Bad Mood Di Pagi Hari

Ini nih yang saya ngga suka dari media sosial, facebook… Pagi-pagi, ada notifikasi seorang kawan yang berkomentar di sebuah status kawannya yang lain. Trus, saya iseng-iseng baca… awalnya cuma iseng, tapi ketagihan karena penasaran.

Ternyata isinya pem-bully-an terhadap satu orang (yang saya ngga kenal sama sekali) yang teguh dengan nyinyir-nya. Luar biasa responsive-nya, sampe saya terbawa suasana… ikutan greget sama itu orang. Duh… kirain cuma si “You Know Who” yang terkenal sebagai “Dewa Nyinyir”,… ternyata banyak juga yang sejenis sama dia. 😦

Saya cuma heran… orang-orang kayak gini gimana cara nikmatin hidupnya?

 

Advertisements

Speechless…

Baru juga saya tulis beberapa waktu lalu… hari ini kejadian lagi Open-mouthed smile. Di sebuah media sosial, dua orang sedang beradu argumen, membahas dua golongan yang sudah lama berseteru. Yaaa… kita sebut saja Pandawa vs Kurawa.

Salah satu orang itu mendukung Pandawa. Dia menuliskan argumen tentang keburukan Kurawa, pokonya semacam pandangan negatif terhadap Kurawa. Tiba-tiba ada kawannya yang merespon, “jangan pikiran negatif gitu bro”.

Tanpa ba-bi-bu, si pendukung Pandawa tersebut langsung memberi label si kawan tersebut dengan sebutan pendungkung Kurawa, hanya gara-gara statement yang ngga sejalan, mengajak untuk tidak berpikiran negatif.

Kalo misalnya saya berada di posisi netral, ngga memilih salah satu di antara keduanya – terlepas mana yang lebih benar, lebih hebat, lebih baik – saya mungkin akan menarik respect saya dari si pendukung Pandawa tersebut, walaupun faktanya menyebutkan Pandawa-lah yang lebih hebat dari Kurawa (Kurawa menang jumlah aja). Tapi sikap arogansi pendukung yang seperti itu yang capek ngeliatnya. Mendukung secara berlebihan itu sangat sah… tapi dengan gampangnya memberi label kepada orang lain? Sok tau bener ya?

2015-09-28_213745

Suka Berarti Mendukung?

Ada fenomena di media sosial di mana orang-orang senang membubuhkan tanda “suka”, “cinta”, “berbagi”, atau apapun itu terhadap pendapat, status, foto, video dan apa saja yang keluar dari akun orang lain. Entah itu asli dari orang yang bersangkutan, atau orang itu sekedar meneruskan status orang lain.

Intinya… ada kecenderungan tanda “like” dan sejenisnya itu berarti semacam dukungan, anggukan, pernyataan setuju, sepaham, sepakat dengan apa yang ada di status/post tersebut.

Ini terlalu subyektif… ciri-ciri pengguna media sosial yang egois.. dan ngga sportif. Hehehe… Setau saya (mohon maaf jika keliru)… salah satu wujud sportifitas adalah mengakui keunggulan atau kehebatan lawan.

Lawan di sini bisa berarti pihak yang tidak sejalan dengan kita… Tidak sejalan bukan berarti bertentangan (berlawanan arah).

Kenapa saya menulis begini? Karena saya beberapa hari ini membaca opini dari pihak-pihak yang bisa dibilang ngga sejalan dengan saya. Dan anehnya… saya suka dengan opini itu. Saya ngga sepenuhnya membenarkan, karena feeling saya bilang ada yang janggal tapi saya ngga tau apa itu… Yang jelas, saya ngga munafik kalo komentar saya akhirnya adalah “this is so damn true”…. alias “bener banget”. Masalahnya… itu berbeda dengan apa yang saya terapkan. Saya tertarik untuk membubuhkan “like” di artikel itu, tapi… konsekuensinya, saya akan dicap sebagai pengikut dan pendukung mereka sepenuhnya. Open-mouthed smile

Padahal yang akan saya “like” kan cuma satu artikel yang memang benar Open-mouthed smile.

Mungkin sama halnya dengan misalnya ada dua aliran politik yang berseberangan. Tokoh politik salah satu kubu mengeluarkan statement yang sifatnya umum, bisa diterima luas, dan banyak yang suka. Nah… bagaimana dengan pendukung kubu politik satunya? Apakah mereka harus jaga sikap dan gengsi untuk ngga mengapresiasi pernyataan tersebut? Ngga gentle! Open-mouthed smile Justru respect akan mengalir pada sikap yang terbuka.

Kita ngga harus mengikuti mereka sepenuhnya mereka yang berbeda jalan dengan kita. Yang saya sayangkan… ada juga beberapa oknum yang mempermainkan akhlak dan bersembunyi di balik akhlak.

Maksudnya gini… dia ngga emosian… tutur katanya halus… tapi menusuk. Open-mouthed smile Mengkritik dan berargumen dengan cara halus. Dia tau, pihak yang disinggungnya sangat sensitif, dan dia memanfaatkan itu. Benar… reaksi pihak yang tersinggung bermacam-macam… ada yang cuek, ada yang merespon secara halus, dan paling banyak adalah membalas dengan emosi. Si oknum – karena emang sudah tau bakal seperti ini – mudah mengendalikan diri, berakting menjadi orang baik dengan akhlak yang sabar, halus, dengan mengharap respect dari luar/pihak ketiga. Akhirnya, pihak/golongan ketiga melihat kehebatan dan kebesaran hati si oknum, dan memandang remeh golongan yang “terbakar” tadi.

Jadi, siapa yang mau kita salahkan?