneralisir seperti itu. Sudah saya buktikan sendiri. Saya ke pasar hanya untuk belanja sayur mayur, ikan, daging dan ayam. Bukan karena harganya murah, tapi pilihannya buanyak.

image

Kalo masalah segar ato ngga wallahu a’lam.. di pasar tradisional banyak juga barang-barang ngga segar.

Nah… khusus untuk buah… saya pilih swalayan. Karena memang lebih murah.

Masjid Diary – File 003: Anak-Anak

Nabi menganjurkan kepada kita untuk membiasakan mengikutkan anak ke masjid ketika shalat maupun sewaktu ada taklim.Nah, yang sering menjadi masalah di sini adalah perilaku anak-anak di masjid, khususnya pada saat shalat berjamaah sedang berlangsung.

Kalau anak-anak yang didampingi orang tuanya sih sebagian besar dari mereka masih bisa dikontrol, masih bisa diberi pemahaman, dan cenderung akan berada di dekat orang tuanya.

Tapi kan banyak juga tuh anak-anak yang sengaja memisahkan diri dan berkumpul bersama sebayanya, atau memang anak-anak yang datang tanpa ditemani orang tua mereka. Apa yang mereka lakukan? Sudah bisa ditebak… bermain, membuat gaduh selama shalat berlangsung.

Tiap masjid sebenarnya punya metode yang beda-beda dalam mengatur anak-anak ini, sesuai dengan karakter lingkungan di sana.

Ada yang memisahkan jamaah orang dewasa dengan anak-anak, khususnya anak-anak yang – maaf – agak sulit diatur. Jadi, mereka diberi tempat khusus, terpisah dengan jamaah dewasa, jadi kalopun mereka mau bermain, ngga akan terlalu mengganggu jamaah lain. Ada yang meletakkan mereka di lantai 2 misalnya… jadi sepanjang shalat, yang lantai 1 pada khusyuk, di lantai 2 kayak pasar.

Cara ini menguntungkan jamaah dewasa, tapi ngga sama sekali buat anak. Anak akan susah belajar dan akan menjadikan shalat berjamaah adalah arena bermain yang seru. Anak-anak ini sih cenderung bakalan lebih rajin ke masjid, tapi motivasinya buat bermain, bukan buat shalat.

Ada juga yang pakai cara menyatukan jamaah dewasa dan anak-anak, tapi anak-anak diposisikan di shaf agak belakang. Cara ini sedikit lebih ampuh daripada cara pertama. Sebagian anak akan tertib shalat, dan sebagian lagi – yang memang agak susah diatur – akan berusaha tetap merusak suasana dengan cara bercanda, cekikikan, melakukan gerakan-gerakan yang mengganggu, dll.

Cara yang lain, ada juga yang memisahkan anak-anak ini menjadi sendiri-sendiri, disisipkan di antara dua jamaah orang dewasa. Tujuannya biar si anak ngga dikasih kesempatan untuk mengganggu pelaksanaan shalat. Saya juga pernah lihat cara ini, tapi yaaa kalo memang anaknya keras kepala tetap aja gagal. Anak-anak yang sudah dipecah-pecah ini, sengaja berdiri dulu di tengah-tengah jamaah dewasa. Begitu kedua orang dewasa di sampingnya sudah takbiratul ihram, mereka langsung kabur, keluar dari shaf dan berkumpul lagi bikin gaduh.

Kemarin, saya agak telat masuk ke jamaah… shaf sudah rapi… saya lihat ada 3 anak berkumpul di satu shaf barisan belakang. Sebelah kiri mereka sudah ada jamaah dewasa. Harusnya saya masuk di sebelah kanan mereka. Tapi saya malah masuk ke tengah-tengah mereka, saya pisahin 2 anak di kiri sana, 1 anak yang paling gede di kanan saya. 2 Anak yang di kiri saya sedikit tertib sih, cuma sambil ngobrol. 1 anak di kanan saya ini yang “gatal”, risau, gundah.. πŸ˜€ Akhirnya, di rakaat ke dua atau tiga, dia ngga tahan… dia melancarkan “serangan” pada saat saya sedang sujud. Dia ngga sujud, trus menjulurkan tangannya ke anak di sebelah kiri saya (ngga tau mendorong atau nyolek). Abis itu rusuhlah mereka, main tembak-tembakan!

Yaa terganggu lah!! Tadinya saya niat mau tegur mereka pada saat selesai shalat. Tapi mereka udah kabur duluan pas selesai salam pertama. #%^&$&#!!!

Warcraft? X-Men Apocalypse? Atau CA:Civil War?

Dalam waktu yang berdekatan, 3 film yang ditunggu-tunggu itu dengan sukses menggemparkan dunia sinema. πŸ™‚ Yaa.. mungkin ada yang bilang…. Warcraft?? Hellouw?

Oke. Kalo dari sisi marketing dan promosi, tentulah Captain America : Civil War yang jadi pemenangnya. Dan hasil eksekusinya cukup sebanding dengan ekspektasi penonton. Tapi, bagi yang sudah ngikutin film-filmnya Marvel Cinema Universe, mungkin sudah familiar dengan “style” film-film mereka. Jadi… yaah.. bagi saya pribadi tetap oke.. memukau. Kalo penilaian saya… 7 of 10 lah.

Yang kedua, X-Men Apocalypse. Kalo kita simak Post Credit Scene di film X-Men sebelumnya (Days of Future Past), di situ sudah kelihatan si Apocalyse lengkap dengan 4 pengawalnya. X-Men ini punya style yang beda lagi, bisa bikin penonton ngga berkedip dalam waktu yang lama. Saya pribadi sih speechless dengan X-Men, terhibur dan tercengang. Kompor gas kalo kata Om Indro. 9 of 10!

warcraft
Warcraft (2016)

Terakhir, Warcraft. Calon film sekuel yang bakal mengguncang nantinya. Warcraft pertama ini bisa dibilang sukses mengawali rangkaian Warcraft berikutnya. Setting ceritanya sudah settle untuk maju ke sekuel berikutnya. Mirip-mirip… itu tuh… The Lord of The Rings… Atau The Hobbit. Kelebihannya Warcraft ada di karakter Orc-nya kereeen!! CGI terkeren sejauh ini. Tadinya sekilas mirip-mirip Avatar… tapi ini lebih “dramatis” efek grafisnya. Game banget lah. Kalo saya sih… kasih skor 8 of 10.

Sebenarnya ada satu lagi.. tapi sampe tulisan ini dibuat, filmnya belum nongol.. Kura-kura Ninja!! πŸ˜€ πŸ˜€

Masjid Diary – File 002 : Salaman

Bersalaman setelah shalat, masalah “ngga penting” ini sempat diperdebatkan secara serius di media sosial dan beberapa forum online. Yaela… buang-buang energi. Sampai-sampai muncullah kubu garis keras antara pro dan kontra.

Saya mendukung yang mana? Kalo misalnya gara-gara masalah ini sampe muncul perpecahan di masjid, lebih baik saya ngga ke masjid.

Trus, yang mana yang saya amalkan?

Cerita dulu yak…. Dulu, waktu kecil… saya – jujur – cuma ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan di sebuah masjid. Karena banyak yang salaman setelah shalat, saya pun ikut ritual itu.

Setelah pindah, belajar, dapat ilmu, akhirnya mulai paham kalau bersalaman itu bukan bagian dari shalat, dan bukan bagian dari “hal-hal yang disunnahkan setelah melakukan shalat”. Setelah shalat bukankah kita sangat dianjurkan untuk melakukan dzikir dan do’a?

Ada sebuah kasus, dulu… saya pernah sholat di sebuah musholla, di situ ada satu orang yang sudah sholat duluan. Saya bermakmum kepada orang itu. Setelah dia salam, saya berdiri melengkapi raka’at karena saya tadi masbuk. Setelah saya salam, saya mencoba mencolek dia mengajak bersalaman. Ternyata dia sedang khusyuk berdoa! Glek!… Sumpah… ngga enak banget rasanya.

Dan… kejadian itu pun terulang seolah-olah menjadi karma buat saya. Kali ini giliran saya yang “diganggu” oleh orang yang ingin bersalaman setelah shalat. Tapi posisi saya waktu itu bukan sedang berdoa, tapi masih baca tahiyat! Kebetulan imamnya agak cepat tahiyat akhirnya (atau saya yang kelamaan ya?), jadi saya agak telat mengucapkan salam. Sementara makmum di kiri kanan saya sudah salam, dan langsung menyodorkan tangannya… padahal jelas-jelas posisi saya masih duduk tahiyat akhir dengan telunjuk masih terjulur ke depan. πŸ˜€

Jadi… yaaa gitu deh. Sampai sekarang, sikap saya adalah… setelah shalat langsung dzikir, sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kalopun ada yang minta bersalaman, tentulah ngga ditolak. Cuman… memang saya pernah dengar/baca, ada orang yang terang-terangan menolak bersalaman setelah shalat. Wallahu a’lam… no comment-lah untuk kasus yang ini πŸ™‚ Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.

Justru saya punya waktu khusus untuk bersalaman lebih leluasa, misalnya… pada saat berpapasan masuk masjid, pada saat berdiri merapatkan shaf, pada saat selesai dzikir/doa/shalat sunat dan berpapasan dengan jamaah lain, dan masih banyak waktu lain di luar shalat dimana kita bisa bersalaman justru denganΒ  lebih ikhlas, lebih bebas saling lempar senyum, dan saling bertanya kabar. Ngga mungkin kan kita melakukan itu pada saat bersalaman setelah shalat? Hehe πŸ™‚

Wallahu a’lam.