Masjid & Makanan Halal di Hong Kong

Kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Indonesia?”, jawabannya susah, dan ngga bisa tepat jawabannya. Tapi kalau ditanya, “berapa jumlah masjid di Hong Kong sekarang?”… gampang…. jawabnya… enam!!.. Dan yang ketujuh masih dalam tahap konstruksi.

Waktu safar pekan lalu, ahamdulillah kami hanya sempat mengunjungi 4 di antara 6 masjid tersebut.

Masjid Kowloon & Islamic Centre.

Ini merupakan masjid terbesar di Hong Kong (untuk saat ini). Kalo ngga salah terdiri dari 3 atau 4 lantai. Dan jika semua lantai dibuka untuk kegiatan sholat, bisa menampung hingga 5000an jamaah. Lokasinya sangat strategis karena berada di tengah kawasan wisata dan salah satu titik pusat perbelanjaan Tim Sha Tsui, wilayah Kowloon. Sebagai informasi, wilayah Kowloon adalah salah satu tujuan wisata di Hong Kong. Mirip-mirip Orchard-nya Singapura lah.

masjid kowloon
Posisi masjid di Nathan Road, tengah-tengah pusat niaga dan belanja
DSC_2589
Salah satu sudut pusat perbelanjaan di Nathan Road, Kowloon

Alhamdulillah, Jumat lalu, kami dikasih kesempatan untuk melakukan sholat Jumat di sana. Ada sedikit pengalaman menarik di sana. Waktu kami menyetel lokasi di gadget kami untuk wilayah Hong Kong, penunjuk waktu sholat ngasih tau kalo waktu Zhuhur adalah sekitar pukul 12.40an. Bergegaslah kami sekitar jam 11 merapat ke masjid, biar masih bisa dapat tempat duduk yang nyaman. Ternyata masih sepi.

Waktu itu saya lihat papan informasi di bagian lobi, katanya Khutbah Jumat dimulai pk 13.10. Wah… masih lama dong.. 2jam lagi. Trus, dari tangga dekat lobi, turunlah seorang jamaah perawakan timur tengah yang ngasih info kalo area yang kami masuki adalah untuk laki-laki, dan area tangga yang satunya (sebelah selatan) untuk wanita, soalnya dia ngelihat istri saya juga ikut masuk ke area laki-laki. 😀

Habis itu, tanpa ditanya, dia langsung ngasih tau kalo di sepanjang jalan di depan masjid (Nathan Road) ke arah selatan, sebelah kiri, bisa banyak ditemui makanan halal. Kebetulan nih.. sambil nunggu waktu Jumat, kami ngisi perut dulu.

Sekitar pk 12.40 kami balik ke masjid…. ternyata sudah mulai rame! Dan sudah terdengar ada yang ceramah. “Khutbahnya udah mulai… yah ketinggalan deh” Abis wudhu, langsung naik ke lantai 3 (lantai utama), cari shaf sebisa mungkin di depan, tapi hanya bisa dapat shaf 6 atau 7. Hampir seluruh jamaah didominasi oleh perawakan India, Pakistan, atau Bangladesh. Tapi… dari “khutbah” yang saya dengar bukan dalam bahasa Urdu, tapi bahasa India dan bahasa Inggris, kesimpulan saya jamaahnya kebanyakan dari India.

Dalam hati saya membatin, “katanya khutbah mulai jam 13.10… kok ini udah mulai.. gimana sih?”

Tiba-tiba begitu jam 13.10, “khutbah” selesai, dan muadzin maju. Tapi bukan iqomah… malah adzan!  Lho…. kok khutbah dulu baru adzan??

Setelah adzan, saya tambah bingung lagi, karena orang-orang pada berdiri… shalat sunnah… 4 rakaat.

Setelah jamaah mulai “reda”, ada orang lain lagi naik ke mimbar, baca ceramah lagi…. Oalaaa… ini khutbah Jumat benerannya. Full bahasa Arab. Singkat, hanya 4-5 menit, pake jeda antara khutbah pertama dan kedua, dan diakhiri dengan doa. Jadi.. yang pertama tadi itu bukan khutbah Jumat, tapi ceramah biasa. Setelah khutbah Jumat yang asli ini selesai, barulah dimulai shalat Jumatnya. 😀

Setelah shalat Jumat, ada kejadian menarik lagi. Habis dzikir dan berdoa, orang-orang ngga bergegas pergi, tapi hampir semua jamaah melakukan shalat sunnat 2 rakaat. Setelah selesai 2 rakaat, mereka berdiri lagi shalat sunnat 2 rakaat. Abis itu… sholat lagi 2 rakaat. Saya kan heran ya? Trus saya nengok ke belakang… satu per satu shaf belakang mulai bubar, tapi shaf di depannya masih shalat sunnat 2 rakaat.

Ternyata, orang-orang di shaf terdepan ngga mau keluar lebih dulu sambil melewati shaf-shaf di belakangnya. Mereka menunggu shaf di belakang bubar duluan. Satu per satu shaf membubarkan diri dimulai dari shaf belakang, sementara shaf-shaf di depannya menunggu sambil mengerjakan shalat sunnat 2 rakaat!! Masya Allah! Mereka ngga mau melangkahi saudara-saudaranya yang sedang duduk maupun yang lagi shalat. Kalo di Indonesia kan, ada celah dikit… kabuurr. 🙂

DSC_2384
Setelah Jumatan, halaman masjid menjadi sangat ramai… Cuman waktu itu saya ngga sempat foto-foto karena si kecil Baihaqi sedang rewel tingkat tinggi, ngantuk.

Hari berikutnya, saya kembali ke masjid ini untuk sholat Maghrib, dilajutkan dengan menonton Symphony of Light (laser show) di semenanjung Kowloon, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari masjid 🙂

DSC_2607
Suasana ba’da Magrib di masjid Kowloon

Masjid Ammar & Osman Ramju Sadick Islamic Centre

Biasa disebut masjid Wan Chai, soalnya lokasinya berada di tengah-tengah kawasan Wan Chai. Kalau Kowloon adalah pusat wisata belanja, Wan Chai ngga jauh beda, tapi di Wan Chai juga banyak pusat-pusat niaga, perkantoran, pemerintahan, sekolah, dll, termasuk stadion olahraga.

DSC_2540

Di Masjid Kownloon, kalau kita mau makan kita harus nyari di sekitar masjid, tapi di Masjid Wan Chai, ada kantin khusus makanan halal di lantai 5. Menunya Chinese Food, dan yang menjadi favorit adalah Dim Sum dan aneka gorengannya.

DSC_2542
Abaikan Bon Cabenya… itu bekal khusus, dibawa langsung dari tanah air 😀

Selama di Hong Kong, kami sampai 3 kali bersantap di sini… soalnya dekat hotel sih… hanya 5 menit jalan kaki.

Kapasitas masjid ini ngga sebesar masjid Kowloon. Mungkin hanya sekitar 1000an jamaah maksimal, kalau semua lantai dimanfaatkan. Lantai 1 adalah lobi, lantai 2 tempat wudhu pria, area bermain anak, sama ruang sekolah atau semacam TPA buat anak-anak. Lantai 3 area masjid buat pria, lantai 4 area masjid wanita, lantai 5 kantin. Setelah itu saya ngga tau lagi 🙂

DSC_2517
Penampakan di dalam Masjid Ammar di Wan Chai

Kalau di masjid Kowloon banyak ras Asia Selatannya, di sini berimbang antara Asia Selatan, Timur Tengah, termasuk Turki. Ras Tiongkok dan Melayu bisa dihitung jari. Itu menurut pengamatan saya selama saya ikut shalat di sana.

+++

Masjid Ibrahim

Ini masjid ketiga yang kami kunjungi. Setelah setengah hari menghabiskan waktu di Museum Science & Art Hong Kong, kami sedikit berkelana untuk mencapai masjid ini. Sebenarnya Masjid Kowloon lebih dekat posisinya dari museum, tapi saya penasaran dan pengen coba di masjid lain.

masjid ibrahim

Ternyata agak di luar dugaan. Saya ngga sempat foto, jadi hanya ngambil dari google. Masjid ini posisinya sedikit berada di “pinggiran” keramaian. Tapi dekat dengan area pemukiman, flat (apartemen). Dan sepertinya di pemukiman ini banyak dihuni oleh warga muslim dari Asia Selatan maupun Timur Tengah. Makanya mereka memanfaatkan sebuah lahan minimalis dengan bangunan seadanya untuk dijadikan tempat ibadah.

Bangunannya sendiri lebih mirip bangunan darurat atau sementara. Walaupun demikian, suasana di dalam sangat sejuk. Waktu kami mampir sholat, di sana sedang ada kegiatan ngaji untuk anak-anak, persis kayak di Indonesia, anak-anak pada berisik, sementara ustadznya sibuk mendengarkan salah satu setoran hapalan Al Qur’an salah satu anak. Surah yang dibacakan bukan dari juz ‘Amma, sepertinya dari salah satu surah di juz 28 atau 29. Saya juga ngga hapal… 😀

2017-04-21_232410
Kawasan hunian di sekitar Masjid Ibrahim

+++

Masjid Jamia (Jamia Mosque)

Masjid ini sedikit unik. Masjid Jamia adalah masjid tertua di Hong Kong. Bangunannya memang sudah monumental, dan selain dipakai beribadah, juga menjadi tujuan wisata serta dimanfaatkan untuk dakwah oleh para imam dan pengurus di sana.

DSC_2726
Masjid Jamia, Hong Kong
DSC_2714
Prasasti pendirian masjid
DSC_2728
Lokasi masjid dikelilingi gedung-gedung tinggi

Sekedar informasi, sebaran penganut keyakinan dan agama di Hong Kong cukup bervariasi. 3 teratas diduduki oleh Buddhisme (kadang dicampur Taoisme dan Konfusianisme), kemudian Kristen (Katolik Roma & Protestan), dan non-agama, baik itu atheisme maupun agnostik. Muslim termasuk minoritas, bareng sama Hindu, Yahudi, Sikh, dll. Salah satu dakwah yang mereka gencarkan di sana adalah dakwah tauhid dan mengenalkan sosok Rasulullah Muhammad s.a.w.

DSC_2724
Salah satu buku yang diterbitkan oleh lembaga dakwah di Hong Kong. Buku ini ditulis dalam berbagai bahasa, dan dibagikan secara gratis. Buku-buku mengenal Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Al Ahad) juga banyak.

Sewaktu kami tiba di sana, salah satu imam sedang melayani turis dan memberi penjelasan kepada mereka. Turisnya sepertinya dari wilayah Hong Kong juga, atau daratan Tiongkok dan sekitarnya, soalnya mereka berdisuksi seru pakai bahasa Mandarin (atau bahasa Kanton??) wallahu a’lam.

DSC_2721
Pak Imam (peci putih) sedang memberi penjelasan kepada pengunjung

Setelah shalat, saya jalan-jalan di sekitar masjid. Tempatnya nyaman, teduh, di tengah-tengah kerumunan gedung pencakar langit. Ada beberapa rumah sederhana di sekitar masjid, yang dihuni oleh penjaga dan imam. 2 anak berparas Timur Tengah terlihat bolak-balik dari salah satu rumah menuju ke masjid. Di masjid juga ada air minum gratis. Saya sempatkan mengisi botol kosong di situ. Oiya.. air minum di Hong Kong cukup mahal sodara-sodara. Kalo dirupiahkan, sebotol air minum kemasan 500mL harganya bisa 35-40ribuan. Sakit hati ngga?.. 😀 😀

Alhamdulillah semua masjid di sana menyediakan air minum gratis buat para jamaah dan pengunjungnya, termasuk masjid Kowloon, masjid Wan Chai, dan masjid Ibrahim.

DSC_2740
Pak Imam yang tidak bisa saya sebutkan namanya… karena ngga nanya 😀 Dia buru-buru mau jawab panggilan telpon.
DSC_2745
Di dekat gerbang masjid ada banner pesan tauhid ini. Allahu Akbar

+++

Masjid Yang Lain

Ada 2 masjid lagi yang ngga sempat kami kunjungi. Yang satu Masjid Stanley, di area penjara di bagian selatan. Cukup jauh jaraknya. Satu lagi masjid Cape Collision. Saya sebenarnya penasaran dengan masjid Cape Collision ini karena posisinya berada di atas bukit, terpencil dan dikelilingi pemakaman muslim. Di area situ juga ada pemakaman pahlawan (kayak taman makam pahlawan), rumah kremasi, dan pemakaman Hindu kalo ngga salah. Cuma waktu itu ngga keburu waktunya karena ngejar jadwal shuttle bus ke bandara.

+++

Musholla

Yang namanya Musholla, kalo dalam pengertian kita (orang Indonesia) adalah tempat sholat yang relatif kecil dan merupakan bagian khusus dari sebuah gedung atau bangunan. Padahal secara bahasa musholla itu ya masjid juga… tempat untuk sholat. 😀

Musholla memang susah ditemui di Hong Kong, kecuali di tempat umum yang sangat besar atau tersohor.

Yang pertama, di bandara Internasional Hong Kong. Bandara segede itu, hanya punya 1 ruang musholla kecil, kapasitas kira-kira bisa jamaah sekitar 20an orang lah. Lokasinya ada di Gate 42. Jumlah gate di bandara Hong Kong lebih dari 100 gate, hampir 200. Dan untuk mencapai musholla itu, saya harus naik kereta khusus. Bisa sih jalan, tapi bisa 10 menit jalannya.

DSC_2970
Gede banget ini bandara….. 😦 😦

Yang kedua, di Disneyland Park. Lokasinya ada di belakang restoran halal Explorer Club, tepatnya di Guest Service – Mystic Point Area.. di situ ada Smoking Area, Toilet, ATM, Drinking Fountain, Public Phone, sama yaaa musholla itu… Cuma yang musholla ngga ada papan namanya. 😀 😀

This slideshow requires JavaScript.

+++

Intinya selama berada di Hong Kong beberapa hari kemarin, kami ngga ada masalah dengan menemukan tempat shalat di luar hotel. Memang sudah terencana, dengan batuan internet, google map, dan beberapa aplikasi pembantu seperti rute transportasi di sana.

 

Makanan Halal

Masalah makanan halal juga sedikit bikin “capek” karena relatif agak susah… hanya bisa diperoleh di daerah-daerah tertentu. Fast food ternama memang ada seperti ayam krispi yang terkenal itu (M*D, K*C).. trus ada juga Burger K*ng, Pizza Ex*ress, dll… tapi ngga ada jaminan dan sertifikasi halalnya.

Bahkan kami sempat lewati salah satu “warung” yang pake papan nama tulisan arab. Tadinya mau mampir di sana, ternyata setelah di cek, itu adalah bar ala Lebanon. Tentu saja banyak alkohol bertebaran di dalamnya 😀

Oiya… makanan di Hong Kong harganya mahal-mahal. Ini adalah beberapa tempat makan halal yang sempat kami cicipi. :

  1. Masjid Ammar lantai 5. Harga standar.. ngga mahal kalo ukuran Hong Kong (tapi untuk Indonesia relatif lebih mahal). Banyak pilihan makanan. Dim sum-nya sangat direkomendasikan. Untuk anak-anak, es Milo adalah minuman favorit.
  2. Hung Chinese Restaurant – Halal Food. Lokasinya ada di lantai dasar gedung Chungking Mansions, sekitar 150m dari masjid Kowloon. Enak-enak makanannya… terutama bihun sapi lada hitamnya. Slurp.
  3. Istanbul Kebab, Turkish Diner. Ini yang paling top… pelayanannya keren. Mas-masnya ramaah banget. Makanannya enak. Harga worthed laah.
    Kami juga ngga sengaja ketemu tempat makan ini. Tadinya mau cari Resto Al Maidah di salah satu gedung pertokoan di dekat masjid Kowloon. Eh.. tiba-tiba nyasar ke resto Turki ini. Yaa udahlah.. sama-sama halal. 😀

    DSC_2582
    Waktu mas-masnya bilang “this is the kecap”, saya bingung… kenapa pizza pake kecap?? Ternyata kecap = saos tomat. 😀
  4. Warung Chandra. Iya… namanya Warung Chandra, posisi di samping gedung kantor Konsulat Jenderal Indonesia. Di sekitar situ juga ada Bank Mandiri dan BNI (siapa tau mau tarik tunai). Ada juga resto Indo yang lain, tapi kami ngga sempat ke sana. Di Warung Chandar ini ngga cuma makanan ala Indonesia, tapi snack dan minuman-minuman Indonesia juga dijual di sini… mulai dari susu Ultra, Kratingdaeng, Larutan Penyegar, sampai Kiranti. 😀 😀

    DSC_2769
    Rak jajanan dan minuman di Warung Chandra
  5. Di Disneyland Park ada 2 tempat makanan halal: Explorer’s Club sama Tahitian Resto, tapi waktu kami ke sana Tahitian Resto lagi tutup. Menu di Explorer’s Club ada menu Indonesia, India, sama Chinese Food kalo ga salah.
  6. Popeye’s Fried Chicken di Bandara Internasional Hong Kong. Satu-satunya tempat makan halal di bandara. Lokasinya di food court, ngga jauh dari M*Don*lds.
  7. Makanan paling murah adalah nasi bungkus yang dijual sama seorang wanita Indonesia di “emperan” masjid Kowloon. Menunya macam-macam… ayam balado, nasi uduk, ayam penyet, dll. Di trotoar depan masjid Kowloon juga ada laki-laki yang suka nawarin kebab.

Kapan-kapan lah kalo ada waktu, saya nulis lebih lengkap tentang pengalaman berburu makanan halal di Hong Kong yang lebih lengkap lagi.

Fiuh….

Semoga terhibur 😀

-mohon maaf kalo ada typo-

Advertisements

Multilevel Pahala

Ada sebuah kisah… Kisah ini dinukil dari hadist Muslim No. 3509 (versi Syarh Shahih Muslim No. 1893)

+++

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sambil berkata,
"Wahai Rasulullah, jalan kami telah terputus karena hewan tungganganku telah mati. Oleh karena itu, bawalah saya dengan hewan tunggangan lain".

Laki-laki ini ingin meminta bantuan kepada Rasulullah untuk diberi hewan tunggangan. Namun Rasulullah menjawab,
"Saya tidak memiliki"

Tiba-tiba ada seorang laki-laki lain yang mendengar dan berkata,
"Wahai Rasulullah… saya dapat menunjukkan seseorang yang dapat membawanya"

Maka beliau – Rasulullah bersabda,
"Barang siapa dapat MENUNJUKKAN SUATU KEBAIKAN, maka dia akan mendapatkan pahala seperti ORANG YANG MELAKUKANNYA"

+++

Masya Allah… sungguh besar rahmat Allah SWT.

Sadar atau tidak, kita sangat sering menyaksikan fenomena ini, bahkan kita sendiri mungkin pernah mengalaminya.

Ada saudara yang kesulitan dalam finansial, kita mungkin merasa belum mampu menolongnya, tapi kita memberitahukannya kepada saudara lain sehingga ada yang bisa membantunya. Pahala orang yang membantunya itu juga sampai ke kita, sebagai orang yang MENUNJUKKAN SUATU KEBAIKAN.

Ada rekan yang kesulitan dalam belajar, dan kita tidak bisa mengajarinya, tapi kita membawanya bertemu atau mengenalkannya dengan rekan lain yang lebih mampu. Selama mereka dalam proses belajar, insya Allah pahala kebaikannya juga terus mengalir kepada kita. Apalagi jika ilmunya itu digunakan untuk hal-hal yang  bermanfaat. Masya Allah.

Yang cukup sering terjadi, ada seseorang yang sedang mengalami musibah, misalnya sakit, butuh darah misalnya… dan belum tentu kita bisa membantunya. Apa yang kita lakukan? Kita menyebarluaskan (broadcast) informasi itu, sehingga ada orang yang membacanya dan tergerak untuk membantunya. Dan pahala kebaikannya juga kita sampai ke kita.

Jadi.. dengan melihat begitu luasnya rahmat dan kasih sayang Allah SWT, alasan apa lagi yang bisa kita berikan untuk tidak berbuat baik, minimal menyebarkan kebaikan.

Bahkan… menyebarkan pelajaran ini pun, jika ada yang mengamalkannya.. pahalanya juga akan mengalir ke kita.

Sudah siap berbuat baik hari ini? Saatnya panen pahala. Allahu Akbar!

 

Wallahu a’lam.

note:
Hadits terkait lainnya dengan pelajaran di atas:
Abu Daud : 4464 (shahih)
At Tirmidzi : 2595 (shahih)
Ahmad : 16465
Ahmad : 21307
Ahmad : 21319

Mencari Guru

Berguru agama yang paling utama adalah langsung dari sang ‘alim (orang yang berilmu). Kumpulan orang ‘alim disebut ulama, a.k.a ulama adalah bentuk jamak dari ‘alim. Istilah ulama ini sedikit mengalami pergeseran makna di sini (Indonesia)… ulama kadang merujuk kepada satu orang tertentu.

Ciri ulama, tentu saja mempunyai tingkatan ilmu yang tinggi DAN mempunyai tingkatan taqwa yang juga tinggi. Ilmunya tidak hanya khusus ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu lain yang menunjang ilmu agama tersebut, salah satunya ilmu bahasa Arab. Jangankan di Indonesia, di Arab sendiri bahasa Arab itu masih harus dipelajari secara khusus untuk bisa memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, termasuk literatur-literatur lain. Di antara ciri ketaqwaan yang sepatutnya ditunjukkan oleh para ‘alim antara lain adalah tawadhu’, tidak sombong, rendah diri, dan bijaksana menyikapi sesuatu masalah.

Ada satu gelar atau sebutan lain yang sering kita dengar, yaitu ustadz. Ustadz, secara bahasa adalah orang yang mengajar – apapun itu – baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu lain, misalnya ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu biologi, dll, semua disebut ustadz. Di Arab sana (mohon dikoreksi), ustadz yang mengajar ilmu agama punya sebutan khusus, yaitu syaikh. Sementara di Indonesia, ustadz justru mejadi sebutan khusus untuk pengajar ilmu agama. Pengajar ilmu lain diberi gelar guru. Ustadz, tugas atau pekerjaannya adalah mengajarkan sesuai dengan ilmu yang dia kuasai atau yang pernah dia pelajari. Jadi, ada transfer ilmu antara ustadz dengan yang sedang belajar.

Ada lagi sebutan lain yang sering kita dengar… da’i. Da’i adalah orang yang mengajak – khususnya mengajak kepada kebaikan. Mengajak untuk beribadah, mengajak untuk mengerjakan amal shaleh, mengajak untuk menjauhi perbuatan maksiat, dan ajakan-ajakan lainnya sesuai tuntunan agama. Motedenya disebut da’wah (dakwah).

Satu lagi…. ada yang namanya muballigh. Muballigh adalah orang yang menyampaikan, baik itu menyampaikan ilmu maupun hal-hal lain yang ada di benak orang tersebut. Metode atau prosesnya disebut tabligh.

Di antara keempat sebutan di atas, hanya ulama (‘alim) yang boleh didengarkan pendapatnya ketika menyampaikan sebuah fatwa… selain itu tidak boleh. Kecuali, ada di antara yang selain ulama itu yang menyampaikan fatwa dengan mengutip perkataan dari ulama. Itu boleh. Misalnya ustadz A berkata, “Perkara ini hukumnya adalah halal menurut pendapat ulama B”. Itu boleh didengarkan. Tapi kalo ada ustadz yang bekata, “Menurut saya, perkara itu haram”. Yang itu jangan diserap dulu ilmunya. Cari konfirmasi dari ulama, atau, tanyakan langsung kepada ustadznya, apa dasarnya ustadz tersebut berkata seperti itu.

***

Nah… kira-kira seperti itu yang pernah saya dengar dari sebuah kajian beberapa waktu lalu.

Terkait masalah itu, ada keinginan saya untuk mencari ‘alim untuk bisa saya jadikan salah satu guru atau sumber ilmu, terutama ilmu agama. Dan sebagai langkah awal, tentu saja saya mencari beberapa rekomendasi di internet (harusnya ngga boleh lho! Open-mouthed smile )

Akhirnya muncullah beberapa nama, dengan berbagai aliran dan tipe karakteristik yang berbeda-beda. Konon mereka ini sudah diakui sebagai ulama di sebagian besar masyarakat. Akhirnya saya buka satu-satu profil mereka, saya baca tulisan-tulisan mereka, dan ternyata… ada hal yang mengusik saya… sebagian besar dari mereka, entah sadar atau ngga sadar, ada beberapa tulisan yang bersifat adu domba, menghasut secara halus, bahkan cenderung ke arah fitnah.. terutama yang berhubungan dengan perbedaan. Kata ‘alim A, “’allim B itu pendusta”. Kata ‘alim B, ‘’”’alim A itu kalau bicara tidak ada dasarnya”. Bahkan kadang ada jama’ahnya sendiri yang memberi cap yang kurang pantas buat mereka. Lha… Open-mouthed smile 

Walaupun beberapa rekan, teman, dan kerabat saya, kalau saya perhatikan cenderung mendukung atau mengikuti salah satu dari mereka, tapi.. kok saya pribadi kurang sreg ya.  Okelah, kalo kelimuan saya akui tingkatan ilmu mereka tinggi, mereka paham Al-Qur’an lebih dalam dari beberapa yang lain. Ilmu fiqh mereka hebat, bahasa Arab jangan ditanya, rata-rata lulusan sana (Timur Tengah). Tapi begitu melihat akhlak… kok rasanya ngga respect ya. Walaupun itu cuma sekedar tulisan.

***

Dan… setelah berselang beberapa lama… akhirnya ngga sengaja saya menemukan seorang ustadz yang beda dengan yang lain yang pernah saya lihat, namanya Adi Hidayat, Lc, Ma (semoga Allah senantiasa merahmati beliau). Mungkin banyak yang serupa dengan beliau, tapi saya sendiri baru kali ini melihat yang seperti ini. Kelihatan jelas jika ustadz Adi adalah orang yang berilmu, mengamalkan ilmunya, dan satu catatan penting… tawadhu’. Beliau sengaja tidak “eksis” di dunia maya, tapi jama’ahnya banyak yang meng-eksis-kan beliau dengan mengupload video-video kajiannya, maupun menuliskan ulang ilmu-ilmu yang telah beliau sampaikan.

Dari beliau, saya jadi termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi. Untuk sementara buku-buku sudah terkumpul…. tapi masih mulus semua… hiks Crying face

Memborong Buku Lagi

Dulu, sewaktu saya masih SD dan SMP, saya paling rajin ke toko buku. Dalam sebulan, paling sedikit 2 kali saya ke toko buku, hanya untuk membeli Tabloid Fantasi dan Majalah Ananda. Waktu itu Tabloid Fantasi masih baru muncul, dan segmentasi-nya memang untuk anak-anak. Saya paling suka baca rensensi serial TV anak-anak, seperti Ksatria Baja Hitam, Saint Seiya, dll. Sewaktu saya kuliah, rupanya Tabloid Fantasi sudah bergeser menjadi tabloid remaja. Sekarang, kayaknya sudah ngga ada lagi kali ya?

Eniwei…. seperti biasa, weekend kali ini, kami mengunjungi  salah satu toko buku yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Begitu tiba di lokasi, saya, istri, dan anak mulai berpencar…

Istri saya mantap melangkahkan kaki ke bagian resep masakan. Anak saya langsung ke bagian anak-anak. Dan saya menuju bagian agama, saya memang niatnya mau beli buku Iqro’ buat anak saya. Eh, ternyata dalam perjalanan ke rak buku bagian agama Islam, saya kepincut oleh dua buah buku 😀 Buku “Membuat Komik” yang sedang diskon, dan buku “Sejarah Dunia Versi Islam

Alhasil, inilah hasil perburuan kami…

190120131558

Rekor dipegang oleh istri saya yang memborong sekitar 7 atau 8 buku resep… 😀 Anak saya memilih buku “Aku Jago Menggambar Monster”… Sementara buku “Test Potensi Anak” dan Iqro’ sengaja saya yang pilihkan 🙂

Nah… untuk buku “dari puncak Bagdad – Sejarah Dunia Versi Islam”, sengaja saya beli karena sebelumnya saya sudah punya buku “The Greatness of Al-Andalus” yang isinya susah untuk saya mengerti. Beneran… susah… Bahasanya tingkat tinggi. Maklum, yang nulis buku itu adalah salah seorang pemenang Pulitzer Prize, dan diterjemahkan mentah-mentah ke dalam Bahasa Indonesia.

190120131560

Dan sepertinya sih…. memang saya harus baca “Sejarah Dunia Versi Islam” dulu. Walopun sama-sama terjemahan dari bahasa Inggris, tapi buku ini bahasanya lebih “manusiawi” dan lebih mengalir alurnya.

Reviewnya? Nanti aja ya… soalnya saya hanya baca buku kalo ada waktu senggang, terutama weekend. Kayaknya sih bisa butuh waktu sebulan buat selesaiin baca satu buku itu. 😀