Teknologi Menjajah Kreatifitas?

Teknologi menjajah kreatifitas? Ini sudah sering banget kita dengar ketika kreatifitas seseorang – khususnya yang sudah hidup di berbagai jaman – tiba-tiba harus terkekang dan ngga berkembang karena perkembangan teknologi.

Beberapa kalangan di sekitar kami dari profesi arsitek dan desainer grafis misalnya, terutama yang udah senior, ide-idenya bisa mengalir dengan deras ketika mereka menyentuhkan pena dan pensilnya di atas secarik kertas. Tapi kreatifitas itu terkikis ketika mereka memegang sebuah digital pen dengan tablet atau padnya. Hilang. Kaku. Buntu.

Padahal teknologi itu ngga bisa ditolak, itulah masa depan, suka ngga suka kita akan hidup dengan teknologi yang terus berakselerasi. Saya ingat banget “warning” dari sekolah anak saya 6 tahun lalu, waktu pertama kali dia masuk SD, di sebuah acara sosialisasi kurikulum buat para orang tua… Ada satu kalimat yang ngga akan pernah saya lupa sampai sekarang…
The Future Is Accelerating!”

Benar. Kalo mau nyaman di masa depan, kencangkan sabuk pengaman, ayo ikut berakselerasi. Awalnya memang ngga nyaman… itu karena pengaruh kelembaman… inersia. Semakin besar massanya, semakin susah bergerak. Semakin nyaman kita dengan teknologi masa lalu, semakin susah kita menerima teknologi masa depan.

Kadang kita melihat kegiatan dan pembelajaran anak-anak sekarang yang kalo dipikir-pikir mungkin berada di batas kemampuan mereka. Beberapa di antara mereka menikmati, beberapa tidak. Padahal sebenarnya ngga ada bedanya dengan jaman dulu waktu kita di usia yang sama. Beberapa teman kita menikmati, beberapa juga tidak. Jadi masalahnya di mana?

Kembali ke kreatifitas yang “terganggu” oleh perkembangan teknologi. Kalo menurut saya sih kreatifitas itu ngga akan hilang atau berkurang, tapi mungkin akan berubah, sehingga hasil karya yang dihasilkan juga akan berbeda.

Mungkin fenomona ini mirip di jaman dulu, waktu orang-orang (para seniman) menuangkan kreativitas mereka di dinding-dinding gua, di pelepah daun, kulit binatang, bebatuan, dan lain-lain. Mungkin mereka juga sempat khawatir ketika kertas mulai ditemukan. Mereka khawatir ngga akan bisa berkreasi seperti sebelumnya. Mereka takut anak-anak cucu mereka ngga akan bisa menghasilkan karya sedahsyat piramida lagi. Dan memang betul… setelah ada kertas, mereka tidak lagi membuat piramida. Mereka justru membuat lebih banyak kreasi luar biasa dan berbagai macam karya yang mengubah kehidupan, budaya, bahkan peradaban mereka. Padahal… teknologi itu cuma sekedar kertas.

Mungkinkah di masa depan budaya dan peradaban manusia akan bergeser? Kenapa ngga? Walaupun teknologi itu cuma sekedar perangkat digital.

Perencanaan & Rekayasa Alam

Dunia teknik tidak akan jauh dari istilah perencanaan (design) dan rekayasa (engineering). Sebut saja teknik apa pun itu, niscaya ada unsur design dan engineeringnya. Engineering dekat kepada sains, karena engineering adalah ilmu terapan dari sains. Sementara di sisi lain, sampai saat ini posisi sains dan agama masih terdapat dua kubu, ada yang menganggap sains dan agama adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa disatukan, dan ada kubu yang memandang bahwa agama dan sains justru saling menguatkan satu sama yang lain. Selama ini, saya lebih banyak bertemu dan membaca karya orang-orang yang berada di kubu kedua. Tidak sedikit dari mereka yang mengakui kebesaran dan kekuasaan Sang Pencipta melalui ilmu sains yang mereka pahami. Saya juga menganut paham kedua, di balik keajaiban sains itu ada sebuah kekuatan yang tidak bisa dirumuskan, hanya bisa diyakini.

pembentukan-tasur

Nah… sebagai seorang engineer (bukan saintist) saya kadang “iri” dengan para ilmuwan karena hal tersebut di atas. Para ilmuwan bisa terus melakukan riset dan penelitian mereka, dan mereka punya peluang lebih banyak untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengakui keagungan-Nya melalui penelitian-penelitian mereka. Taruhlah seorang astronom (ilmuwan benda-benda langit), hanya dengan mengobservasi benda langit mereka bisa melihat kekuasaan Tuhan di situ.

Tapi…. rasa “iri” itu sudah hilang. Kemarin, hati saya terguncang,…. seolah-olah sedang melihat sebuah gedung megah yang indah, kokoh, canggih,… pokoknya luar biasa. Padahal, sebenarnya… obyek yang sedang saya cermati hanyalah sebuah pohon bambu.

Continue reading “Perencanaan & Rekayasa Alam”